Tidak Bercita-cita jadi Polisi, Hobinya jadi MC

ANGGOTA GEGANA: Bripda Shalsabila Tiara Sari (kiri) bersama Bripda Nabila Anggelina di sela-sela latihan menembak dan menjinakkan bom di Mako Brimob Polda NTB belum lama ini (Janwari Irwan/Radar Lombok)

Satuan Brimob Polda NTB memiliki dua srikandi yang tergabung dalam tim Gegana. Inilah untuk pertama kalinya Polda NTB mempunyai anggota perempuan   yang bertugas sebagai pinjanak bom. Mereka  adalah  Bripda Nabila Anggelina dan Bripda Shalsabila Tiara Sari.

 


Janwari Irwan–Mataram


 

Bagi Bripda Shalsabila Tiara Sari menjadi anggota polisi membuatnya bangga. Dia  tidak pernah menyangka akan tergabung dalam tim Gegana Polda NTB. Kini,tugas berat harus diembannya. Sebagai anggota Gegana, salah satu tugasnya mampu menjinakkan bom atau sejenisnya.

Gadis kelahiran  Praya, Lombok Tengah tanggal 17 Juni 1996 ini awalnya tidak bercita-cita jadi anggota polisi. Dia malah ingin menjadi Master of Ceremony (MC)  profesional atau bekerja di kantoran. Setelah tamat SMA, dia melanjutkan pendidikannya di Universitas Mataram (Unram). Dia mengambil jurusan akutansi.

Namun kondisi mengubah cita-citanya itu. Shalsa  sejak kecil sudah mandiri. Di umur baru 5 tahun, orangtuanya berpisah. Sejak saat itu, Shalsa tinggal bersama ibunya yang hanya seorang ibu rumah tangga. Setahun di bangku kuliah, Shalsa mencoba peruntungan menjadi anggota polisi. Saat ada pendaftaran pembukaan bintara, dia langsung mendaftar.  Ibunya sempat menolak permintaan anaknya,  dia beraggapan untuk masuk polisi butuh uang banyak.

Dengan tekad yang kuat Shalsa  memberanikan diri untuk mendaftar dengan diantar oleh ibunya.”Mulai saya mendaftar sampai selesai hanya ibu saya yang mengantarkan kemana mana,”ungkapnya sampai meneteskan air mata belum lama ini.

Tahapan demi tahapan dilalui oleh Shalsa. Melihat perjuangan Shalsa, ibunya tidak berhenti berdoa agar Shalsa lulus.  Setelah mengikuti proses  panjang, Shalsa lulus. ”Jujur saya sebelumnya tidak pernah berniat menjadi polisi. Saya hobinya sebagai MC. Tapi setelah saya melihat ibu saya yang tidak punya pekerjaan membuat saya ingin bekerja dan menjadi polisi,”akunya.

Shalsa bersama calon bintara yang baru lulus menjalani pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) di Belanting, Lombok Timur. Beratnya pendidikan dan latihan yang dijalani, nyaris mematahkan semangat Shalsa. ''Namun yang membuat saya kuat adalah ingin membahagiakan ibu saya yang sudah berusaha sekuat tenaga,'' jelasnya.

Di SPN, selain ditempat latihan fisik dan kesamaptaan, Shalsa  diajari menembak dan ilmu bela diri lainnya. Dari sejumlah polisi wanita saat itu, Shalsa dan Nabila yang paling menonjol. '' Tembakan saya tidak meleset ketika disuruh menembak balon dari jarak 100 meter. Dan setelah selesai dari pendidikan saya akhirnya ditarik masuk ke satuan Brimob Polda NTB bersama Nabila Angelina,'' tuturnya.

Saat mendengar akan bergabung dengan kesatuan Brimob dan menjadi Tim Gegana, perasaannya  sempat takut. Yang namanya Tim Gegana harus siap menanggung resiko apabila terjadi kesalahan saat menjinakkan bom ataupun saat harus berhadapan dengan teroris atau pelaku  kriminalitas lainnya.  Namun setelah beberapa lama mencoba dan berlatih akhirnya rasa takut tidak  lagi datang.”Dan sekarang saya sudah siap apapun yang terjadi,”katanya.

Diakui Shalsa menjadi anggota Tim Gegana cukup berat. Saat latihan menjinakkan bom, dia harus mengenakan rompi dan helm yang beratnya 10 kilogram. Begitu juga saat menentang senjata  yang beratnya kurang lebih 10 kilogram. ”Saya kan wanita, yang menjadi kendala pertama kali adalah beratnya beban seperti pakaian yang kita gunakan,”akunya.

Meski hanya berdua perempuan di Tim Gegana yang mayoritas laki-laki,  tidak membuatnya minder.  Shalsa dituntut cepat beradaptasi. Dia juga merasa dengan dukungan teman-temannya. ''

Setelah beberapa bulan mengikuti latihan rasanya semuanya ringan. Ini semua berkat teman- teman yang ada di satuan yag selalu mendukung dan mensuport saat menjalani latihan. Dalam latihan pun pimpinan tidak pernah membedakan baik yang pria maupun wanita, semua diperlakukan sama, dengan tujuan untuk semakin meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh semua Tim Gegana ,'' jelasnya.(*)