Harga Gabah Anjlok, Bulog dan Tengkulak Diduga Bermain

Harga Gabah
MENGELUH: Para petani mengeluhkan harga gabah yang turun drastis. (Sudir/Radar Lombok)

MATARAM — Anjloknya harga gabah membuat para petani meringis. Kondisi ini sangat dikeluhkan oleh para petani di Kota Mataram.

Ketua Kelompok Tani Budidarma Kelurahan Ampenan Utara Lukman mengatakan, saat musim panen raya harga gabah semakin anjlok. Saat ini, harga gabah Rp 33o ribu per kwintal. Harga tersebut dianggap jauh dari Harga Eceran Tetap (HET) yang ditetapkan pemerintah Rp 470 ribu.

‘’Sangat jauh, tapi petani sudah pasrah. Kita juga menjualnya ke tengkulak karena selama ini Bulog tidak pernah mengambil hasil petani,’’ katanya, kepada Radar Lombok,  Rabu kemarin, (10/4).

BACA JUGA: Tiket Pesawat Mahal, Omzet Toko Oleh-oleh Anjlok 70 Persen

Untuk kelompok tani yang dibawahinya, jelasnya, per 1 hektar lahan bisa menghasilkan sekitar 7,5 ton. Jumlah panen itu dianggap cukup baik.

Hanya saja, siklus tahunan menyangkut harga membuat petani disebutnya semakin kesal. Penyebabnya, syarat dari Bulog untuk bisa diambil gabah petani semakin ketat, seperti kering giling, maupun kualitas padi yang diambil.

‘’Selama ini, Bulog selalu berdalih alasan dengan kualitas dari hasil panen padahal dari awal petani mengambil bibit berkualitas,’’ ucapnya.

Ketua kelompok Tani Sumber Harapan Lingkungan Jempong Wereng Kelurahan Ampenan Utara, H Hambali, juga menyayangkan setiap panen raya harga   gabah selalu anjlok.  Harga yang jauh dari harapan membuat petani disebutnya kian menjerit.

‘’Kita tidak balik modal, ongkos buruh tani semakin naik,’’ ucapnya.

Katanya, rata-rata setiap panen di lahan seluas 17 hektar bisa menghasilkan puluhan ton gabah. Namun anjloknya harga ini disinyalir ada dugaan permaian harga antara tengkulak dengan Bulog. Terlebih penurunan harga ini terjadi setiap kali panen raya.

‘’Sementara saat akhir tahun maupun awal tahun harga gabah selalu meroket,’’ ucapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H Mutawali mengatakan, seharusnya harga 100 kg gabah mestinya Rp 470 ribu sesuai HET nasional. ‘’Kita berharap Bulog berperan menstabilkan harga. Selama ini selalu membeli di bawah harga pasaran,’’ katanya.

BACA JUGA: Bawang Merah NTB Ekspor Melalui Brebes

Akibat harga yang dipatok terlalu rendah oleh Bulog, jelasnya, petani banyak menjual ke pengempul. Di lain sisi, Bulog disebutnya memiliki banyak standar untuk bisa menyerap gabah petani. Sebut saja seperti kadar air  dan tingkat kebersihan gabah.

Lantaran syarat-syarat yang ditentukan itu, lanjutnya, terkadang petani tidak mau ribet sehingga menjual langsung ke pengepul. ‘’Kasihan petaninya saat mereka panen harga anjlok,’’ ucapnya.

Petani saat ini, kata Mutawali, sudah menanam bibit padi yang berkualitas. Sementara hasil panen yang dihasilkan petani di Kota Mataram dalam lahan 1 hektar biasanya mencapai 7 ton.

Saat ini luas lahan persawahan di Kota Mataram 1.500 hektar. Jumlah luas lahan itu disebutnya cukup mampu menyuplai kebutuhan beras warga.

Ia menyebut, permainan harga selama ini banyak faktor yang terjadi di lapangan. Karena itu, ia berharap Bulog menyerap hasil gabah petani dengan harga HET nasional agar tidak lagi mengambil ditengkulak. (dir)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid