Belajar dari Tubuh

Tuhan tak pernah keliru manjadikan manusia dengan sebaik-baik ciptaan, dari lelaki dan wanita, bersuku dan berbangsa. Beragam cara mendengar, mengemukakan pendapat untuk saling kenal mengenal. Ada yang kembar dua, tiga, bahkan lebih dari itu. Adapula kembar lelaki dan wanita. Mirip, serupa tapi punya perbedaan diantaranya.

Dengan sifat dan beragam rupa menjadikannya sebagai mahluk yang paling sempurna dan dilengkapi akal, emosi, sehingga ditemukan beragam cerminan perilaku dan tingkah polahnya dalam melakoni hidup.

Dari keragaman itu muncullah penilaian akan kebaikan dan keburukan tabiat yang dijumpai. Yang tabiatnya buruk pasti tak disuka. Yang baik akan memperoleh penghargaan dan penghormatan dari sesama. Semua itu merupakan hasil Maha Karya Tuhan.

Usai Lebaran ini, sekumpulan anak muda mampir di rumah Abu Macel untuk mendiskusikan tentang kebaikan dan keburukan, serta kejahatan dan kebergunaan. Abu Bongoh yang selalu paling awal melontarkan pertanyaan, meskipun ia tergolong sahabat yang dinilai lemah dalam pikiran akademik.

“Apakah Tuhan menciptakan segalanya?” tanya Abu Bongoh.

“Ya,” kata sahabat-sahabatnya serentak.

“Kalau Dia menciptakan segalanya, berarti Dia juga menciptakan kejahatan dong?” lanjut Bongoh.

Pertanyaan ini membuat semua terdiam.

“Ya ndak begitu dong Ngoh,” kata Abu Macel.

“Lantas,” kata Bongoh berharap penjelasan.

“Adakah gelap itu Ngoh?” Macel balik bertanya.

“Ya jelas ada dong,” jawab Bongoh.

“Gelap itu tak ada. Yang dipelajari dan diilmukan orang bukannya gelap tapi cahaya. Jika sebuah ruangan tak mendapatkan cahaya yang cukup, maka ruangan itu menjadi kurang terang. Demikian juga sebaliknya. Jadi, gelap itu adalah tata cara memahami ketiadaan cahaya,” jelas Macel.

“Apakah kejahatan itu ada?” Abu Macel kembali bertanya.

“Tentu dong, tuh kan ada pembunuhan, perampokan, korupsi, penyalahgunaan wewenang, menggunjing sesama, merendahkan dan memperhinakan orang lain dan banyak lagi yang lainnya,” jawab Mardut.

“Sebagaimana gelap, kejahatan itu juga tak ada. Sebab, Tuhan tak pernah menciptakan segala sesuatu itu sia-sia, demikian FirmanNya. Jadi kegelapan adalah tata cara kita memahami ketiadaan Tuhan dalam diri seseorang. Jika Tuhan berada dan bersamanya, maka tentu ia tak akan berbuat yang melanggar perintahNya,” urai Abu Macel.

Semua sahabatnya manggut-manggut. Entah mengerti atau mengaku mengerti, agar tak dibilang bodoh atau memang mereka benar-benar mengerti. Kita doakan saja agar mereka segera menemukan kebenaran.

Kemudian Abu Macel melanjutkan dengan menjelaskan makna tubuh yang dilengkapi dengan seluruh perangkat lunak dan perangkat keras yang dimiliki, bahwa tubuh manusia itu bisa dijadikan cerminan dalam bermasyarakat, bahkan cermin bagi sistem pemerintahan.

Tugas Kepala, Badan serta Kaki dan Tangan, tugas Pantat dan Kemaluanpun sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Tugas organ tubuh itu berlangsung natural alamiah, yang kemudian disebut dengan istilah Sunnatullah.

Ketika mengangkat balok, batu bata atau yang berat-berat, tentu anggota badan yang disuruh. Artinya tugas-tugas fisik diserahkan pada anggota si Badan.

