Cabai Katokkon, Si Kecil Primadona Baru Beromzet Fantastis

Cabai Katokkon

JAKARTA–Kementerian Pertanian terus menggenjot produksi aneka produk hortikultura. Cabai katokkon, varian cabai baru yang tengah naik daun salah satunya.

Selain rasanya berupa paduan cabai rawit dan cabai keriting, katokkon menawarkan untung menggiurkan.

Adalah Canesia Aisah, Direktur Utama PT Arsy, yang serius mengembangkan katokkon. Digawangi para petani muda lulusan IPB University, PT Arsy mengelola sekitar 30 hektare lahan cabai varietas lokal asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan, itu di daerah Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Total ada 50 orang yang bekerja di perusahaan ini.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto memuji langkah Aisah dan kawan-kawan membudidayakan cabai katokkon.

Ia menyebut ini terobosan milenial. Menurut Prihasto, prospek katokkon bagus, yang ditandai penetrasi pasar yang meluas ke Jabodetabek.

Baca Juga :  Kasus Baru PMK Harian Tercatat Turun 97 Persen

“Tingkat kepedasannya 10 kali lebih pedas dibanding cabai jenis lain. Sudah banyak hotel dan katering di Jabodetabek yang mulai mengonsumsi cabai jenis ini. Budidaya cabai ini sangat menjanjikan, karena ada pasarnya,” kata Prihasto di Cianjur belum lama ini.

Aisah mengungkapkan, dari praktik yang dilakukan perusahaannya, produksi katokkon bisa mencapai 30 ton per hektare.

“Omzet kotor sekitar Rp1,5 miliar per hektare dalam satu semester atau enam bulan. Kalau (omzet) bersih di kisaran Rp800 juta per semester,” ungkap Aisah.

Cabai katokkan telah didaftarkan sebagai landmark dari Sulawesi Selatan. Salah satu yang sudah dilepas pada 2017 adalah varietas Sayang. Ciri khasnya berbentuk bulat tak sempurna, mirip paprika tetapi ukurannya kecil dan gemuk. Bisa dipanen setelah 3 bulan setelah tanam.

Baca Juga :  Produksi Padi Diyakini Kian Meningkat, Penghargaan IRRI Bisa Dipertahankan

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Insanuddin Lingga berharap pembibitan cabai katokkon bisa tersertifikasi dan dikembangkan ke warga. Tujuannya, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Jika cabai ini sudah bisa dikonsumi secara luas dan ditanam oleh seluruh pihak, baik masyarakat atau kelompok tani, maka bukan mustahil menjadi salah satu primadona tanaman cabai. Saya berharap Dirjen Hortikultura mendukung, sehingga program seperti ini meluas, khususnya di Kabupaten Cianjur,” papar Insanuddin. (*/gt)

Komentar Anda