Branding Wisata Indonesia Kalahkan Malaysia dan Thailand

Branding Wisata Indonesia Kalahkan Malaysia dan Thailand
FGD: Kepala Dispar NTB, HL Moh. Faozal, didampingi Plt. Asdep Analisa Data Pasar Pariwisata Nusantara, Kemenpar RI, Sutarjo, memukul gong sebagai tanda dibukanya kegiatan FGD Penyusunan Pengembangan Strategi Pemasaran 10 Destinasi Prioritas, Kamis (3/8). (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Sebagai negara kepulauan, Indonesia tentu saja memiliki daya tarik pariwisata yang mendunia. Hal itu juga ditunjang oleh keindahan alam, adat dan budaya, kuliner, termasuk kerajinan yang sangat beragam. Sehingga tak salah kiranya Indonesia juga fokus menggarap sektor kepariwisataan. Dimana di era kepemimpinan Presiden Jokowi, dimunculkan 10 destinasi prioritas di Indonesia, yang diharapkan akan menyamai Bali, sebagai destinasi wisata dunia yang telah populer.

Termasuk di Provinsi NTB, salah satu destinasinya juga masuk dalam 10 destinasi wisata prioritas yang kini sedang gencar dikembangkan pembangunan sarana dan prasarananya oleh Pemerintah Pusat, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Bahkan untuk itu, sebuah BUMN telah dipercaya menggarap dan mengembangkan KEK Mandalika ini, yakni PT. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC).

“Tentu saja untuk menarik minat kunjungan wisatawan itu tidak cukup hanya melengkapi dan membangun berbagai fasilitas di destinasi saja. Upaya promosi juga harus gencar dilakukan, baik di dalam negeri, maupun keluar nnegeri,” kata Plt. Asisten Deputi Analisa Data Pasar Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata RI, Sutarjo, ketika dijumpai Radar Lombok, di sela Focus Grup Discussion (FGD) Penyusunan Pengembangan Strategi Pemasaran 10 Destinasi Prioritas, di Hotel Lombok Plaza Mataram, Kamis kemarin (3/8).

Menurutnya, untuk melakukan promosi, tentu dibutuhkan branding yang tepat, dan mudah diingat. Dalam hal ini, branding kepariwisataan Indonesia, yaitu “Pesona Indonesia” untuk pemasaran dalam negeri, dan “Wonderful Indonesia” untuk pemasaran luar negeri, ternyata telah menjadi sebuah brand yang sangat kuat. “Bahkan branding equity (kekuatan merek, red) pariwisata Indonesia telah meningkat tinggi, berada di peringkat 47, mengalahkan Trully Malaysia dan Amazing Thailand,” jelas Sutarjo.

Karena branding pariwisata Indonesia ini sudah sangat kuat lanjut Sutarjo, maka prioritas promosi yang dilaksanakan Kemenpar RI sekarang ini juga telah berubah, lebih menekankan pada selling (pemasaran/penjualan), yang dapat langsung membawa tamu atau wisatawan berkunjung ke Indonesia. “Kalau upaya promosi sebelumnya untuk branding sebanyak 50 persen. Maka tahun ini kebijakan itu telah diubah, selling 50 persen, sementara branding tinggal 20 persen,” terang Sutarjo.

Terkait kepariwisataan di NTB, khususnya Pulau Lombok, yang masih menjadi kendala saat ini adalah masih minimnya penerbangan langsung ke NTB, baik itu penerbangan domestik, maupun luar negeri. “Untuk aksesbilitas (penerbangan, red) ini memang telah menjadi agenda nasional. Namun ketika suatu tempat itu telah ditetapkan sebagai daerah prioritas pariwisata, sama seperti Lombok ini, maka semua pihak tentu harus konsentrasi untuk mengembangkan kepariwisataan di daerah tersebut. Termasuk akses penerbangannya,” ujar Sutarjo.

Selain itu, pihak Kemenpar RI juga telah melakukan serangkaian pertemuan dengan pihak maskapai-maskapai penerbangan, baik itu dalam negeri maupun luar negeri, untuk menjalin kerjasama, dengan membuka rute penerbangan baru ke daerah yang telah ditetapkan sebagai daerah prioritas tersebut. “Sama seperti penerbangan langsung Korean Air dari Bandara Incheon, Seoul, Korea Selatan ke Bandara Internasional Lombok (BIL) bila hari, yang walaupun masih melalui mekanisme charter flight (penerbangan sewa). Namun kalau rute baru ini dinilai menguntungkan oleh pihak maskapai Korean Air, tentu kedepan pasti akan dilakukan penerbangan secara reguler,” papar Sutarjo.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Moh. Faozal, dalam pemaparannya di FGD yang dihadiri para pelaku dan asosiasi usaha pariwisata di NTB itu menyampaikan berbagai potensi kepariwisataan yang ada di Lombok dan Sumbawa.

“Pulau Lombok dan Sumbawa ini memiliki potensi kepariwisataan yang sangat kaya. Mulai kedalaman lautnya, dimana terdapat beragam terumbu karang yang indah, beserta faunanya yang cantik dan masih alami. Kemudian pantai berpasir putih di sekeliling pulau, dataran hijau oleh hamparan tanaman petani, hingga puncak Gunung Rinjani di Lombok, dan Gunung Tambora di Sumbawa, semua sangat indah,” tutur Faozal.

Selain itu sambung Faozal, keberadaan kerajaan atau kesultanan baik itu di Lombok maupun Sumbawa di masa lalu, dengan tiga etnis atau suku besar didalamnya, yaitu Suku Sasak, Samawa dan Mbojo, juga mewariskan adat istiadat, serta kebudayaan masyarakat yang sangat unik. Termasuk didalamnya adalah warisan keragaman kerajinan dan kelezatan kulinernya.

“Semua potensi itu menjadi daya dukung yang saling isi mengisi untuk menunjang program kepariwisataan NTB, yang tahun ini ditargetkan bisa mendatangkan 3,5 juta wisatawan. Terdiri dari 2 juta wisatawan nusantara, dan 1,5 juta wisatawan mancanegara,” pungkas Faozal. (gt)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid