Polisi Didesak Segera Beberkan Hasil Otopsi Jenazah Mahasiswi Unram

Ibu korban usai menjalani pemeriksaan di Polresta Mataram, Selasa (11/8)  (Dery Harjan/Radar Lombok)

MATARAM –  Kepolisian Resort Kota (Polresta) Mataram diminta segera beberkan hasil otopsi jenazah mahasiswi Universitas Mataram, Linda Novitasari yang ditemukan meninggal gantung diri di rumah kekasihnya di Perumahan Royal, Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram,  pada Sabtu (25/7).

Hasil otopsi yang dilakukan pada Senin (3/8) lalu belum juga dibeberkan oleh polisi. “Kita ingin tahu seperti apa hasilnya,”kata ibu korban Hj Armal, yang ditemui usai dimintai keterangan di Polresta Mataram, Selasa (11/8).

Kematian korban harus diusut tuntas. Kecurigaan pihak keluarga korban yang mengungkap adanya beberapa luka di bagian tubuh korban mengindikasikan bahwa korban bukan bunuh diri. Jika itu fakta yang terjadi,maka keluarga korban menuntut polisi mengusut pelakunya dan diberikan  hukuman setimpal atas perbuatannya. “Polisi harus usut pelaku dan apa motifnya. Dia (pelaku) harus dihukum seberat-beratnya,”pintanya.

Sementara itu pihak kepolisian yang dimintai keterangan terkait bagaimana hasil otopsi jenazah korban  hingga kini belum bersedia membeberkannya. Begitu juga dengan hasil penyelidikannya “Belum, nanti kita akan sampaikan,”kata Kapolresta Mataram, Kombes Pol Guntur Herditrianto.

Kasat Reskrim Polresta Mataram, AKP Kadek Adi Budi Astawa pun demikian. Ia belum bersedia dimintai keterangan mengenai masalah ini.”Untuk kasus Linda nanti dulu  karena belum komplit itu,”ucapnya singkat.

Diketahui, jenazah korban diotopsi usai hampir sepekan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Karang Medain, Mataram. Otopsi tidak dilakukan langsung begitu korban ditemukan meninggal karena pihak keluarga menolak saat itu. Namun belakangan pihak keluarga korban mencabut surat pernyataan penolakan dilakukannya otopsi. Pihak keluarga korban kemudian membuat surat permohonan dilakukannya otopsi. Polisi yang sedari awal menginginkannya otopsi pun langsung mengiyakannya. Otopsi kemudian dilakukan langsung di TPU Karang Medain.

Proses otopsi melibatkan tim forensic dari Universitas Mataram. Dari otopsi itu, tim forensik mengambil uterus atau rahim jenazah korban. Rahim almarhumah diambil petugas untuk diperiksa lebih lanjut. Tim forensik  mengangkat rahim korban. Diantaranya ingin mendalami dugaan awal yang muncul setelah olah TKP dan hasil visum rumah sakit yaitu dugaannya, korban meninggal dalam kondisi hamil. Dugaan ini menguat setelah ditemukannya hasil tes USG korban.  Rahim dari jenazah korban tersebut dibawa ke rumah sakit dan disimpan disana selama beberapa hari. Namun belakangan muncul kabar bahwa rahim jenazah korban tersebut akan dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Hal ini dilakukan atas permintaan penggali makam jenazah korban pada saat dilakukan otopsi. Sebab para penggali ini mengaku sakit beberapa hari membongkar makamnya jenazah korban. “Saya pernah bermimpi didatangi Linda pada minggu kemarin. Dia meminta apa yang saya diambil itu dikembalikan,”ungkap salah satu penggali makam yaitu Lalu Alimudin.

Saat ini Alimudin belum juga sembuh. Begitu juga dengan dua penggali makam lainnya. “Jadi ada tiga yang sakit,”ucapnya. Atas dasari itulah kemudian dia menelpon pihak keluarga korban agar bisa mengupayakan pengembalian organ tubuh jenazah korban berupa rahimnya.”Jika tidak kita khawatir tidak sembuh-sembuh nanti,”ucapnya. (der)