Target Kunjungan Wisatawan Terancam Tak Tercapai

Target Kunjungan Wisatawan Terancam
LOMBA PERAHU: Salah satu kegiatan wwarga Keruak Lombok Timur untuk menarik wisatawan lokal.( JANWARI IRWAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Pariwisata telah menetapkan target kunjungan wisatawan pada tahun 2019 sebanyak 4 juta. Target tersebut juga masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kepemimpinan Zulkieflimansyah dan Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi).

Hingga memasuki pertengahan September, target kunjungan 4 juta wisatawan masih jauh dari harapan. Hal itu diakui pula Dinas Pariwisata, bahkan target tersebut terancam tidak akan bisa terpenuhi hingga akhir tahun. “Sekarang yang tertekan itu wisatawan domestik, tapi ini bukan kita saja yang mengalami,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, H Lalu Mohammad Faozal kepada Radar Lombok, Selasa (17/9).

Target 4 juta wisatawan, terdiri dari wisatawan mancanegara 2 juta dan 2 juta wisatawan domestik. Jumlah wisatawan mancanegara, sudah normal dan diyakini bisa mencapai 2 juta hingga akhir tahun. Namun untuk wisatawan domestik, Faozal sendiri pesimis. Terdapat banyak kendala yang menyebabkan wisatawan domestik berkurang. Di antaranya direct fligh atau rute yang dikurangi oleh pihak maskapai. “Sampai sekarang, masih terjadi pengurangan fligh,” ungkap Faozal. 

Beberapa maskapai yang melakukan pengurangan fligh, seperti Garuda dari 4 kali menjadi 2 kali dalam seminggu rute Jakarta. Kemudian Batik Air juga sama dengan Garuda. Ada juga Lion Air, dari 6 kali berkurang menjadi 4 kali rute Jakarta. 

Kebijakan pengurangan fligh oleh pihak maskapai, atas pertimbangan efisiensi dan untung rugi. Mengingat, rute yang ada seringkali jumlah penumpangnya sedikit. “Domestik yang kurang, bukan kasus Lombok saja. Kenapa angka kunjungan rendah, karena recovery trauma bencana domestik lebih lama,” jelasnya. 

Selain pengurangan fligh, kondisi tersebut semakin diperparah dengan harga tiket yang sempat mahal. Dampaknya, orang akan berpikir seribu kali untuk naik pesawat. Tingginya harga tiket, tidak bisa diintervensi oleh pemerintah. Faozal sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. “Kecuali Jawa tidak terdampak serius akibat harga tiket. Karena banyak yang ke wilayah Jawa tidak melalui jalur udara,” katanya. 

Berdasarkan perhitungan Dinas Pariwisata, jumlah kunjungan domestik hingga September ini tidak lebih dari 1 juta orang. Sementara waktu tinggal beberapa bulan lagi. Realita saat ini, membuat Faozal tidak ingin berbicara tinggi. Faozal memprediksi target kunjungan 2 juta wisatawan domestik tidak akan bisa tercapai. “Kita optimis kalau mancanegara tercapai 2 juta, domestik yang gak bisa. Karena kita tertekan harga tiket yang tidak bisa diintervensi, dan pengurangan fligh masih terjadi sampai sekarang. Senggigi juga masih tertekan,” ucapnya lagi. 

Untuk wisatawan mancanegara, hingga akhir September diperkirakan sudah ada 1,4 juta wisatawan yang datang ke NTB. Sisanya sekitar 600 ribu wisatawan, bisa dicapai hingga akhir tahun nanti. Keyakinan Faozal bahwa target wisatawan mancanegara bisa tercapai, karena melihat progres saat ini. Apalagi belum lama ini, kegiatan APGN juga sudah membantu sekitar 700 hingga 800 orang wisatawan mancanegara. 

Menurut Faozal, recovery untuk wisatawan mancanegara juga lebih cepat. Terutama destinasi-destinasi yang menjadi incaran wisatawan mancanegara seperti tiga Gili di Kabupaten Lombok Utara (KLU). “Recovery di tiga Gili itu cepat, Juli sudah kembali normal. Kisaran 2.800 sampai 3 ribu per hari jumlah wisatawan mancanegara masuk ke 3 Gili. Terutama dari Bali ke Trawangan,” papar Faozal. 

Jumlah direct fligh internasional juga bertambah. Hal itu sangat menguntungkan sektor pariwisata NTB. “Untuk mancanegara, kita tertolong karena fligh menuju normal. Bahkan untuk KL (Kuala Lumpur) jadi dua kali dari satu sejak Juni. Silnk Air normal 5 kali seminggu, satu lagi rute Pert – Lombok dari Air Asia. Makanya target wisatawan mancanegara saya yakin bisa tercapai,” kata Faozal.

Pada tahun 2018 lalu, jumlah wisatawan ke NTB sekitar 2,5 juta. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya, karena NTB dilanda bencana gempa dahsyat berbulan-bulan. Sedangkan pada tahun 2017, angka kunjungan wisatawan lebih dari 3,5 juta. (zwr)