Muhammad Haykal Fathurrahman, Wakil NTB di Lomba Bercerita Tingkat Nasional

MUHAMMAD HAYKAL FATHURAHMAN murid kelas IV Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Leu, Kecamatan Bolo Kabupaten Bima terpilih mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di lomba bercerita tingkat nasional di Jakarta dari tanggal 14 -16 Agustus 2016.  Haykal akan bersaing dengan wakil dari 34 provinsi se- Indonesia untuk mendapatkan juara I di ajang yang dilaksanakan Pusat Perpustakaan Nasional tersebut.

 


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


 

 

Haykal biasa disapa di lingkungan sekolahnya di daerah pinggiran Kabupaten Bima ini merupakan sosok yang pemalu dan pendiam. Namun dalam kepribadian pemalu dan pendiam itu memberi inspirasi dan kelebihan dalam diri anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Kisman (bapak) dan Suhadah (ibu).

Murid  kelahiran Desa Leu, Bolo, Bima, 14 November tahun 2005 ini mulai tertarik mengikuti lomba bercerita disaat duduk di bangku kelas III tahun 2016. Ketika itu, lomba bercerita tingkat Kabupaten Bima tinggal satu minggu, Haykal ditunjuk oleh guru pembimbingnya di SDN Inpres Leu, Bolo Kabupaten Bima untuk mewakili sekolahnya di ajang lomba bercerita tersebut.

Haykal langsung menerima permintaan dari guru pembimbing untuk mengikuti lomba bercerita, meski tanpa ada persiapan yang matang, sementara waktu sangat ‘mepet’ (pendek) untuk melakukan persiapan. Guru pembimbing untuk mengajarkan bercerita, Siti Aisyah kemudian membuatkan naskah cerita rakyat asal Bima yang berjudul “Parise Buncu” yang diketik dalam lima lembar kertas ukuran legal.

Butuh waktu tiga hari bagi Haykal untuk menghafal naskah cerita yang diketik dalam lima lembar kertas berukuran legal tersebut. Alhasil, meski pesrsiapan yang begitu mendadak, justru membawa berkah bagi Haykal, dengan berhasil meraih juara I di tingkat Kabupaten Bima. Lagi-lagi, di ajang lomba bercerita tingkat Provinsi NTB, Haykal berhasil meraih juara I dan mewakili NTB di ajang tingkat nasional. “Pagi-pagi bangun tidur setelah shalat Subuh, langsung membaca. Begitu juga sebelum tidur baca buku dulu, baru tidur,” tutur Haykal kepada Radar Lombok didampingi Kepala SDN Inpres Leu, Bima, Ahmad Marhaban dan Siti Aisyah guru pembimbing berceritanya  Sabtu  lalu ( 13/8).

Haykal merupakan anak yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sang bapak, Kisman mata pencaharian sehari-harinya sebagai buruh tani. Sementara sang ibu, Suhadah sehari-hari bekerja menjadi tukang setrika baju orang lain untuk mendapatkan upah sekedarnya. Meski berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi jauh dari kata layak, Haykal menunjukan bisa berprestasi di sekolahnya.  Bahkan sejak duduk dibangku kelas I-III, Haykal selalu menjadi juara kelas, sementara ketika semester kenaikan kelas IV, Haykal terpaksa berada di rangking ke II (dua). Kendati demikian, Haykal tak lantas, patah semangat, justru itu membuat dirinya semakin lebih semangat untuk belajar meningkatkan prestasinya bahkan hingga tingkat nasional seperti sekarang ini, menjadi wakil NTB di kancah nasional.

Meski masih duduk di bangku SD kelas IV, namun ternyata Haykal memiliki pemikiran yang luar biasa dan jarang terdapat di pikiran anak sebayanya. Dalam obsesi Haykal dalam ajang lomba bercerita tingkat nasional ini adalah bisa meraih juara I. Harapan dan keinginan Haykal itu cukup beralasan, karena ia ingin sekali bisa memberikan kado yang paling spesial bagi bapak dan ibunya untuk membahagiakan kedua orang tuanya tersebut. “Kalau dapat juara I nasional, saya mau belikan bapak sepeda motor. Saya kasihan sama bapak, jalan kaki kerja jadi buruh tani,” ungkap Haykal dengan tatapan mata tajam memandang arah atas.

Haykal di lomba bercerita tingkat nasional yang berlangsung dari tanggal 14 – 16 Agustus 2016 akan membawakan naskah cerita rakyat asal Bima yang berjudul “Parise Buncu” dalam bahasa Indonesianya adalah Parisai di Desa Buncu yang ada di wilayah Sape, ujung timur Kabupaten Bima. Cerita Rakyat Bima ‘Parise Buncu” ini merupakan cerita perjuangan seorang tokoh adat atau kepala kampung yang bijaksana memperjuangkan rakyatnya dari penindasan raksasa yang jahat.

Saat menyampaikan cerita tersebut di hadapan penonton dan dewan juri, Haykal memperagakannya dengan gerakan semua anggota tubuhnya hingga suara yang dikeluarkan sesuai dengan tokoh di dalam cerita tersebut. Jika lolos di babak penyisihan membawakan cerita rakyat ‘Parise Buncu’, maka di ajang final, Haykal akan membawakan cerita rakyat asal Bima dan Dompu yakni ‘Legenda Gunung Tambora’.

Kepala Sekolah Haykal di SDN Inpres Leu, Kecamatan Bolo, Bima yang ikut langsung mendampingi Haykal berlomba di Jakarta, Ahmad Marhaban berharap  masyarakat NTB ikut mendoakan anak didiknya tersebut agar sukses berlomba dan meraih juara di tingkat nasional. Selain mengharumkan nama NTB di tingkat nasional, Haykal bisa membahagiakan kedua orang tuanya, sebagaimana keinginannya untuk membelikan bapaknya sepeda motor sebagai alat transportasi mencari nafkah sehari-hari dari keluarga Haykal.(*)