Tim Ahli Diturunkan Desain Kereta Gantung Rinjani

H Mohammad Rum (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rencana pembangunan proyek kereta gantung Rinjani hingga kini terus berproses. Bahkan, investor asal Tiongkok, China, PT. Indonesia Lombok Resort (ILR) telah menurunkan tim ahli dari Bandung Jawa Barat untuk desain awal pembangunan kereta gantung Rinjani.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, H Mohammad Rum menyampaikan progres rencana pembangunan proyek kereta gantung Rinjani saat ini sedang berproses untuk desain awal oleh tim ahli dari Bandung yang diterjunkan oleh pihak investor selama 14 hari untuk mengerjakan desain awal. “Karena tim dari China tidak bisa datang, karena masalah KITAS (kartu izin tinggal terbatas), akhirnya investor untuk percepatan mereka menggunakan tim ahli dari Bandung. Tim dari Bandung sudah datang. Mereka akan bekerja salama 14 hari ini dengan tim dari LHK untuk mengerjakan disain awalnya,” katanya kepada Radar Lombok, Selasa (19/7).

Kedatangan tim ahli yang diterjunkan oleh pihak investor, sambung Rum, mereka sekarang ini telah turun ke lapangan untuk mengecek lokasi-lokasi tempat pemasangan menara yang akan menjadi penyangga atau tiang kereta gantung Rinjani sekaligus untuk penyusunan feasibility study (FS) dan detail engineering design (DED). “Untuk pengerjaan desain awal ini dibutuhkan waktu 14 hari. Setelah itu nanti kita akan evaluasi,” katanya.

Baca Juga :  Dikbud Diminta Segara Keluarkan Juknis Pemberkasan PPPK

Setelah selesai semua, lanjut Rum, akan dilanjutkan pada tahapan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dengan waktu yang dibutuhkan sekitar 3 sampai 4 bulan, baru dimulai konstruksi pembangunan proyek. “Insyaallah tahun ini konstruksi sudah bisa dikerjakan,” tambahnya.

Rum menyebutkan total investasi yang akan digelontorkan investor dalam pembangunan proyek kereta gantung Rinjani mencapai Rp 2,2 triliun. Di mana, untuk pembangunan kereta gantung menelan anggaran sebesar Rp 600 miliar, sedangkan sisanya untuk membangun dua resort mewah yang akan dibangun serta fasilitas pendukung lainnya. “Untuk pembangunan kawasan resort mereka akan bangun di atas satu dan bawah satu. Sehingga para penumpang mungkin bermalam dulu di bawah sebelum naik ke atas dan diatas juga disiapkan tempat bermalamnya,” terangnya.

Rum menegaskan lokasi pembangunan proyek kereta gantung Rinjani ini di luar kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Sehingga tidak akan mengganggu aktivitas pendakian menuju Gunung Rinjani bagi para pendaki. Pasalnya pembangunan proyek berada di kawasan hutang lindung yang menjadi kewanangan Provinsi NTB yang terletak di Kecamatan Batukliang Utara Lombok Tengah. “Karena di atas ini tak sampai kawasan TNGR tetapi di luar kawasan TNGR. Sehingga bagi pengguna kereta gantung ketika ke menuju Danau Segara Anak mereka akan jalan 2-3 km, makanya disiapkan penginapan diatas sebagai tempat bermalam,” jelasnya.

Baca Juga :  Danrem Lalu Rudy Naik Pangkat Brigjen

Untuk itu, pihak investor juga akan melakukan rehabilitasi lahan, ketika terdapat hutan yang gundul sepanjang jalur yang dilewati kereta gantung. Karena yang dijual adalah daya tarik pemandangan alam. “Makanya ketika ada kerusakan lahan, mereka (investor) juga akan melakukan rehabilitasi lahan, ketika ada yang dilalui kereta ada yang gundul-gundul mereka perbaiki. Kerena yang mereka jual itu pemandangan alamnya. Dan itu sangat positif,” sambung Rum.

Seperti diketahui, rencana pembangunan proyek kereta gantung Rinjani nanti akan ditangani langsung oleh PT. Indonesia Lombok Resort (ILR) yang merupakan perusahaan milik dari investor asal Tiangkok, China. Yang telah menyerahkan uang jaminan investasi kepada Pemprov NTB sebesar Rp 5 miliar. Lokasi pembangunan berada di kawasan hutang lindung yang menjadi kewanangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB yang berada dikecamatan Batukliang Utara dengan total luas lahan yang disiapkan sekitar 500 hektare. Pembangunan kereta gantung Rinjani ini merupakan yang terpanjang di dunia mencapai 9 sampai 10 km dan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. (sal)