Rumah Adat Desa Beleq, Cikal Bakal Warga Sembalun

Rumah Adat Desa Beleq
Rumah Adat Desa Beleq

KONON akhir abad ke 14, yaitu pada masa Kerajaan Selaparang Hindu, Gunung Rinjani meletus hebat, sehingga warga yang berdiam di Sembalun diperintahkan Raja Selaparang agar meninggalkan desanya untuk menghindari bencana. Sebagai masyarakat yang patuh kepada pemimpin, penduduk Sembalun berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman untuk mengungsi.

Ketika kondisi dirasakan sudah aman, kemudian ada tujuh pasang suami isteri yang kembali ke kampung halamannya di Sembalun. Mereka mulai menata kehidupan dan membangun kembali rumah yang telah porak poranda akibat letusan Gunung Rinjani, yang kemudian lokasi pembangunan tujuh rumah itu dinamakan Desa Beleq, yang berarti Desa Besar, atau Desa Induk.

BACA JUGA :  Nempel di Dikbud, Seni Budaya Lobar tak Terurus

Tujuh pasang suami isteri inilah yang kemudian dipercaya sebagai nenek moyang warga Sembalun. Sehingga untuk menghormati keberadaan mereka, maka hanya tujuh kepala keluarga saja yang bisa mendiami kawasan desa adat Desa Beleq yang berdiri di atas lahan seluas 36 are itu.

“Penghuni Desa Beleq tidak boleh lebih dari tujuh kepala keluarga. Kalau ada dari anak keturunannya yang hendak membangun rumah sendiri, maka mereka harus membangun diluar kawasan. Ini sudah tradisi nenek moyang,” kata Mustaal, Ketua Kelompok Pegiat Ekowisata Gunung Rinjani, belum lama ini.

Keunikan arsitektur rumah dan bangunan tradisional suku Sasak-Lombok yang terdapat di Desa Beleq sebagai desa tertua di Sembalun, ditambah kesibukan menenun kain tradisional yang dilakukan ibu-ibu ditempat tersebut, kini ramai menjadi tujuan kedatangan para wisatawan, baik wisatawan domestic maupun mancanegara.

Uniknya lagi, proses pembuatan kain tenun dilakukan secara manual, mulai dari memintal kapas menjadi benang, mewarnai benang dengan bahan alam, untuk kemudian di tenun dengan cara tradisional, sehingga menghasilkan kualitas kain tenun yang bermutu tinggi.

“Untuk mendapatkan kain tenun Sembalun, wisatawan bisa membayar dengan harga mulai dari Rp.150 ribu hingga Rp.500 ribu, tergantung ukuran, motif dan bahan yang digunakan,” jelas Mustaal.

Selain mendapatkan suguhan suasana kesederhanaan khas masyarakat pedesaan, dengan topografi desa berbukit-bukit sekitar Desa Beleq, pengunjung juga bisa melakukan olahraga soft tracking. Wisatawan akan diajak melintasi rumpunrumpun bambu yang tertata indahnya di sekitar desa, untuk kemudian mendaki Gunung Selong dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di belakang desa.

Dari puncak Gunung Selong, pengunjung dapat menikmati pemandangan deretan rumah adat Desa Beleq, dan juga hamparan sawah hijau luas. Ketika cuaca sedang cerah, wisatawan juga bisa melihat panorama puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter yang kokoh dan megah.

BACA JUGA :  Berdo’a dan Nikmati Panorama Alam yang Indah

Untuk memperpanjang waktu kunjungan wisatawan, tentu sangat diharapkan sekitar Desa Beleq ini ada dibangun home stay, atau restaurant dengan menu-menu kuliner tradisional, serta art shop untuk penjualan souvenir. Kalau terwujud, diyakini wisatawan yang selama ini datang ke Sembalun dengan tujuan mendaki ke Gunung Rinjani, bisa diperpanjang waktu kunjungannya dengan menikmati wisata sejarah di Desa Beleq. (gt)