Tiga Manuver Ketua PDIP NTB, Aksi Teatrikal Politik yang Bermuatan Pesan Humanis

PDIP: Ketua PDIP NTB, H Rahmat Hidayat (tengah), bersama Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH (kanan). (ist for radarlombok)

MATARAM—Lembaga Kajian Sosial dan Politik, Mi6 menilai tiga langkah manuver Ketua DPD PDIP NTB, H Rachmat Hidayat akhir-akhir ini merupakan pesan politik yang tidak sederhana dari sisi front stage. Hal ini bisa dilihat dari serangkaian momentum yang terjadi.

Meskipun manuver yang dilakukan oleh petinggi PDIP NTB seolah-olah tidak berkaitkan satu sama lain, tetapi Mi6 memandang rangkaian teatrikal politik yang diperagakan politisi gaek H Rachmat Hidayat sesungguhnya satu rangkaian yang tak terpisahkan, kental bermuatan pesan humanis dan saling memanusiakan.

“PDIP NTB sedang memberikan pesan sekaligus “teka teki” moral dan politik dengan cara yang tidak biasa. (Pesan) ini tentu hanya dipahami oleh politisi yang paham maksud,” kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH melalui siaran pers, Rabu ( 5/1).

Menurut laki-laki yang akrab disapa Didu ini, rangkaian manuver Ketua DPD PDIP NTB, H Rachmat Hidayat yang tidak sederhana dipahami, yakni pertama pada medio pertengahan Desember 2021 saat hadir di Kantor Bupati Lombok Tengah dengan baju merah khas Partai untuk mendengarkan aspirasi dan ucapan terima kasih dari masyarakat Lombok Tengah kepada Presiden Jokowi dan Megawati Soekarno Putri, terkait perhatian Jakarta kepada Lombok Tengah, termasuk Pembangunan Sirkuit Mandalika.

Dihadapan petinggi Lombok Tengah (Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD Loteng beserta puluhan Tuan Guru ), dan mantan Bupati Lombok Tengah, H Suhaili, secara tegas Rahmat mengulas kronologi secara terang benderang dan  dramatis bagaimana Jasa dan perhatian Pemerintahan Jokowi dan Megawati Soekarno Putri untuk masyarakat dan pembangunan di Lombok Tengah.

“Tentu penyampaian aspirasi dan ucapan terima kasih elemen masyarakat Lombok Tengah kepada Jokowi dan Megawati tidak berdiri sendiri dan bebas nilai. Pasti ada peristiwa yang melatarbelakangi. Seolah-olah Lombok Tengah ingin meluruskan kisah sejarah yang sesungguhnya agar publik tidak a historis dan mudah dikelabui oleh aneka pencitraan yang melupakan tonggak awal,” ucap Didu.

BACA JUGA :  Rayakan HUT Partai dan Ibu Mega, PDIP NTB Tanam 11 Ribu Pohon di NTB

Sebagai Politisi Gaek, H Rachmat Hidayat dan Mantan Bupati Lombok Tengah Suhaili yang paham kisah, tentu tidak ingin sejarah masa lalu Lombok Tengah terkait Mandalika Resort, dan lain-lain dilupakan dan dinafikkan oleh sajian aneka Drakor (drama korea) politik oleh berbagai kepentingan sesaat.

“Para pemangku Lombok Tengah dan Ketua PDIP NTB sesungguhnya hanya ingin sejarah diluruskan agar off sidenya tidak keterusan,” imbuhnya.

Selanjutnya Didu mengatakan ayunan langkah Ketua DPD PDIP NTB H Rachmat Hidayat kedua, yakni saat menghadiri undangan Pelantikan Ketua DPD Partai Gerindra NTB yang baru, HL Pathul Bahri tanggal 29 Desember 2021 silam. Ternyata di acara tersebut H Rachmat Hidayat menjadi satu-satunya Ketua Partai yang menghadiri acara pelantikan. Menariknya lagi, dalam acara tersebut di declare masuknya gerbong NW Anjani dalam Lokomotif Partai Gerindra NTB. Hal ini ditandai dengan masuknya petinggi NW dalam kepengurusan Partai Gerindra NTB.

“Kehadiran H Rachmat Hidayat sebagai simbol PDIP diacara Pelantikan Pathul Bahri, bisa jadi merupakan sinyal awal tentang koalisi politik linear antara Gerindra dan PDIP menyongsong kontestasi elektoral 2024 mendatang,” ujar mantan Ketua Eksekutif Daerah Walhi NTB ini.

Didu melanjutkan, dalam momentum tersebut seolah-olah Gerindra dan PDIP NTB ingin memberikan message di awal kepada publik, bahwa koalisi Gerindra dan PDIP kedepan tidak terpisahkan dan tidak tergoyahkan menyambut pesta demokrasi 2024.

“Sebagai Partai yang sama-sama mengusung platform Nasionalis, koalisi Gerindra dan PDIP nantinya lebih mudah merawatnya dari benturan perbedaan maqom ideologi,” kata Didu sembari menambahkan jika koalisi linier Gerindra dan PDIP dalam Pilkada serentak di NTB terjadi, maka target pragmatisnya menciptakan koalisi ramping untuk mengurangi atau menekan beban cost politik.

BACA JUGA :  Mi6: Perkuat Nasionalisme, Bahasa Daerah Kawasan Sunda Kecil Perlu di Adopsi ke Bahasa Indonesia

Selanjutnya manuver ketiga H Rachmat Hidayat saat di awal tahun 2022, memberikan kado yang indah dengan mengapresiasi kinerja  Kepempinan Walikota Mataram, H Mohan Roliskana yang juga Ketua DPD Partai Golkar NTB.

Statement Ketua DPD PDIP NTB yang ujug-ujug memberikan penilaian positif untuk Mohan Roliskana dari Perspektif moral dan politik sudah pasti akan berdampak menaikkan citra baik pemimpin kota Mataram dimata publik. “Apalagi dalam konstestasi Pilkada Kota Mataram 2020 silam, PDIP dan Golkar saling berhadapan mengusung calon kepala daerah yang berbeda,” ujar Didu.

Lebih jauh Didu mengulas melalui statementnya tersebut H Rachmat Hidayat ingin fairness dan adil dalam melakukan penilaian terhadap kinerja baik Mohan Roliskana yang luput dari atensi dan perhatian publik.

“Kado awal tahun statement Ketua PDI NTB ini sedang memberikan spirit moral kepada kepemimpinan Mohan Roliskana yang mampu move on dan menghilangkan dendam politik dalam memimpin kota,” ungkap Direktur Mi6.

Setelah melakukan tiga langkah politik PDIP NTB ini tentu tidak akan berhenti, dan pasti akan mendapat kontraksi politik untuk mengimbanginya. “Bisa jadi akan ada rangkaian parabellum sebagai perimbangan bandul politik agar publik mendapatkan second opini dari sudut pandang yang berbeda,” imbuhnya.

Terakhir Didu mengatakan tiga langkah ataupun manuver Ketua PDIP NTB bisa ditafsirkan sebagai upaya PDIP membangun persepsi politik yang baik di mata publik ditengah apatisme dan persepsi negatif masyarakat terhadap praktek politik yang terjadi.

“PDIP sadar bahwa publik perlu disadarkan pencerahannya agar mindsetnya tidak mudah menyederhanakan masalah dengan melakukan stigma yang kontra produktif terhadap perbedaan,” Tandas Didu, sembari mengatakan tiga langkah PDIP bisa juga ditafsirkan bagaimana sesama Partai berideologi Nasionalis, PDIP sedang merawat dan menyemai kebersamaan dalam menyongsong Kepemimpinan Masa Depan dalam konstestasi 2024. (RL)