Lobster Bisa Jadi Ikon Kuliner Lombok Tengah

NELAYAN LOBSTER: Calon Bupati Loteng, H Masrun ketika turun dan berbincang dengan para nelayan lobster di Loteng. (ist for radarlombok.co.id)

PRAYA—Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengeluarkan regulasi baru terkait ekspor komoditas lobster. Regulasi tersebut adalah Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 12 Tahun 2020. Tak hanya mengatur pengelolaan lobster, Permen KP ini juga mengatur pengelolaan kepiting dan rajungan. Permen juga kembali membolehkan nelayan untuk menangkap bibit Lobster.

Peraturan Menteri KP Edhy Prabowo itu membawa angin segar bagi nelayan, termasuk nelayan di Lombok Tengah. Pasalnya sejak 2016 silam, di saat Menteri KP saat itu Susi Pudjiastuti melarang penangkapan bibit Lobster, para nelayan jadi serba susah. Potensi ada di depan mata, tapi jika digarap bisa terancam berhadapan dengan hukum.

Kini para nelayan bisa lega, mereka bisa kembali berburu “emas putih” dari laut Selatan Lombok ini. Potensi Lobster di perairan selatan Lombok Tengah memang luar biasa. Harganya juga bersaing, sebab komoditas ini sebagian besar memenuhi pasar ekspor.

Terkait itu, Calon Bupati Lombok Tengah, H Masrun menilai, potensi kelautan dan perikanan di Lombok Tengah memang melimpah, dan Losbter bisa menjadi ikon untuk Lombok Tengah Mendunia. Apalagi secara nasional di Indonesia hanya ada beberapa pantai dan pesisir yang menjadi habitat Lobster, baik jenis pasir maupun mutiara. Salah satunya di perairan selatan pulau Lombok, termasuk Lombok Tengah.

“Saya pikir Lobster ini sangat seksi. Ibarat emas putih, dia mahal, punya gengsi, dan hanya ada di beberapa tempat saja termasuk Lombok Tengah. Lobster bisa menjadi ikon kuliner Lombok Tengah Mendunia suatu saat kelak,” kata H Masrun, Minggu (2/8/2020).

Selain ekspor, ke depan Masrun mengatakan, potensi Lobster laut di Lombok Tengah juga harus mulai digarap dan dikembangkan secara budidaya. Sehingga para nelayan tidak hanya menikmati nilai ekonomis dari bibit Lobster tetapi juga manfaat dari hasil budidaya. Hal ini perlu dilakukan agar produksi Lobster dewasa untuk konsumsi juga bisa ditingkatkan di daerah, dan selanjutnya bisa dikreasikan dan menjadi kuliner andalan daerah.

“Bayangkan kalau di kawasan selatan nanti dibangun pusat kuliner Lobster, dengan harga terjangkau dan mutu yang bersaing. Orang-orang dari penjuru Indonesia bahkan dunia akan datang hanya untuk menikmati Lobster Lombok Tengah,” ujar Cabup pilihan PKB ini.

Lombok Tengah saat ini menjadi destinasi wisata yang berkelas internasional setelah KEK Mandalika ditetapkan sebagai destinasi superprioritas nasional. MotoGP 2021 juga akan melejitkan daerah ini menuju destinasi mendunia.

Menurut Masrun, sebagai destinasi wisata berkelas internasional, sektor pariwisata di Lombok Tengah harus bisa menjadi pemicu bangkitnya perekonomian di sektor lainnya termasuk pertanian, peternakan, dan perikanan kelautan.

Dari segi potensi kelautan dan perikanan, Lombok Tengah memiliki banyak komoditi baik ikan tangkapan, budidaya perikanan, rumput laut, bahkan Mutiara selatan (South Sea Pearl). Semua ini bisa mengisi kebutuhan sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, hingga souvenir.

Potensi itu sudah di depan mata. Saat ini Pemprov NTB juga tengah mengembangkan kawasan Teluk Awang di Lombok Tengah sebagai klaster Minapolitan Lombok. Dan menurut Masrun, Pelabuhan Perikanan Teluk Awang dan minapolitannya bisa menjadi pintu masuk pengembangan kuliner laut, dengan ikon utama Lobster nantinya.

Calon Bupati Idola yang terus turun lapangan ini mengatakan, kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan harus mampu meningkatkan derajat dan martabat perekonomian masyarakat khususnya para nelayan. Para nelayan harus bisa semakin sejahtera, di mana pemerintah memfasilitasi dan teknologi saat ini sudah sangat mendukung untuk semua sektor bertumbuh dengan baik. “Kita bisa fasilitasi para nelayan, dengan pendampingan inovasi dan kreativitas, mereka juga punya peluang membuka bisnis kuliner yang bahannya dari mereka sendiri, terlebih Lobster ini,” tukasnya.

Masrun menegaskan, pemberdayaan nelayan juga harus menjadi tugas dan tanggungjawan perusahaan swasta yang berinvestasi di Lombok Tengah, termasuk perusahaan eksportir Lobster nantinya. Swasta bisa berperan strategis dengan pola kemitraan dengan nelayan dan kelompok nelayan, dan juga mensupport melalui program CSR mereka. “Jadi semua sektor digarap bersama dengan pola partisipatif. Saya yakin Lombok Tengah Mendunia bukan sekadar mimpi manis,” pungkasnya. (met)