Lulusan SMK dan Sarjana, Pengangguran Tertinggi

BPS
KEPENDUDUKAN: Kabid Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi NTB, Isa Ansyori, MM, dan Kepala Seksi Statistik Kependudukan, BPS Provinsi NTB, Indra Dewi, SST, saat memberikan keterangan pers, Jum'at (5/5). (LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat jumlah penggangguran terbuka yang berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan lulusan strata satu (S1) menjadi pengangguran tertinggi di Provinsi NTB.

Pada Februari 2017, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada penduduk dengan pendidikan SMK menempati posisi tertinggi, yaitu sebesar 11,12 persen, disusul oleh TPT lulusan perguruan tinggi  sebesar 6,99 persen. Sementara TPT terendah terdapat pada penduduk dengan tingkat pendidikan SD kebawah sebesar 1,84 persen.

Kepala Seksi Statistik Kependudukan BPS Provinsi NTB, Indra Dewi menyebut  jumlah angkatan kerja di Provinsi NTB pada Februari 2017 mencapai 2.520.067 orang bertambah sekitar 56.340 orang, jika dibandingkan dengan angkatan kerja Agustus 2016 yang berjumlah 2.464.033 orang. Serta  bertambah sekitar 138.005 orang, jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2016.

Sementara itu jumlah penduduk yang bekerja di NTB pada Februari 2017 mencapai 2.423.045  orang, bertambah sekitar 56.140 orang jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2016 yang berjumlah sekitar 2.367.031 orang. Serta bertambah sekitar 128.001 orang, jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2016.”Secara umum jumlah pengangguran pada Februari 2017 di NTB terjadi penurunan,” kata Dewi, Jumat kemarin (5/5).

Namun jika melihat jumlah penduduk yang menganggur, terjadi peningkatan pengangguran penduduk yang  berpendidikan sarjana. Pada tahun 2016 tercatat  sebesar 2,71 persen, maka pada Februari 2017 justru  meningkat cukup drastis, yakni mencapai 6,99 persen dari jumlah pengangguran sekitar 97.022 orang.   Kenaikan tingkat pengangguran terbuka yang cukup tinggi juga dialami lulusan SMK. Dimana pada tahun 2016 jumlah TPT lulusan SMK sebesar 5,19 persen meningkat tajam di Februari tahun 2017 menjadi sebesar 11,12 persen.

Justru untuk lulusan diploma kecendrungannya jumlah TPT mengalami penurunan. Dimana pada Februari 2016, jumlah TPT sebesar 4,61 persen maka pada Februari 2017 ini menurun menjadi 2,78 persen. Begitu juga TPT dengan pendidikan SD dan SMP juga cukup rendah masing masing 3,17 persen untuk SMP dan 1,84 persen untuk SD.

Dijelaskan, TPT di NTB pada Februari 2017 mencapai 3,86 persen. Kondisi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan TPT Agustus 2016 sebesar 3,94 persen.  TPT NTB masih berada di bawah nasional. Untuk  Indonesia kondisi Februari 2017 tingkat pengangguran terbuka NTB adalah 5,33 persen.

Pada Februari 2017, sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di NTB adalah sektor pertanian yaitu sekitar 42,20 persen, diikuti oleh sektor perdagangan sekitar 21,79 persen, sektor jasa sosial kemasyarakatan dan jasa perorangan sekitar 16,05 persen, serta sektor industri sekitar 7,29 persen.

Berdasarkan jumlah jam kerja, pada Februari 2017, penduduk yang bekerja pada kelompok 35 jam keatas perminggu mencapai 1.477.052  orang atau 60,97 persen. Sementara dalam setahun terakhir,  pekerja tidak penuh atau jumlah jam kerja kurang dari 35 jam per minggu berkurang sekitar 7.120 orang.

Selanjutnya pada Februari 2017, penduduk bekerja  masih didominasi oleh penduduk yang berpendidikan SD kebawah yaitu sekitar 1.177.060  orang ata 48,59 persen. Penduduk bekerja berpendidikan tinggi hanya sekitar 245.270 orang mencakup 49.150 orang  atau 2,03 persen berpendidikan Diploma dan 196.120 orang atau 8,09 persen berpendidikan sarjana. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid