Lalu Yulhaidir Pendiri Komunitas Parenting Lombok, Dirikan Ponpes Bertaraf Internasional, Perwakilan di 18 Provinsi dan 2 Negara

KONSELING: Lalu Yulhaidir, pendiri KREN belum lama ini memberikan pelayanan peningkatan kualitas pengasuhan anak pada masyarakat. (IST/RADAR LOMBOK)

Nama Lalu Yulhaidir, mungkin masih asing di telinga masyarakat Provinsi NTB. Padahal dia adalah sosok pemuda inspiratif asal Lombok Timur, yang merupakan pendiri Komunitas Parenting (KREN) Lombok. Seperti apa kiprahnya?

SOSOK Lalu Yulhaidir, adalah salah satu sarjana psikolog kelahiran Anjani, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur. Saat ini ia sedang menuntaskan S3 Psikolog di Universitas Negeri Malang. Keahliannya di bidang psikologi, memotivasinya untuk mendirikan Komunitas Parenting (KREN) Lombok di Tahun 2017 lalu.

Komunitas Parenting (KREN) Lombok yang dikembangkan bersama teman-temannya, selama ini ia selalu aktif memberikan pelayanan peningkatan kualitas pengasuhan anak pada masyarakat. Bahkan komunitasnya saat ini telah memiliki perwakilan di 18 provinsi se-Indonesia dan dua negara, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Selain memberikan penyuluhan, bincang santai juga diisi dengan konseling psikolog gratis. Jika ada peserta bincang santai yang ingin mendapatkan pendampingan lanjutan, dengan senang hati Kren Lombok memberikan pelayanan.

“Mereka bisa mendapatkan layanan pendampingan psikososial gratis di kantor Kren Lombok,”tutur Yulhaidir.

Kren Lombok merupakan satu dari begitu banyak kendaraan yang digunakan Yulhaidir dalam mengamalkan ilmunya pada masyarakat. Kendati masih muda, calon doktoral psikologi pendidikan Universitas Negeri Malang itu memiliki banyak kendaraan lain berupa berbagai lembaga dan organisasi. Salah satunya adalah organisasi Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) NTB yang ia pimpin dari 2017 sampai sekarang.

Baca Juga :  MENGENAL ROI LASMANA, ANGGOTA LEGISLATIF TERMUDA DPRD NTB

Tahun 2013 sampai 2017, ia menjadi Ketua Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) NTB. Selain itu ia juga menjadi tenaga ahli dalam bidang psikologi pendidikan dan pengasuhan anak, dan dipercaya sebagai tim pakar audit stunting anak pada tahun 2022.

Pada 2022 lalu, atas kerja panjangnya tersebut, ia bersama HIMPSI NTB meraih penghargaan anugerah perlindungan anak dari KPAI. Selain itu ia juga dipercaya membantu Ketua TPP PKK NTB Hj Niken Zulkiflimansyah dan instansi pemerintah terkait membuat modul pengasuhan untuk anak dan remaja.

“Pentingnya pola asuh dalam mencegah berbagai persoalan pada anak dan remaja. Itulah mengapa saya  mendedikasikan hidup  untuk memberikan penyuluhan dan konseling gratis. Di tengah kesibukan menyelesaikan pendidikan S3, saya  tetap meluangkan waktu memberikan pelayanan konseling gratis secara daring dan luring,” imbuh dia.

Tentu ia tidak sendiri. Kren Lombok didirikan dan dijalankan oleh pengurus dan anggota dari berbagai macam profesi.  Selain mengembangkan komunitas parenting Lombok, bersama rekan-rekannya, keseharian Lalu Yulhaidir adalah melakukan pendampingan pada beberapa sekolah.

Itulah mengapa ia juga berinisiatif mendirikan sebuah pondok pesantren dengan sistem pengasuhan yang berpihak pada santri. Salah satu sekolah yang selama ini rutin ia dampingi adalah SDIT Nurul Fikri. Di beberapa sekolah tersebut, tidak hanya memberikan materi parenting, namun ia juga memberikan pelayanan lebih seperti pendampingan anak berkebutuhan khusus, anak dengan kasus kekerasan seksual, dan anak dengan berbagai persoalan lainnya.

Baca Juga :  CERITA BAIQ AYU DARMA NING TYAS MENGAJAR ANAK-ANAK DI PELOSOK

Yulhaidir tidak banyak berhitung soal berapa honor yang ia dapatkan dari membantu orang tua meningkatkan pengetahuannya dalam mengasuh anak-anak mereka. Karena ia menginginkan semakin banyak orang tua yang mendapatkan pengetahuan tentang cara baik mengasuh anak, maka akan semakin banyak anak yang terselamatkan dari berbagai persoalan. Terutama kasus kekerasan seksual yang tengah marak terjadi di gumi patuh karya.

Itulah mengapa ia juga mendirikan sekolah bernama Cahaya Bangsa Internasional Islamic Boarding School atau pondok pesantren. Tidak seperti Ponpes pada umumnya, ponpes cahaya bangsa memberikan kebebasan pada santri untuk pulang dan dijenguk kapan saja oleh orang tua mereka.

“Alhamdulillah, sampai saat ini di cahaya bangsa tidak ada satu pun kasus kekerasan pada anak. No perundungan, no kekerasan seksual. Semua zero sampai saat ini,” tandasnya. (GAZALI – LOMBOK TIMUR)

Komentar Anda