11 TKI Lotim Dilaporkan Selamat

ZIKIRAN: Keluarga korban kapal tenggelam atas nama Mustar, tampak melakukan zikiran di rumah korban, berharap Mustar segera ditemukan (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG—Peristiwa kapal karam jenis Speedboat  di perairan Tanjung Bemban, Batam, Rabu lalu (2/11) yang membawa sekitar 101 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia. Sebagian besar penumpang infomasinya adalah warga NTB, khususnya dari Lombok Timur.

Namun sampai saat ini, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dissosnakertran) setempat belum mengetahui jumlah TKI Lotim yang ikut menjadi korban kapal naas itu. Baik itu yang selamat maupaun yang tewas.

Saat ini, pihak Dissosnakertran terus melakukan koordinasi dengan mencari informasi lebih lanjut. Mereka menghubungi sejumlah pihak terkait, baik itu BP2TKI, Disnaker, maupun Konsulat Jenderal (Konjen) di Johor, Malaysia. Namun informasi awal yang diterima, sejumlah TKI Lotim telah berhasil diselamatkan. “Kita sudah melakukan koordinasi dengan baik. Informasinya sebagian besar korban TKI dari NTB,” ungkap Sekdis Dissosnakertran Lotim, Ridatul Yasa, Kamis (3/11).

Untuk sementara ini jumlah TKI yang berhasil diselamatkan sekitar 39 orang.  Jumlah itu terdiri dari 11 orang TKI dari Lotim berjenis kelamin laki-laki  maupun perempuan. Sementara dari delapan orang yang ditemukan tewas, sekitar 6 orang sudah teridentifikasi. Namun pihaknya belum mengetahui apakah dari TKI yang tewas itu terdapat warga Lotim.

“Sementara sisanya yang 43 orang masih belum diketahui, dan masih dalam pencarian. Untuk korban yang ditemukan tewas, sedang dilakukan identifikasi ” lanjut Yasa.

Proses pencarian masih terus dilakukan. Sejak kejadian, pihaknya juga belum mendapatkan pengaduan dari masyarakat yang melaporkan ada keluarganya yang ikut menjadi korban dalam kejadian itu. Selain itu, mereka mengecek data para TKI  yang mereka miliki. Itu dilakukan untuk mencocokkan data jumlah TKI Lotim yang berhasil diselamatkan. “Kita selalu berkoordinasi. Kita sudah bentuk posko di Dissosnakertran,” katanya.

Menurutnya, para TKI yang menjadi korban kapal karam itu diduga kuat berstatus TKI illegal. Kemungkinan sebagian mereka berangkat melalui jalur resmi, namun karena visa kerjanya sudah habis, sehingga mereka memilih menjadi TKI illegal. Terlebih lagi proses pemulangannya menggunakan jalur tikus. “Bisa jadi mereka berangkatnya legal, tapi pulangnya illegal. Makanya kita sedang cek data rekomendasi yang ada di Dissosnakertran,” terangnya.

Mereka mengaku sangat prihatin kejadian serupa terus terjadi. Kini Dissosnakertran akan lebih intens untuk melakukan komunikasi dengan dinas terkait di provinsi, maupun pusat. Upaya pencegahan TKI illegal itu, sejak awal sudah dilakukan dengan memfungsikan Satgas yang sudah terbentuk.

Bahkan mereka juga sudah sering kali turun dan memberikan pemahaman ke masyarakat untuk tidak bekerja ke keluar negeri menggunakan jalur illegal. “Makanya ini harapan kita, supaya masyarakat Lotim yang mencari pekerjaan keluar negeri ini harus kita ayomi,” tekadnya.

Sementara itu, keluarga salah satu korban kapal tenggelam atas nama Mustar yang beralamat di Desa Bungtiang, Kecamatan Sakra Barat, menggelar zikiran agar korban cepat ditemukan. Pasalnya, sejak kejadian hingga saat ini belum ada kepastian, apakah Mustar telah meninggal dunia seperti yang diberitakan media, atau tidak.

Menurut kakak korban yang bernama Mursan, sejak ada kabar kapal yang mengangkut TKI tenggelam di perairan Batam, hingga saat ini belum ada ciri-ciri khusus yang menunjukkan bahwa yang meninggal itu adalah adiknya, Mustar. “Meski data-data sudah kita terima, namun hingga saat ini Mustar sendiri belum bisa ditemukan. Jadi belum pasti dia itu sudah meninggal atau tidak,” ujarnya.

Untuk memastikan apakah Mustar sudah meninggal atau belum, pihak kelurga sendiri telah menyuruh semua keluarga yang ada di Batam untuk mencari jenazah Mustar. Namun dari semua korban yang sudah ditemukan, tidak ada satupun korban yang cirinya sama dengan Mustar.

“Bukan hanya satu orang yang mencarinya, secara kebetulan di Batam tempat kejadiannya itu tidak jauh dari rumah keluarga. Banyak orang Bungtiang di sana,” bebernya.

Diceritakan, sebelum Mustar berangkat dari kungsinya (rumah,red) di Malaysia, dia mengabarkan akan berangkat Selasa, dan akan melakukan penyeberangan dari Malaysia, malam Rabu. Namun pihak keluarga melarangnya berangkat, karena mengetahui jam dan malamnya tidak bangus, dan akan ada cuaca buruk.

“Karena dia TKI illegal. Jadi dia lebih memilih untuk menyeberang pada malam hari, agar tidak ditangkap oleh pihak kepolisian. Kalau tidak malam hari, bisa jadi dia ditangkap,” jelasnya.

Menurut temannya yang selamat, Mustar sendiri mengingatkan kepada teman-temannya untuk berhati-hati dan siap siap, karena sudah mendapat informasi dari keluarga kalau akan ada cuaca buruk, dan sempat menitipkan tasnya kepada temannya. “Pada saat kejadian itu tasnya Mustar berada di tangan temannya yang  selamat. Mustar sempat mengambil tas itu, namun tidak bisa dijangkaunya, sehingga dia menghilang. Ini yang membuat kita tidak yakin, kalau dia meninggal,” jelasnya.

Selain itu, ciri-ciri Mustar yang memiliki bekas luka besar ditangan kanannya, satu buah gigi bagian bawah hitam, dan ada tai lalat di dagu sebelah kiri juga tidak ditemukan pada jenazah-jenazah yang telah ditemukan.

Namun demikian, untuk saat ini pihak keluarga hanya bisa berharap dan pasrah, apapun yang terjadi pada korban. Kalaupun nantinya ditemukan dalam keadaan meninggal, pihak keluarga pun sudah menyiapkan dana untuk mengurus kepulangan korban. (lie/cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid