Abrasi, Tiga Rumah Warga Mapak Indah Terancam Roboh

ABRASI: Petugas BPBD dan PUPR Kota Mataram menunjukkan pondasi rumah warga di Mapak Indah yang pondasinya tergerus abrasi.(SUDIRMAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Cuaca buruk beberapa hari belakangan ini menimbulkan gelombang pasang yang menerjang pesisir pantai di Kota Mataram.

Akibatnya terjadi abrasi yang cukup parah di pesisir pantai Mapak. Tiga rumah warga di Lingkungan Mapak Indah Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram terancam ambruk. Dimana pondasi ketiga rumah warga tersebut telah mulai terkikis akibat terjangan gelombang pasang ini.

Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan PUPR Kota Mataram juga telah turun tangan membantu warga setempat dengan membuat tanggul darurat menggunakan pasir pantai yang dimasukkan ke dalam karung Minggu kemarin (31/1). Para petugas bergotong royong memasukkan pasir ke dalam karung, untuk kemudian ditempatkan ke celah-celah pondasi rumah warga yang sudah tergerus gelombang pasang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Mataram, Arif Rahman mengatakan, sepanjang pantai Ampenan memang ada satu titik yang ditemukan tergerus gelombang yakni di Mapak Indah, Kelurahan Jempong Baru. “Kita sudah turun langsung membantu pemilik rumah setempat. Kita buat tanggul sementara untuk mengisi celah-celah pondasi rumah warga,” katanya.

Sementara itu, warga setempat hingga kini juga masih tetap waspada mengingat cuaca buruk masih terjadi. Sesuai imbauan BMKG, cuaca buruk ini diperkirakan terjadi sampai bulan Februari mendatang. Sehingga masyarakat pesisir pantai terus dipantau, dan para nelayan juga diminta untuk tidak nekat melaut terlebih dahulu karena gelombang tinggi.

Arif menyebutkan, untuk mencegah abrasi pantai, idealnya memang harus dibangunkan jetty (pemecah gelombang). Pemkot Mataram juga sudah sejak lama mengusulkan ke pemerintah pusat namun hingga kini masih terbentur anggaran. “Kita berharap pemerintah pusat segera merespon keluhan selama ini. Karena pesisir pantai Ampenan sepanjang 9 kilometer rawan abrasi pantai. Bahkan setiap tahun selalu terjadi,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram, Abdul Rahman mengatakan, pesisir pantai Ampenan setiap tahun memang terancam abrasi pantai. Itu terjadi, karena keberadaan pemecah gelombang yang masih minim. “Kita juga dorong Pemkot Mataram untuk melobi pemerintah pusat,” katanya.

Sesuai hasil pemetaan, BNPB juga sudah lama melakukan survei ke wilayah pesisir pantai Ampenan. Bahkan masuk dalam skala pembangunan jalan pesisir pantai. Tapi sampai saat ini, belum ada tindaklanjutnya. “Jalan pesisir pantai Ampenan sekaligus pembangunan jetty sudah lama diwacanakan. Kita harapkan ada realisasi. Sehingga warga di pesisir pantai Ampenan tidak terdampak setiap tahun,” harapnya.

Ia berharap Pemprov NTB juga harus memperhatikan beberapa kondisi pesisir pantai Ampenan. Sebagai ibu kota Provinsi NTB, maka Kota Mataram menjadi satu kesatuan dalam pemerataan pembangunan. “Kita harapkan ada respon pemprov juga, selain dari pemerintah pusat,” singkatnya. (dir)