Sukisman Dorong KKP Jadikan Lombok Basis Budidaya Benur

Ir. H. Achmad Sukisman Azmy, M.Hum (IST/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Anggota DPD RI Dapil Provinsi NTB, Ir. H. Achmad Sukisman Azmy, M.Hum, mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, untuk menjadikan pulau Lombok, terutama Kabupaten Lombok Timur (Lotim), sebagai basis pembudidayaan benih belur berskala internasional.

Hal itu disampaikan Haji Sukis, sapaan akrabnya, saat menggelar rapat kerja dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, terkait program kerja tahun anggaran 2023, baru-baru ini.

Dikatakan Haji Sukis, banyaknya benih benur (lobster) di Lombok Timur. Dimana informasi yang diperoleh pihaknya ada 10 juta benih benur, sementara yang mampu dikelola hanya 10% saja, sementara 90%-nya tidak bisa diberdayakan.

Kalau musimnya hilang, benur ini hilang. Mungkin ada upaya dari KKP. “Lombok Timur bisa jadi basis
pembudidayaan benih benur internasional,” katanya.

Tidak hanya lobster, pihaknya juga mendorong keberlangsungan budidaya mutiara, yang pada tahun 90-an di Lombok cukup bagus. apalagi teknologi dari Jepang saat ini juga sudah dikuasai oleh masyarakat. “Budidaya super ini mudah-mudahan bisa berkembang,” harapnya.

Lebih lanjut disampaikan, perairan pulau Lombok juga memiliki potensi perikanan yang sangat menjanjikan, mulai dari kerapu, lobster, dan lainnya. Potensi besar ini membuat perikanan laut (budidaya laut) dapat lebih dikembangkan.

Baca Juga :  Dua Anggota Dewan Lobar Di-PAW

Sebab itu, Haji Sukis berharap budidaya perikanan laut di Lombok bisa dijadikan skala internasional, karena kalau di Bali sudah dimanfaatkan untuk pariwisata. “Jika diarahkan ke Teluk Awang, bisa dioptimalkan. Karena lokasinya dekat dengan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika,” ucap mantan Ketua PWI Provinsi NTB ini.

Dengan dioptimalkan potensi yang ada di wilayah perairan tersebut, maka dipastikan itu akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan negara. “Kami melihat untuk memperoleh es ini agak kurang. Sementara nelayan cukup jauh mencari ikannya. Apakah dry ice bisa dimanfaatkan oleh nelayan kita,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Plh Sekretaris Jenderal KKP, Riza Trianzah mengatakan pihaknya akan terus berupaya mengoptimalkan manfaat sumberdaya benih lobster untuk kemaslahatan masyarakat dan pembudidaya dalam negeri. Hal ini ditandai dengan penerbitan dan perubahan aturan serta perundangan-undangan yang ada.

Namun sampai saat ini di Indonesia masih terkendala pada teknologi pemeliharaan benih. Dimana perkembangannya sampai saat ini kelangsungan hidup (survival rate) benih yang dipelihara setelah menetas (benih bening lobster) sampai berukuran 5 gram (ukuran siap dipelihara di KJA dan Bak), masih rendah, berkisar 5 – 10%.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa permasalahan utama adalah menemukan pakan larva dan benih bening lobster yang tepat. Untuk itu, saat ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya bekerjasama dengan semua pihak (perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku usaha) untuk memperbaiki teknologi pemeliharaan benih.

Baca Juga :  Parpol Ganti Bacaleg Harus Dilengkapi SK DPP

Teknologi pembesaran ukuran 5 gram sampai ukuran konsumsi kelangsungan hidup sudah lebih baik. Untuk itu, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah menetapkan 4 lokasi kampung budidaya lobster pada tahun 2022, salah satu diantaranya adalah Desa Jerowaru, Lombok Timur.

Adapun lokasi pembenihan, untuk sementara sampai teknologi dikuasai pengembangannya, masih dilakukan pada Unit Pembenihan milik Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Salah satu diantaranya Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok yang berlokasi di Desa Sekotong, Kabupaten Lombok Barat,” imbuhnya.

Adapun terkait dengan dry ice lanjutnya, dapat dimanfaatkan oleh nelayan untuk menjaga mutu ikan. Namun dry ice akan lebih sulit untuk didapatkan dibandingkan es yang biasa digunakan oleh nelayan. Selain itu, biaya yang dibutuhkan juga akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan es balok.

“Terkait dengan kebutuhan es, kami akan selalu berkoordinasi dengan dinas perikanan setempat, untuk optimalisasi terkait dengan ketersediaan es di sentra nelayan,” jelasnya. (yan)

Komentar Anda