Persentase Kematian Covid-19 di Mataram di Atas Nasional

MENINGKAT: Persentase kematian akibat Covid-19 di Kota Mataram terus meningkat, dan masih yang tertinggi di NTB, bahkan persentasenya melebihi nasional. (ALI/RADAR LOMBOK KEMATIAN)

MATARAM — Kasus kematian akibat virus Covid-19 di Kota Mataram terus meningkat. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mataram tanggal 23 Maret 2021, warga Kota Mataram yang meninggal dunia akibat Covid-19 mencapai 126 orang. Persentase kematian Covid-19 di Kota Mataram ini bahkan melampaui nasional.

Sesuai data gugus tugas, persentase kematian Covid-19 di Kota Mataram sebesar 5,2 persen. Angka ini melampaui persentase nasional yang di atas 4 persen. Ini menandakan kematian akibat Covid-19 di Kota Mataram masih mengerikan.

“Iya persentase angka kematian akibat Covid-19 di Kota Mataram itu sekarang 5,2 persen. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya yang 4,9 persen. Persentase kita memang di atas rata-rata nasional,” ujar Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa di Mataram, kemarin (23/3).

Persentase ini juga tertinggi di NTB. Kabupaten lainnya di NTB dengan persentase di bawah 5 persen. Sejak awal covid-19 mulai terdeteksi di NTB. Persentase kematian di Kota Mataram akibat Covid terus tertinggi. “Datanya memang seperti itu. Kita masih tertinggi fatality rate-nya,” katanya.

Sementara untuk update data terbaru penyebaran Covid-19 di Kota Mataram. Dari total 2.636 pasien positif di Kota Mataram. 2.432 pasien sudah dinyatakan sembuh. Sedangkan yang masih dalam perawatan di rumah sakit 78 orang. Selanjutnya yang meninggal dunia 126 orang. ‘’ Harapannya angka kematian ini terus bisa ditekan,’’ ungkapnya.

Dengan persentase kematian yang meningkat. Nyoman kembali mengingatkan pentingnya untuk melaksanakan protokol kesehatan. Kemudian juga warga masyarakat perlu tetap menjaga imunitas tubuh. “Protokol kesehatan itu harga mati. Kita wajib patuh dan melaksanakannya,” terangnya.

Tapi di tengah upaya pemerintah untuk menekan angka kematian akibat Covid-19. Warga masyarakat cenderung abai dan terkesan menormalkan diri. Di beberapa titik masih ada kerumunan dan tidak menerapkan protokol kesehatan. “Itu persoalannya sangat kendor. Karena satu tahun ini kan ada kejenuhan. Lalu ada persoalan psiklogis dan eksternal membuat masyarakat kita abai. Penyebarannya juga meningkat,” jelasnya.

Oleh karena itu, Kota Mataram sangat setuju untuk melaksanakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro. Seperti diketahui, pemerintah puusat kembali memperpanjang PPKM berbasis mikro selama 14 hari, yakni dari tanggal 23 Maret sampai 5 April mendatang.

Kesiapan ini karena NTB bersama Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, adalah satu dari lima provinsi tambahan yang menerapkan PPKM berbasis mikro. “Kita siap saja. Kan ada keputusan pemerintah pusat untuk memperpanjang PPKM mikro. Kita juga termasuk provinsi tambahan. Jadi memang harus siap,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr H Usman Hadi juga membenarkan, angka kematian akibat Covid-19 di Kota Mataram meningkat. “Naiknya sejak Februari akhir-akhir ini. Kita memang tinggi dari sebelumnya yang 4 persen sekian itu. Tertinggi kita di NTB. Itu karena banyak yang komorbid terus meninggal dunia. Nanti mau dirapatkan juga tentang kematian yang meningkat ini,” katanya. (gal)