JODA Ditarget Unggul 15 Persen dari NADI

UNGGUL: Ketua Tim Pemenangan JODA, Raden Nuna Abriadi didampingi Sekretaris Tim Pemenangan JODA, Sudirsah Sujanto optimistis memenangkan JODA pada Pilkada KLU 2020. (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Tim Pemenangan Johan Sjamsu-Danny Karter Febrianto Ridawan (JODA) optimistis akan mampu mengungguli Najmul Akhyar-Suardi (NADI) pada Pilkada Kabupaten Lombok Utara (KLU) 2020. Tidak tanggung-tanggung, keunggulan ditargetkan 12 sampai 15 persen dari NADI. “Kita target selisih kemenangan untuk JODA AKBAR 12 sampai 15 persen,” jelas Ketua Tim Pemenangan JODA AKBAR Raden Nuna Abriadi, kemarin.

Menurut mantan Ketua DPC PDIP KLU ini, besaran 12 sampai 15 persen sudah melalui kalkulasi politik. Mengacu Pilkada KLU 2015, kemenangan Najmul Akhyar-Sarifudin (NASA) tidak terlepas dari mesin politik Gerindra, PDIP, dan PKB. Saat itu NASA unggul dari Johan Sjamsu-Mariadi (JADI)  berkisar 8 ribu suara atau 7 sampai 8 persen.

Dan sekarang Gerindra, PDIP, dan PKB mengusung JODA. NADI sendiri diusung oleh lebih banyak kursi parpol. Tetapi secara jumlah raihan suara, lebih banyak raihan parpol pengusung JODA. Misalnya Gerindra pada Pileg 2019 meraih 22 ribu suara, PDIP 16 ribu suara, PKB 12 ribu suara. “Dengan jumlah DPT pilkada KLU berkisar 160 ribu, bisa dikalkulasikan target hitungan kemenangan paslon JODA AKBAR,” lugasnya.

Saat ini lanjutnya, aura kemenangan JODA AKBAR tidak hanya mengacu kepada hitungan di atas kertas. Melainkan juga di tingkat lapangan sangat terasa. Masyarakat begitu antusias menghendaki perubahan kepemimpinan di kabupaten termuda di NTB ini. “Ini menambahkan optimisme kami. Dengan antusias masyarakat di tingkat bawah terhadap paslon JODA AKBAR,” ucap Anggota DPRD NTB Dapil KLU-Lobar ini.

Sekretaris Tim Pemenangan JODA AKBAR, Sudirsah Sujanto menambahkan, kekecewaan masyarakat terhadap kepemimpinan Najmul Akhyar begitu besar. Berbagai program yang dijanjikan Najmul Akhyar pada Pilkada KLU 2015 tak ada terealisasi. Misalnya satu dokter satu desa. Tidak pernah terbukti. Sebab itu, Gerindra ogah mengusung Najmul lagi. Jangan sampai masyarakat KLU mengalami kekecewaan kedua kali. “Tidak ada luar biasa dalam pembangunan KLU lima tahun terakhir ini. Ini membuat kami berjuang untuk ada perubahan kepemimpinan di KLU,” pungkasnya. (yan)