Adopsi Sampah Ranting Pohon, Promosi via Medsos

Ahmad Nur (SAPARUDIN/RADAR LOMBOK)

Desa Aikbual Kecamatan Kopang Lombok Tengah merupakan desa paling utara yang berbatasan dengan Lombok Timur. Desa Terpincil ini telah berhasil meraih penghargaan dari organisasi dunia.


SAPARUDDIN-PRAYA


TIDAK mudah bagi kota ataupun pedesaan meraih prestasi atau penghargaan dari badan organisasi dunia seperti Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Namun bagi masyarakat Desa Aikbual Kecamatan Kopang ini, mendapatkan penghargaan dari PBB dalam hal ini World Health Organization (WHO) amat lah mudah.

Hal ini ia buktikan dengan telah berhasilnya menggondol predikat dan bantuan besar dari sejumlah negara maju, salah satunya Inggris. Seperti yang di ceritakan oleh Ahmad Nur, sang pelopor yang mampu mengadopsi ranting atau sampah sampah yang berasal dari pepohonan di sekitar Desa Aikbual.

[postingan number=3 tag=”features”]

Kepada Radar Lombok, Jumat (20/1) kemarin ia menceritakan, awal mulanya keinginan untuk memanfaatkan sejumlah sampah yang berasal dari ranting pohon. Saat itu berbagai macam cara dan mencari informasi, ia terus gali bersama sejumlah teman seperjuangan di desanya.

Selang beberapa tahun terus melakoninya, selanjutnya ia memposting beberapa potensi di Desa Aikbual, sehingga pada akhirnya ada sebuah organisasi dari Inggris bernama FF yang datang dan memberikan fasilitas. Tahun 2014, organiasi FF Inggris ini menggelontorkan bantuan sebesart Rp 53 juta, selanjutnya itu dijadikan sebagai modal awal untuk melakukan pengembangan.

Selanjutnya tahun  2015, kembali FF Inggris mencairkan bantuan sebesar Rp 103 juta. Tahun ini kembali FF Inggris akan mengirimkan bantuan sebesar Rp 201 juta. “Setelah ada pengakuan dan bimbingan dari pemerintah dan organisasi FF Inggris ini, pengembangan hutan semakin tertata dan terjaga,” terangnya.

Dari ribuan masyarakat yang berdomisili di sekitar Desa Aikbual, terdapat 75 persen masyarakat yang ikut dimasukkan dalam pemamfaatan hutan. Dimana masing masing Kepala Keluarga (KK)  dikasih bibit pohon sebanyak 400 batang dan paling banyak lahan yang dimiliki satu KK 50 are. “Luas tanam hutan kita khusus untuk penggunaan karbon seluas 100 hektare lebih. Dari 75 persen kepala keluarga paling luas memiliki lahan 50 are,” terangnya.

Terhadap pengakuan ini, pihaknya bersama semua anggota khususnya yang ada di Desa Aikbual terus akan mencoba mempertahankan. Lebihnya lagi di Indonesia ini, baru di desa yang sudah mendapatkan penghargaan penghasil karbon terbaik di Indonesia. (**)