Terjepit Corona, Ramai-ramai Hotel Dijual

RADAR LOMBOK MULAI DILEGO : Salah satu hotel di Kota Mataram yang menawarkan pengumuman menjual properti mereka akibat dampak pandemi Covid-19. ( DEVI HANDAYANI )

MATARAM – Pandemi Covid-19 yang tidak ada kapan reda sudah memasuki tahun kedua semakin membuat dunia usaha terpuruk. Bahkan di industri pariwisata yang menjadi paling terdampak karena pandemi Covid-19 mulai oleng. Pasalnya, tak sedikit pengusaha hotel mulai ‘lego’ atau menawarkan penjualan hotel mereka.

Sejumlah hotel di NTB terpaksa mengobral atau menjual properti mereka akibat dampak pandemi Covid-19 yang membuat sulitnya untuk bertahan. Terlebih tidak adanya tamu sehingga membuat pemasukan keuangan hotel menjadi menurun drastis.

“Untuk dijual lumayan, sedikitanya ada lima hotel. Cuma itu hotel kecil-kecil, paling banyak di resort dan ada beberapa hotel di Kota Mataram,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, Rabu (3/2).

Menurut Wolini, kondisi sekarang ini membuat sejumlah pengusaha terpaksa menjual properti mereka. Karena, biaya maintenance yang terlalu tinggi, sedangkan tidak ada pemasukan sama sekali untuk menanggulangi biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha hotel. Sementara, hotel sangat bergantung dengan wisatawan dan beberapa kegiatan MICE. Tetapi kondisi saat ini tidak ada kunjungan, karena adanya pembatasan orang masuk di beberapa daerah.

“Dari dijual dan tutup itu pasti dan beberapa hotel ada yang masih eksis. Kita bisa hitung dengan jari di kondisi seperti ini. Karena kalau buka di kondisi sekarang ini biaya maintenance itu terlalu tinggi, bayar listrik, gaji karyawan, pajak dan sebagainya. Sedangkan pemasukan atau pendapatan tidak ada,” ungkapnya.

Wolini menyebutkan tekanan pandemi Covid-19 yang terus berkepanjangan ini kian terus berdampak terhadap ekonomi, sehingga tidak dipungkiri jika ada hotel-hotel yang terpaksa menjual properti mereka. Karena memang tengah dalam kondisi sangat sulit untuk bertahan lebih lama lagi.

“Saya beberapa waktu sudah keliling ke beberapa obyek wisata dan memang banyak hotel-hotel yang dijual. Karena mereka juga belum melaporkan ke PHRI sudah menjual atau akan menjual,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Gili Hotel Association (GHA) Lalu Kusnawan mengatakan, untuk kunjungan wisatawan ke tiga Gili saat ini sangat sepi. Lantaran sepi banyak hotel-hotel maupun restoran menutup usaha mereka, bahkan sampai menjual properti mereka dampak dari pandemi Covid-19 ini.

“Sekitar 30-40 persen hotel beroperasi sisanya sementara tutup. Bahkan banyak juga yang menjual propertinya,” ujarnya.

Ia berharap, untuk menggerakkan perekonomian di kawasan tiga gili perlu adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun provinsi, yakni dengan melakukan beberapa kegiatan di Gili. Apalagi banyaknya pilihan hotel menengah sampai dengan harga murah, sehingga mampu mendorong tingkat kunjungan wisatawan ke Gili.

“Kita ingin pemerintah daerah membuat acara dengan datang ke Gili. Ini cara memutar roda perekonomian, kalau mengandalkan tamu dari luar sulit,” katanya. (dev)