Mengenal Komunitas Narmada Solidarity

Bangun Rumah Lansia dan Tempat Ibadah secara Swadaya

Komunitas Narmada Solidarity
DIBANGUN : Salah satu rumah Lansia yang dibangun oleh anggota komunitas Narmada Solidarity belum lama ini. (Sudir/Radar Lombok)

Aksi mereka patut dicontoh. Anggota komunitas Narmada Solidarity mengungkapkan kepedulian mereka terhadap para Lansia yang tinggal di rumah yang tak layak. Anggota ini terdiri dari beragam profesi. 


SUDIRMAN-LOBAR


Sumringah terlihat di wajah Papuk Mire (80 tahun) di Dusun Peresak Selatan, Narmada. Biasanya ia tidur di tempat yang sudah tidak layak sebatang kara. Rumah itu berukuran 5 x 6 meter, beratapkan terpal. Kini ia senang karena mendapat bantuan dari komunitas Narmada Solidarity. Komunitas ini beranggotakan 10 orang.

Fokus komunitas ini unik, yakni memperhatikan nasib para lanjut usia (Lansia). Saat ini masih banyak Lansia yang tidak diurus maksimal oleh keluarga mereka dan terpaksa tinggal di tempat yang tidak layak.

Kondisi para Lansia membuat anggota komunitas ini tergerak. Saat ini sudah puluhan rumah berdiri. Salah satunya rumah Papuk Mire. Rumahnya berdiri secara permanen dengan atap seng, tidak terpal lagi.

BACA JUGA: Kisah Para Guru Guru Honor di Pulau Terpencil Lombok Timur

Komunitas ini terbentuk tahun 2014 lalu. Gerakan sosial komunitas ini terus berjalan untuk membangun rumah bagi warga tidak mampu, khususnya Lansia.” Kita fokus ke fasilitas umum, serta rumah Lansia kurang mampu. Dana  dikumpulkan secara swadaya dengan kelompok,  kita bantu orang tidak mampu,” kata Henni Ayu Trisna, salah satu anggota komunitas ini kepada Radar Lombok, Kamis (20/12).

Anggota komunitas datang dari berbagai profesi seperti guru, pegawai honor hingga pedagang asongan. Rasa solidaritas terus terbangun untuk membantu kalangan warga tidak mampu selama ini. Bukan hanya di Narmada, namun juga di wilayah lain. Masyarakat bisa memberikan informasi melalui media sosial ke komunitas tentang tempat dan lokasi rumah warga tidak mampu. Tim kemudian turun langsung, layaknya program bedah rumah di salah satu televisi swasta. “Kita membangun rumah sederhana dengan gotong-royong, sesuai dengan kebutuhan pemilik rumah,” ungkapnya.

Langkah ini, kata Heni, juga salah satu cara membantu kalangan warga tidak mampu. Apalagi mereka tinggal di tempat yang tidak layak pada usia yang sudah di atas 80 tahun. “Rata-rata yang kami temukan banyak Lansia yang tinggal sendiri tidak ada keluarga. “ Ini yang kita bantu, sehingga mereka bisa istirahat di tempat yang nyaman,” ucapnya.

Anggota komunitas Anggota komunitas bekerja dengan riang. Ada yang jadi tukang pasang batako, keramik,  atau tukang cat. Satu rumah sederhana bisa diselesaikan empat sampai lima hari tergantung cuaca. Satu rumah yang dibangun permanen bisa menghabiskan puluhan juta. Sumbangan datang dari anggota selama ini. Setiap bulan selalu ada tabungan khusus dari penghasilan yang didapat. “Alhamdulillah, berkat kekompakan dan kepedulian bersama mimpi Lansia bisa terwujud,” ucapnya.

BACA JUGA: Melihat Aktivitas Pembuatan Terompet Jelang Tahun Baru

Henni menyebutkan dengan kerjasama dan kekompakan masyarakat maka semua yang berat akan terasa ringan. Selain rumah tidak layak huni, juga ada program pembangunan tempat ibadah dan dapat terlaksana dengan cepat. Masyarakat  juga kompak memberikan bantuan.“Saya berharap agar kerja ini bisa dilaksanakan secara bersama-sama,” tambahnya.

Warga banyak membantu secara  bersama-sama memberikan sumbangsih secara moril maupun materil agar proses pembangun rumah tidak layak maupun rumah ibadah berjalan lancar. “Kita juga mulai perbaikan rumah ibadah yang terkena dampak gempa di beberapa wilayah,” pungkasnya.(*)