Namun ketika ada makanan, sang Kepala memerintahkan Tangan untuk mengambilnya, kemudian diletakkan dimulut, sehingga lidah merasakan pahit manis dan nikmatnya makanan. Mulut dan lidah adalah aparat Kepala.

Perut hanya bertugas menampung sisa makanan yang kelezatan dan kenikmatannya sudah lebih dahulu dirasakan Lidah.

Sementara Dubur hanya ditugasi sebagai saluran pembuangan yang tak mungkin beraroma wangi. Ketika Dubur buang angin, yang dibasuh adalah Wajah. Padahal Wajah tak pernah menyemburkan aroma tak sedap kecuali puasa dan Wajah tak boleh protes.

Demikian juga sebaliknya, si Dubur tak boleh iri dengan tugas kemaluan yang tugasnya menikmati keasyikan tak terumuskan, kecuali rasa syukur tiada terbilang bahwa Tuhan menjadikan benda suci yang bentuknya lucu itu sebagi puncak kenikmatan manusia di dunia.

Bayangkan saja jika Dubur protes dan meminta Mahkamah Agung untuk menganulir Tupoksi Tubuh agar tak terjadi diskriminasi dalam melaksanakan tugas, Dunia pasti kacau balau.

Jika saja permintaan peninjauan kembali itu dikabulkan. Anda dan saya tak dapat membayangkan si Dubur akan memoles dirinya dengan lipstick atau bedak, sementara bulu ketiak dipindahkan dibawah hidung mengambil alih tugas kumis.

Inilah pluralitas yang dicontohkan Tubuh. Saling menghargai tugas masing-masing dalam menjalankan kehidupan di keluarga, di masyarakat Desa bahkan Negara. Semoga kita malu dengan diri sendiri.

Demikian juga dalam melaksanakan sistem pemerintahan. Sang kepala harus segera sadar bahwa dalam melaksanakan Shalat, ada syarat yang dipenuhi yakni suci badan, pakaian dan tempat untuk melaksanakan salah satu rukun lima itu.

Kepala Daerah yang baru saja mendengar Azan dan Iqomah dari keramaian Pilkada, kini sudah berada didepan sejumlah makmum. Sebagai makmum tentu tak boleh protes dengan Imam, meski ia hanya wudlu’ saja tanpa mandi, dan Shalat itu sah untuk dilaksanakan.

Namun Ia sadar bahwa sebagian dari anggota badannya sudah tak kuat lagi menyangga kekuatan Kepala yang baru terpilih ini. Namun sang Kepala tetap saja melaksanakan Shalat dari lima waktu yang diwajibkan dalam sehari.

Ya, dia hanya wudlu’. Dia tak mandi meski semalam Ia tak Junub. Akibatnya sang badan gatal oleh ulah Kulit Mati dan Kulit Kapalan. Kalau sekedar Panu Kadas Kurap tentu segera diobati dan dalam waktu yang tak lama bisa disembuhkan.

Jika analogi anggota badan adalah birokrat, tentu Kulit Mati bin pensiun dan yang ngeyel bin pagah alias Kulit Kapalan dapat segara tak menempel lagi di tubuh ini. Jika dibiarkan, tentu tak bisa disembunyikan wajah yang tampak tak nyaman meski dibalut dengan senyum memaksa.

Wajah itu etalase kepribadian manusia. Jika seluruh tubuh ini mandi tentu badan menjadi segar, pikiran menjadi mudah diajak kompromi untuk menemukan ide kreatif dalam membangun daerah.

Tak ada satu pasalpun dalam undang-undang yang melarang mulut untuk tersenyum dengan wajah yang sumringah jika hati senang, tenang dan tentram akibat badan yang bersih.

Sebentar lagi kita akan memasuki Ramadan, bulan penuh barokah dan ampunan, bulan dengan segudang kenikmatan. Inilah bulan penyadaran fungsi diri untuk menjadikan lingkungan menjadi lebih Maju, lebih Religius dan makin Berbudaya dengan segera membersihkan tubuh dari Kulit Mati dan Kulit Kapalan yang menempel di tubuh dengan cara mandi. (*)