Pemprov Bina Alumni Perang Suriah dan Poso

Ilustrasi Teroris
Ilustrasi Teroris

MATARAM–Sejumlah warga NTB diketahui pernah  ikut berperang di Marawai melawan pemerintah Filipina.

Kepala Bidang (Kabid) Pengkajian Masalah Strategis dan Penanganan Konflik (PMS dan PK) Kesbangpoldagri NTB H Umar Berlian mengatakan, dari hasil penelusuran pihaknya, ada tiga warga NTB yang ikut kelompok jaringan ISIS berperang di Marawai, Filipina. Tiga orang pernah ikut ISIS  berperang di Suriah. 

Menurut Umar, tiga warga NTB yang pernah ke Suriah ini ikut sekelompok warga di Bandung, Jawa Barat. Ada 16 orang yang berangkat  ke Marawi. “Kalau warga NTB itu, mereka bergabung dengan kelompok  dengan aliran tertentu di Bandung dan berangkat ke Marawi. Setelah kami telusuri ternyata dari 16 orang kelompok Indonesia, ada tiga orang warga NTB yang merupakan alumni Suriah. Dua orang sudah diamankan, selanjutnya disusul satu orang lagi temannya yang sebelumnya sempat melarikan diri,” ungkapnya Kamis kemarin (6/7).

Mereka tertangkap saat kembali ke Indonesia setelah terdesak di Marawi. Mereka masuk ke Indonesia melalui Cebu, Filipina. Namun sesampainya mereka di Indonesia mereka sudah terdeteksi sehingga langsung diamankan. ”Tapi meskipun sudah ditangkap pelaku yang tiga orang, namun kita tetap melakukan pemantauan untuk mendeteksi kemungkinan adanya bibit- bibit yang tersebar di kampung tempat tinggalnya,”ujarnya.

Keterlibatan sejumlah oknum warga dengan kelompok terorisme tidak langsung terjadi di NTB. Mereka umumnya merantau keluar daerah. Setelah lama merantau, mereka tersusupi paham terorisme ini.  Menurut Umar, selain ada yang ke Suriah, ada juga yang ikut kelompok Santoso di Poso.

Mengantisipasi penyebaran paham radikal ini, pihaknya bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi NTB, aktif melakukan pembinaan kepada keluarga pelaku dan juga masyarakat yang terdeteksi terlibat.”Kita tetap bina kalau masalah itu karena di NTB tidak hanya masalah ISIS tapi ada juga alumni Poso yang sudah selesai,”ungkapnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB  sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota  dengan   membuat surat edaran agar memantau dan mengevaluasi kondisi di sekelilingnya. Karena saat ini yang menjadi target  pelaku teror adalah aparat kepolisian dan pemerintahan. ”Pak Gubernur juga sudah membuat surat edaran untuk memantau peredaran aliran radikal ini,”ungkapnya

Ketua FKPT Provinsi NTB Drs H Lalu Mudjitahid menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap warga NTB yang dianggap sudah pernah menjalani didikan ISIS. Bahkan pembinaan tersebut tidak hanya dilakukan bagi pelaku melainkan juga untuk keluarganya. ”Untuk alumni Suriah tetap kita lakukan pembinaan dan pemantauan bahkan hingga sampai keluarganya dan yang saya ketahui baru dua orang yang dulu saja,”ujarnya.

Disampaikan juga bahwa potensi untuk penyebaran paham ISIS di NTB sangat kecil. Masyarakat NTB sangat kental dengan jiwa religius dan toleransinya. Adanya masyarakat NTB yang menjadi anggota ISIS karena mereka menuntut ilmu diluar NTB.”Untuk data lengkap alumni Suriah ada di sekretaris (FKPT). Kami tetap melakukan pembinaan serta sosialisasi dan hingga kini program  sosialisasi tetap berjalan,”ungkapnya.

Sebelumnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius mengungkapkan, banyak warga negara Indonesia (WNI) yang pernah ikut berperang di Suriah dan kini kembali ke tanah air. Menurutnya, para alumni perang Suriah itu telah menyebar di berbagai daerah di Indonesia.(cr-met)