Banyak Potensi Desa Dibiarkan Mubazir

wisata lombok
BELUM OPTIMAL : Indahnya wisata arung jeram (river tubing) di desa Pringgasela bisa meningkatkan PADes jika bisa dikelola dengan baik. (DPMPD FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil (DPMPD-CAPIL), H Rusman menilai, banyak potensi yang dimiliki oleh desa belum dikelola dengan baik. Semua potensi tersebut akhirnya dibiarkan mubazir tanpa bisa memberikan kontribusi besar bagi desa.

Menurut Rusman, untuk membantu pemerintah desa menemukan potensi yang ada, pihaknya telah membentuk Tim Jelajah Desa. Tim tersebut setiap ada waktu di akhir pekan selalu berkeliling menggali potensi sebuah desa. "Banyak potensi desa yang kita temukan, tapi belum dikelola maksimal," ujarnya kepada Radar Lombok, Jumat kemarin (3/3).

[postingan number=3 tag=”wisata”]

Dikatakan, untuk bisa mengelola semua potensi di desa dengan baik, keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi keharusan. Hal itulah yang saat ini sedang diupayakan, agar semua desa memiliki BUMDes. "Nanti BUMDes yang kelola potensi itu, untungnya bisa masuk jadi PADes," kata Rusman.

Para kepala desa harus belajar dari BUMDes yang sudah hidup di NTB. Diantaranya potensi pariwisata, pasar desa, PAMDes, pertokoan yang dikelola BUMDes Calabai Mandiri. Ada juga potensi wisata, SPP, pelayanan jasa, pengelolaan sampah dan pertokoan yang dikelola BUMDes Lentera Lendang Nangka. "BUMDes Sukarara juga sudah bisa kelola pelayanan jasa, SPP dan pertokoan. Itu bagus, harus bisa dicontoh," ujar Rusman.

 Berbagai potensi lainnya juga harus bisa dikembangkan oleh BUMDes, seperti rumah apung di Labuhan Lalar yang sangat potensi dikembangkan menjadi tujuan wisata. Potensi embung dan air terjun di Desa Pernek Sumbawa dan lain sebagainya.

Tim Jelajah Desa, lanjut Rusman, telah mengelilingi banyak desa untuk mengungkap potensi yang ada. Namun karena jumlah desa sangat banyak mencapai 995 desa, baru beberapa desa yang sudah dijelajah. "Kalau kami, libur dan tidak libur sama saja. Tetap kerja keliling desa," katanya.

Belum lama ini, Tim Jelajah Desa mengunjungi Desa Pringgasela Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur. Disana ditemukan sebuah potensi jika dikelola dengan baik akan bisa mendatangkan PADes. Disana ada wisata arung jeram (river tubing -red).

Arung jeram mencrit memiliki potensi luar biasa. Apalagi jika bisa ditambah dengan spot dan penataan lintasan. Rute yang ada juga tidak berbahaya namun menegangkan dan asyik. Pengunjung akan dilengkapi dengan helm, pengaman lutut dan siku, serta pelampung. "Ini potensi luar biasa, pemandangannya eksotis. Arung jeram juga sensasinya begitu hebat tapi tetap aman," tuturnya.

Potensi lainnya yang ditemukan Tim Jelajah Desa yaitu masjid kuno di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. "Saya baru menyadari adanya masjid kuno selain di wilayah Lombok Utara. Masjid ini tidak digunakan lagi tapi tetap dirawat kok," ujar Rusman.

Masjid kuno tersebut sebenarnya bisa menjadi objek wisata religi favorit jika dikelola dengan baik. Hutan kecil yang mengelilingi masjid tersebut memberikan suasana teduh tanpa menghilangkan aura mistis. Masjid tersebut sangat mendukung sebagai objek wisata religi, karena tidak jauh dari sana ada beberapa makam tertua seperti makam Sempane.

Selanjutnya di Desa Aik Bual, juga memiliki potensi yang bukan bualan semata. Mengingat di desa tersebut terdapat embung desa yang separuhnya dikelilingi hutan desa. Disana, terdapat Air Terjun Ngeredep dan Gua Suling. "Embung desa cocok untuk budidaya ikan dan tempat renang. Hutannya bisa menjadi tempat camping, atau buat rumah pohon," sarannya.

Menurut Rusman, menguak potensi 995 desa di NTB tak kan pernah habis-habisnya. Potensi di Sumbawa juga sangat besar, seperti Air Terjun Teba Tewa di Desa Pernek, Kecamatan Moyohulu Kabupaten Sumbawa. "Bayangkan jika semua desa memiliki objek wisata, pengangguran juga bisa dikurangi. Makanya penting BUMDes itu agar maksimal," tutup Rusman.

Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi juga ingin melihat desa-desa di NTB bisa mandiri. Hal itu akan bisa terwujud apabila BUMDes dibentuk dan dikembangkan dengan baik. Menurut gubernur, potensi semua desa pada dasarnya tidak jauh berbeda. Tinggal bagaimana Sumber Daya Manusia (SDM) yanga da dioptimalkan. “Seperti di Lendang Nangka, sangat bagus  BUMDes-nya, harus dijadikan contoh oleh desa  yang lain,” ujar gubernur.

Gubernur ingin melihat Desa Lendang Nangka mampu mengambil peluang pengembangan ekowisata. Untuk mewujudkan hal itu, diperlukan keseriusan aparat desa dan masyarakat  dalam  menyiapkan kawasan tersebut sebagai objek wisata. Persiapan yang dimaksud seperti penyediaan tempat ibadah, toilet, kuliner dan lainnya. “Tidak perlu mewah atau mahal, yang penting bersih dan rapi. Ketika persiapan sudah matang, pemerintah Provinsi dapat mempromosikan desa tersebut secara resmi,” ujarnya.

Apabila Desa Lendang Nangka mampu mewujudkan itu, wisata budaya di Pulau Lombok tidak hanya Desa Sade. Apalagi Lendang Nangka didukung oleh infrastruktur yang memadai, walaupun lokasi Lendang Nangka jauh dari Kota Mataram tetapi aksesnya mudah. Hal ini menjadi kelebihan Desa Lendang Nangka dalam pengembangan ekowisata. (zwr)