Upaya Perajin Bambu Desa Loyok Bertahan di Tengah Persaingan Produk Modern

Laku hingga Mancanegara setelah Dipasarkan via Medsos

Kerajinan anyaman bambu
PERTAHANKAN: Tampak Baiq Nurul Aini, salah satu perajin bambu Desa Loyok Kecamatan Sikur menunjukkan anyaman bambu. (JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

Kerajinan anyaman bambu di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur, sempat berjaya di era 1990-an. Tapi seiring perkembangan zaman dan ketatnya persaingan, produk lokal masyarakat itu semakin redup ditelan zaman.


JANWARI IRWAN-SELONG


PERAJIN anyaman bambu di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur,  beberapa tahun ini kesulitan memasarkan produk kerajinan mereka. Produk wadah, tampah, dan bakul dari plastik yang semakin banyak membuat serapan kerajinan dari bambu buatan mereka kian dilupakan.

BACA JUGA: Perjuangan Turmuzi Menjadi Sarjana Terbaik dari Hasil Jualan Cilok

Baiq Nurul Aini, perajin bambu yang sehari-hari membuat wadah besar seperti tas bambu menuturkan, dulu dalam sehari ia bisa menjual 60 buah di rumahya. Banyak juga pedagang keliling yang mengambil langsung ke rumahnya untuk dijajakan keliling kampung di sekitar Lombok Timur hingga Lombok Tengah. ‘’Sekarang tidak seramai dulu. Bisa menjual dua tampah sehari saja sudah untung,’’ katanya sambil memegang tasnya.

Di rumahnya, Aini juga menampung kerajinan bambu yang dibuatnya sejak beberapa bulan yang lalu.  Produknya macam-macam, mulai dari bakul, tempayan, kipas bambu, caping, sampai tusuk sate dan tas yang harganya beragam. ‘’Kalau masalah harga sesuai besarnya barang dan anyaman yang kita buat sesuai pesanan,” terangnya.

Aktivitas sebagai perajin itu dilakoninya selama lebih dari puluhan tahun. Rata-rata warga di desa itu bekerja sebagai perajin bambu, meneruskan usaha orang tua mereka yang didapatkannya secara turun temurun. ‘’Saya tidak tahu kapan mula warga Desa Loyok membuat anyaman bambu. Yang jelas saya menemukan ini setelah lahir,” akunya.

Persoalan bambu yang kian langka juga membuat usaha kerajinan ini tidak seramai dulu. Sekarang, bambu dibeli dengan harga Rp 20 ribu per meter membuatnya kesulitan dalam mengayam.Umumnya, usaha kerajinan ini dijalankan secara mandiri di rumah warga. Sebagian besar yang terlibat ialah kaum perempuan yang berupaya memperoleh uang untuk menambah penghasilan keluarga. “Menganyam bambu yang kita kerjakan saat ini merupakan pekerjaan sampingan pada saat kita sedang berda di rumah dan tidak pekerjaan di sawah dan sedang kumpul sama tetangga,” terangnya.

Akan tetapi, dengan kemajuan teknologi saat ini, ia dan perajin lainnya tidak hanya memasarkan secara manual saja. Tetapi rata-rata perajin memasarkan hasilnya melalui online atau media sosial facebook. Hasilnya, banyak hasil karyanya terjual hingga ke mancanegara. “Alhamdulillah, berkat bantuan dari media sosial ini, kita banyak memasarkan barang keluar negeri seperti Korea dan Thailan,” akunya.

Sementara itu, Inaq Fiah warga yang kesehariannya membuat bakul dari bambu mengatakan, pada era tahun 90-an menurut keterangan dari orang tuannya, anyaman bambu Desa Loyok rata-rata dijual ke pasar Jelojok Kabupaten Lombok Tengah dan pasar lainnya, bahkan anyaman bambunya tembus pulau Lombok. “Kalau sekarang anyaman bambu ini saya hanya menjual ke pengepul yang ada di Desa Loyok, pengepul yang menjulnya ke pasar-pasar hingga ke pulau Bali dan Jawa,” ujarnya.

Anayaman bambu ini, biasanya akan laris pada bulan Agustus yang merupakan bulan para para wisatawan berkunjung, baik wisatawan asing maupun lokal berkunjung ke wilayah wisata Tete Batu, di mana para pengunjung akan melintasi Desa Loyok. Namun, pada bulan-bulan yang lain ia membuat kerajian anyaman bambu berupa tas apabila ada pesanan dari pembeli yang sengaja datang ke Loyok. ‘’Dalam sebulan kadang kadang dua atau tiga orang yang datang memesan tas dan barang yang lain, kalau sudah ada pesanan baru kita membuat sesuai pesanan,” akunya.

BACA JUGA: Siti Sumardianti, Caleg Yang Sehari-Hari Jual Sosis Bakar

Agar anyaman bambu Desa Loyok terus berjaya dan berkembang, saat ini pemerintah desa sudah memberikan bantuan berupa alat-alat kerajinan bambu. Seperti parang, pisau, gergaji, dan berbagai alat-alat kebutuhan lainnya. Tidak  hanya itu, agar bisa tetap berkembang, anak-anak yang ada di Loyok juga diberikan pelajaran menganyam bambu. “Karena ini merupakan ilmu warisan, semua masyarakat Loyok, baik yang wanita dan pria rata-rata mempunyai keahlian menganyam bambu,” pungkasnya. (wan)