Semen Mahal, Developer Rumah Subsidi Merugi

Developer Rumah Subsidi Merugi
BANGUNAN : Pembangunan rumah subsidi mulai terkendala dengan sulitnya bahan baku vital, seperti semen didapatkan. Kalaupun ada, harga jualnya sangat mahal.( DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK )

Dampak Kelangkaan Semen di NTB

MATARAM –Pasokan semen yang terbatas berdampak pada proyek pembangunan infrastruktur di NTB. Kondisi tersebut juga sangat dirasakan sektor property, khusus untuk pembangunan perumahan, baik komersil maupun program rumah subsidi.

Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Daerah (BPOD) Real Estate Indonesia (REI) NTB H Miftahuddin Ma’ruf mengaku merugi, akibat terjadinya kelangkaan semen yang menjadi bahan vital. Sejak stok semen menipis di distributor terjadi hampir sebulan lebih.

“Kami kesulitan mencari semen. Kalaupun ada, harganya mahal. Tentu hal ini sangat merugikan proyek pembangunan perumahan, khususnya yang subsidi,” Miftahuddin Ma’ruf, Selasa kemarin (17/9).

Dengan langkanya semen, kata Ma’ruf, menimbulkan beragam dampak. Salah satunya, pada proses pembangunan rumah program kredit pemilikan rumah (KPR) khususnya untuk subsidi. Sehingga, proses pembangunannya yang seharusnya dapat selesai di akhir bulan ini, justru gagal. Semuanya jadi terhambat, sekarang pembangunannya sekitar 50-70 persen. Bukan cuma itu saja, seharusnya ada yang akan akad dengan bank akhir bulan ini justru tidak jadi.

Miftah mengeluhkan minimnya kesiapan dari pihak distributor, begitu juga pemerintah yang kurang pengawasan. Padahal, saat sekarang ini pembangunan fisik berbagai infrastruktur di NTB sangat banyak. Mulai dari pembangunan rumah korban gempa, proyek fisik jalan, gedung pemerintah, perhotelan, dan termasuk rumah subsidi dan komersil yang dilaksanakan pengusaha developer.

Sejak stok semen kian menipis, banyak pihak menaikkan harga semen hingga dua kali lipat. Harga diberikan oleh distributor dan penjual dengan harga baru. Jika memang naik, tentu kenaikan tidak setinggi saat ini.

“Kalau harganya naik, developer seperti kami kebingungan. Apalagi ketentuan harga rumah subsidi sudah ditetapkan oleh pemerintah. Kondisi ini buat kami kesulitan,” keluhnya.

Hingga memasuki bulan kedua terjadinya kelangkaan dan tingginya harga jual semen, Ma’ruf mengaku rugi, khususnya pada segi waktu dan materi. Apalagi, belum lama ini, pihaknya diwajibkan menyelesaikan salah satu perumahan di akhir bulan.

“Tapi, karena semen sedang langka, proses pembangunan kami tunda dulu. Kita tidak bisa berbuat apa-apa,” terangnya.

Dengan terhentinya proses pembangunan rumah subsidi, ia berharap pemerintah segera mengambil sikap, dengan mencarikan solusi. Pasalnya, jika ini terus berkelanjutan, tidak hanya berdampak pada pengembang saja, namun seluruh proses pembangunan di NTB yang tengah berproses.

“Kami harap masalah ini bisa segera normal. Karena kami harus segera proses pembangunan rumah KPR subsidi,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB Hj Putu Selly Andayani membenarkan jika stok semen menipis. Namun, ia memastikan distributor semen di luar NTB ketersediaan stok akan kembali terisi, khususnya, pada 18 September mendatang.

“Insyaallah, 18 September, NTB akan kedatangan pasokan semen 7.500 ton,” sebutnya. (dev)