Caleg Impor Rugikan Warga NTB

Makna Dapil Jadi Kabur

Agus, MSi
Agus, MSi (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Calon legislatif (Caleg) dari luar NTB akan meramaikan Pileg mendatang. Hampir di setiap Parpol ada caleg impor yang dipasang untuk mendulang suara. Kekuatan financial mereka diperlukan. Namun sayang, komitmen mereka terutama menyangkut pengembangan kedaerahan, dipertanyakan. Ini karena mereka dianggap jarang bersentuhan langsung dengan masyarakat di Dapil mereka ini.” Saya termasuk yang meragukan komitmen Caleg impor terhadap pembangunan NTB,” ungkap akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Agus M.Si kepada Radar Lombok, Senin (5/11).

Pengamat ini memilih menolak keberadaan Caleg impor karena sejumlah alasan. Pertama, karena kepentingan utama Caleg impor hanya untuk memenangkan pemilihan. “ Kepentingan mereka agar menang ketika perolehan suara partai politik mereka unggul di daerah bersangkutan,” ungkapnya.

BACA JUGA: Warga Diajak Tolak Caleg Impor

Alasan kedua, Caleg impor sudah pasti tidak menggambarkan representasi daerah. Padahal dalam sistem Pemilu, urusan daerah pemilihan (Dapil) dimaksudkan agar yang duduk di kursi DPR-RI bisa dekat dengan rakyat. Apabila ada politisi yang duduk di kursi dari daerah lain, tidak mungkin bisa dekat dengan rakyat. Terutama dari Dapil tersebut, seperti banyak yang terjadi di wilayah NTB.

Berikutnya, orang luar daerah yang terpilih di Dapil NTB I dan II, akan menjadi nyaman tidak memperhahatikan masyarakat NTB. Mengingat, meskipun terpilih, belum tentu pada Pemilu yang akan datang tetap maju dari Dapil yang sama. “ Mereka menggunakan Dapil yang sekarang, terus nanti menang. Bisa saja akan tetap nyaman tidak perhatian masyarakat kita, karena belum tentu Pileg selanjutnya mereka akan ambil Dapil disini lagi,” terang Agus.

Oleh karena itu, Caleg impor tidak akan menguntungkan masyarakat. Seringkali akan terjadi pepatah mendorong mobil mogok. Padahal keberadaan wakil rakyat di DPR-RI sangat penting untuk memajukan daerah dan menyejahterakan masyarakat NTB.

Persoalannya, Caleg impor bukanlah politisi kere yang mengandalkan keberuntungan. Namun mereka adalah orang-orang berduet dan berpengaruh di partainya. “ Kekuatan mereka karena materi dan dana partai, karena mereka mengelola mesin partai,” katanya.

Kekuatan lainnya, Caleg impor banyak mendapatkan nomor urut cantik. Hal itu tentu saja sangat menguntungkan dalam Pileg. “Posisi nomor urut mereka. Coba saja dicek, rata-rata mereka nomor urut satu,” ungkap Agus.

Fakta tersebut semakin dimudahkan dengan kondisi masyarakat yang tidak semuanya teliti dalam menentukan pilihan. Godaan uang, seringkali masih memengaruhi pilihan masyarakat pada saat Pileg.

Di sinilah pentingnya peran politisi asli orang NTB. Pendidikan politik yang mencerdaskan, harus lebih dikampanyekan. “ Saya melihat masyarakat pemilih kita belum sepenuhnya bisa memfilter diri dari godaan uang. Kondisi sosial ini menjadi lahan subur bagi Caleg impor, karena mereka dekat dengan DPP dan memiliki uang. Dalam kondisi ini, masyarakat harus dicerdaskan oleh politisi daerah,” tandas Agus.

Para politisi di NTB juga tidak mendukung keberadaan Caleg impor. Mengingat, kontribusinya untuk kemajuan daerah juga minim meski terpilih nantinya. “ Caleg impor, buang aja ke laut,” ujar anggota DPRD Provinsi NTB, Made Slamet.

Made sendiri merupakan wakil rakyat dari PDI-P. Untuk DPR-RI, PDI-P tidak menggunakan Caleg impor. Masih banyak orang asli NTB yang hebat dan layak menjadi wakil masyarakat di Senayan.

Terkait hal itu, Made juga meminta kepada masyarakat untuk mengawasi para Caleg impor. Orang luar daerah yang ingin mewakili masyarakat Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, memiliki kekuatan materi. “Awasi. Mereka bawa uang banyak untuk dulang suara,” ucapnya.

Tokoh masyarakat NTB, TGH Muammar Arafat memahami secara aturan sah-sah saja orang luar daerah maju sebagai Caleg dari Dapil Lombok atau Sumbawa. Namun yang harus dipahami juga, kualitas orang NTB tidak kalah dari Celeg impor tersebut.

Partai politik menggunakan Caleg impor, karena ada peluang kemenangan. Apalagi politisi NTB tidak semuanya memiliki kekuatan dalam hal pendanaan. “Kualitas politisi asli NTB tidak kalah dengan politisi impor. Namun isi tas (uang) yang mereka kalah,” kata Muammar yang juga Caleg DPRD NTB dari PPP.

Politisi PKS, H. Iwan Surambian juga menyadari selalu saja ada Caleg impor. Namun, pria yang juga mencoba peruntungan menjadi Caleg DPR-RI ini sangat yakin, masyarakat tidak bodoh. “ Dari tahun-tahun sebelumnya, Caleg impor ini selalu ada dan biasa diprioritaskan nomor 1. Namun sekarang masyarakat sudah pintar dan sudah bisa membedakannya. Semua itu kan tergantung kebijakan partai,” ucapnya.(zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut