Harga Gabah di Tingkat Petani Rendah

PANEN PADI:Tampak para petani sedang memanen padi di salah satu wilayah di perbatasan Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, Kamis kemarin (2/3) (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

MATARAM—Harga pembelian gabah untuk hasil panen petani di Provinsi NTB, berdasarkan fakta di lapangan mengalami penurunan harga yang cukup drastis. Hal tersebut bahkan diakui langsung oleh para petani yang ditemui Radar Lombok, Kamis kemarin (2/3), saat mereka sedang melakukan panen padi di sawah.

Seperti Amaq Tohri misalnya, salah seorang petani asal Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, bahwa untuk musim panen saat ini dia menjual gabahnya seharga Rp 350 ribu per kuintal. Menurutnya harga tersebut dinilai masih sangat rendah, lantaran dia biasa menjual gabahnya hingga Rp 400 ribu per kuintal.

”Kalau kita di petani harga padinya malah turun, tapi sebaliknya setelah menjadi beras harganya malah semakin mahal,” ujarnya ketika ditemui di sawahnya, Kamis  kemarin (2/3).

Disadari, harga jual gabah saat ini tidak sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan, mulai dari membajak sawah hingga panen. Ironisnya lagi, selain harga yang murah, masalah lain yang dia hadapi adalah menurunnya hasil panen tahun ini yang berkurang drastis. ”Kalau kita hitung-hitung dari mulai membajak sawah sampai harga pupuknya, ya kita rugi. Tapi mau bagaimana lagi, karena ini musim tanak malit,” ujarnya.

[postingan number=3 tag=”gabah”]

Kalau dahulu sambung Tohri, dia mengeluarkan biaya produksi Rp 2 juta, untuk kemudian mendapatkan untung Rp 7 juta. “Namun sekarang modalnya saja kadang tidak kembali,” sedihnya.

Yang mengherankan sambungnya, kendati harga gabah di petani sangat rendah, akan tetapi harga beras di pasaran ternyata cukup mahal. Buktinya, harga beras per kuintal bisa mencapai Rp 1 juta, yang kalau diecer biasanya mencapai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kg. ”Saya kok bingung, harga padi kalau sama petani sangat rendah, tapi harga beras dipasaran masih mahal,” ujarnya.

Terpisah, Amaq Ayat, salah seorang pengepul  asal Desa Sembung, Kecamatan Narmada, menuturkan bahwa membeli gabah di lapangan dengan harga Rp 350 ribu per kuintal, kemudian dia jual kembali ke pengepul besar  dengan harga Rp 400 ribu per kuintal. ”Kalau kita sebagai pemborong yang mengambil di lapangan, untungnya cuma Rp 50 ribu per kuintal. Terkadang juga kurang, karena kita belinya masih basah,” jelasnya.

Ditegaskan, harga gabah petani menurun lantaran dijual dalam kondisi masih basah, usai di panen. Seandainya dijual dalam kondisi kering, dia bisa saja membeli hingga harga Rp 450 ribu per kuintal. ”Kalau padi ini biasa musim-musiman, dan tergantung daerahnya. Kalau daerah dengan tanahnya yang subur bisa jadi hasil sawahnya juga bagus,” ujar Ayat yang mengaku pengalaman menjadi pengepul selama 9 tahun ini.

Menurutnya, kondisi itu justru sangat berbeda dengan pandangan pemerintah, yang mengatakan bahwa harga pembelian gabah kering panen masih mahal jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainya. ”Itukan menurut pemerintah, tapi kalau kita yang di lapangan memang keadaannya begini. Kondisinya untuk harga gabah menurun, dan harga beras meningkat. Itu saja yang kami ketahui,” tandasnya. (cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid