Api Masih Menyala, Asap Semakin Menyiksa

Api Masih Menyala
PADAMKAN API: Petugas pemadam kebakaran dari Pemkab Lombok Barat dan Pemkot Mataram masih berjibaku memadamkan api gunungan sampah TPA Kebon Kongok yang terbakar.( ZULFAHMI/RADAR LOMBOK)

Warga Mulai Terserang ISPA

Lima Desa Satu Suara Boikot TPA

GIRI MENANG – Api gunungan sampah tempat pembuangan akhir (TPA) Kebon Kongok Desa Sukamakmur Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, masih menyala. Asapnya pun semakin menyiksa warga di sekitarnya.

Bahkan, dampak kebakaran gunungan sampah ini kini mulai menyiksa warga di enam desa. Yakni Desa Kuranji, Kuranji Dalang, Perampuan, Karang Bongkot Kecamatan Labuapi, Desa Taman Ayu dan Sukamakmur Kecamatan Gerung. Warga sekitar yang terserang asap kebakaran TPA ini mulai terserang penyakit.

Mereka sudah mulai susah bernapas sejak Senin (14/10) sore. Rata-rata, warga mengalami penyakit infeksi saluran pernapasan dan akut (ISPA). Sebagian dari mereka juga sudah mulai mengungsi karena tak mampu bertahan dalam dekapan selimut asap ini.

Petugas pemadam kebakaran kebakaran yang diterjunkan Pemkab Lombok Barat dan Pemkot Mataram, belum berhasil memadamkan api. Bahkan, api semakin rakus melahap gunungan sampah di TPA itu. Sehingga nyala api di gunungan sampah ini semakin meluas.

Warga Dusun Pegeleng dan Senkongok Desa Kuranji merupakan dusun yang paling parah terdampak asap kebakaran sampah TPA ini. Sebagian warganya sudah mulai mengungsi ke rumah keluarganya yang dianggap nyaman. Terutama mereka yang punya balita dan anak kecil. ‘’Kebakaran sampah ini sering terjadi tapi kali ini yang paling besar,’’ tutur Kadus Pegeleng, Basar kepada Radar Lombok, Selasa (15/10).

Basar menilai, kebakaran ini adalah kelalaian pihak pengelola. Parahnya lagi, mereka lamban dalam menangani kebakaran ini. Sehingga api semakin meluas dan berdampak kepada warga.

Menurut Basar, andai pengelola sigap menanggapi kebakaran ini, maka tidak akan meluas seperti sekarang ini. ‘’Kalau cepat ditangani tidak mungkin terjadi seperti sekarang ini,’’ sesalnya.

Karenanya, Basar berharap agar Pemprov NTB, Pemkab Lombok Barat, dan Pemkot Mataram, segera mengatasi masalah ini. Jangan sampai dampaknya semakin parah menyiksa warga. Pemda juga harus bertanggung jawab atas kondisi kesehatan warga sekarang ini.

Mengingat, bantuan masker yang diberikan puskesmas untuk menangkal serangan kepungan asap ini sudah tak berfungsi lagi. Mereka tetap sakit dan terpaksa harus mengungsi dan sebagian lagi harus pergi berobat. ‘’Pemerintah harus bertanggung jawab, apalagi warga Pegeleng tidak pernah mendapatkan manfaat TPA ini,’’ tuntut Basar.

Lambannya tindakan pemerintah ini juga disesali Kepala Desa Kuranji, H Fatoni Abdul Aziz. Fatoni juga menuntut agar pemerintah bertanggung jawab atas kondisi ini. Sebab, sudah ada 120 orang warganya yang sakit akibat serangan asap kebakaran sampah ini. Ratusan warganya juga mengungsi akibat kebakaran yang semakin meluas ini.

Jika masalah ini tak secepatnya ditangani, Fatoni mengancam akan menunut pemerintah dengan membawa massa. Karena warga tak hanya terdampak akibat kebakaran ini saja, melainkan sejak TPA itu ada. Warga terdampak bau sampah dan sumber penyait yang bisa datang menyerang dari gunungan sampah itu. ‘’Selama bertahun-tahun warga kami menderita karena bau sampah ketika musim hujan, dan asap ketikan kebakaran seperti sekarang ini,’’ ketusnya.

Fatoni kembali mengancam, jika masalah ini tak secepatnya ditangani. Maka warganya dan lima warga desa lainnya yang terdampak sepakat untuk memboikot TPA Regional Kebon Kongok ini. ‘’Kami para kades sudah sepakat mau tutup TPA ini,’’ cetusnya.

Apalagi, sambung Fatoni, selama ini warga masyarakat tidak pernah mendapatkan manfaat apa-apa atas keberadaan TPA ini. Malahan, mereka hanya mendapatkan dampaknya negatifnya saja. Karena itu, tekannya, jika pemerintah tak segera menyelesaikan kebakaran ini dalam waktu sepekan. Maka ia akan memboikot keberadaan TPA itu. ‘’Kalau tidak segera diselesaikan kebakaran ini. Lebih baik saya berhenti jadi kades. Saya akan blokir TPA ini,” ancamnya.

Ancaman ini juga dilontarkan warga Desa Perampuan, Nurul Wathoni. Ibu satu anak mengancam akan mengajak warga lainnya untuk demo jika kebakaran ini tak secepatnya diatasi. Karena asap kebakaran sampah ini sangat berbahaya bagi kesehatan warga sekitar. ‘’Ini lebih berbahaya dari kebakaran hutan karena materialnya semua kotoran,’’ katanya.

Wakil Ketua DPRD Lombok Barat, Hj Nurul Adha sudah turun melihat langsung kondisi warga masyarakat yang terdampak. Dari hasil pantauan di lapangan warga masyarakat banyak yang mengeluhkan mereka merasakan sakit sesak napas. “Asap sudah mulai menyebar di sekitar Desa yang dekat dengan TPA. Ini sangat berbahaya,” ujarnya. (ami)