Kolektor Pamerkan Keris Kuno di Museum NTB

MATARAM—Bertempat di lobi dan selasar Museum Negeri NTB, 20 kolektor benda antik yang tergabung dalam “Lombok Mandalika Keris”, Kamis (15/9), memamerkan sekitar 40 keris-keris kuno peninggalan masa lalu di Pulau Lombok.

“Sebenarnya diluaran sana, masih banyak keris-keris kuno yang dipegang oleh kolektor, maupun orang per orang yang menguasai secara turun-temurun,” kata Syafari Habibi, SH, Penasehat Lombok Mandalika Keris, ketika ditemui Radar Lombok usai pembukaan Pameran Keris Milik Kolektor, kemarin.

Hanya saja lanjut Habibi, dengan banyaknya koleksi yang dimiliki oleh orang per orang, maka kalau suatu saat mereka terdesak ekonomi, dan kemudian diiming-imingi materi (uang) besar agar benda koleksinya dijual, tentu saja mereka pasti akan terpincut juga.

“Kalau hal ini sampai tidak ada yang peduli. Maka ketakutan kami, jangan sampai benda-benda peninggalan leluhur Lombok ini kemudian dibeli kolektor luar daerah, bahkan luar negeri. Sehingga anak cucu kita akan kehilangan jejak leluhurnya sendiri,” ujar Habibi menyayangkan.

Keikutsertaan para kolektor keris dalam pameran di Museum Negeri NTB lanjutnya, selain hendak mengenalkan berbagai jenis keris kuno yang menjadi koleksinya. Sekaligus sebagai pembelajaran kepada para pengunjung, bahwa di Pulau Lombok juga memiliki kekayaan seni berupa kerajinan keris di masa lalu, sama seperti daerah-daerah lainnya di Nusantara (Indonesia).

Selain Pameran Keris Kuno, masih di lokasi Museum Negeri NTB juga sedang berlangsung Seminar Nyongkolan dan Bazaar di depan Museum NTB, yang diisi oleh para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Mataram. “Kami sangat mengapresiasi berbagai kegiatan yang dihelat Museum Negeri NTB ini, sebagai rangkaian Bulan Budaya Lombok Sumbawa (BBLS) 2016,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, HL Moh. Faozal.

Keterlibatan para kolektor keris dalam pameran sambung Faozal, merupakan langkah maju untuk lebih mengenalkan kekayaan seni dan budaya masyarakat Lombok di masa lalu melalui koleksi keris milik para kolektor, yang tidak dapat dijumpai di Museum Negeri NTB. “Sebagaimana kita ketahui bersama, untuk menambah (membeli) koleksi benda-benda bersejarah, Museum Negeri NTB merasa kesulitan, khususnya dalam hal penganggarannya,” bebernya.

Sulitnya penganggaran dilakukan, karena nilai jual suatu benda bersejarah seperti keris misalnya, sangat sulit sekali untuk dilakukan penilaian nominalnya. “Karena itu, kami merasa kesulitan menyusun postur penganggaran untuk membeli koleksi benda bersejarah baru bagi Museum NTB. Karena benda-benda antik dan bersejarah ini memang tidak bisa dinilai dengan uang. Sementara untuk penganggaran pemerintah itu harus yang sudah pasti-pasti,” ujar Faozal.

Terkait Seminar Nyongkolan, kembali Faozal yang orang Lombok Timur asli ini menceritakan keluhannya ketika dihadapkan pada macetnya jalan raya akibat sedang berlangsung tradisi Nyongkolan. “Kami miris sekali dengan tradisi Nyongkolan ini. Hari Minggu kalau kita sudah lewat dari jam empat (16.00), maka di jalan negara arah Lombok Timur – Mataram itu pasti macet sekali. Belum lagi melihat orang yang nyongkolan saat ini seperti sudah keluar dari pakemnya, dimana ada yang pakai celana panjang, tapi menggunakan sapuq (ikat kepala), kemudian ada seni Kecimol yang diikuti oleh joget-joget tidak jelas, sehingga mengganggu para pengguna jalan, dan merepotkan bapak-bapak polisi yang mengawal,” beber Faozal.

“Paling tidak, melalui seminar Nyongkolan yang berlangsung di Museum NTB, dengan para narasumber yang berkompeten. Maka kedepan pelaksanaan tradisi Nyongkolan bisa dikembalikan lagi sesuai pakemnya. Sehingga kekayaan seni budaya nenek moyang ini tidak semakin tegreus jaman,” harap Faozal. (gt)