Wagub: Terapkan CHSE, Rinjani Harus Jadi Tempat Aman Bagi Wisatawan

Rinjani Sumber Kehidupan Ribuan Warga Sekitar

PINTU SENARU: Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat meninjau pintu pendakian jalur Senaru di Dusun Jebak Gawah, Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dan bersilaturrahmi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan perwakilan Asosiasi Jasa Pendamping Wisata, Sabtu (29/8/2020). (kominfo for radarlombok.co.id)

LOMBOK UTARA-Global Geopark Gunung Rinjani bukan saja destinasi wisata yang sangat indah, dikagumi dunia, bahkan surga bagi wisatawan. Tapi juga menjadi bagian dari sumber kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Ribuan warga menggantungkan hidupnya dari kawasan taman nasional ini.

Karena itu, melestarikan taman nasional Gunung Rinjani, tak hanya akan menghasilkan lingkungan yang terjaga saja. “Melainkan akan memberikan hasil bagi pelaku pariwisata sendiri, sekaligus melestarikan sumber pencaharian kita secara berkelanjutan,” ungkap Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah saat meninjau pintu pendakian jalur Senaru di Dusun Jebak Gawah, Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dan bersilaturrahmi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan perwakilan Asosiasi Jasa Pendamping Wisata, Sabtu (29/8/2020).

Wagub yang lebih akrab disapa Umi Rohmi menjelaskan, Rinjani harus menjadi tempat yang aman bagi wisatawan dengan menegakkan standar pendakian yang baik. Menerapkan standar protocol Kesehatan dengan berpegang kepada sertifikat CHSE (Clean, Health, Safety, Environment) agar menjadi destinasi wisata yang dipercaya oleh dunia di tengah pandemic Covid 19.

Begitu pula dengan sumber kehidupan seperti disebutkan Umi Rohmi, memelihara Kawasan Rinjani menjadi tanggungjawab semua orang dengan bergotong royong dalam satu visi untuk menjaga sumber mata air, hutan dan kekayaan alam serta warisan budaya di lingkar Rinjani.

“Produktif di masa pandemic adalah dengan tetap memelihara lingkungan asset wisata tapi juga secara disiplin menerapkan perilaku hidup dalam tatanan baru yang menuntut kebersihan dan Kesehatan selain keamanan dan kelestarian lingkungan”, jelas Wagub.

Wagub Umi Rohmi juga mengingatkan disiplin menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak saat ini menjadi standar kenyamanan wisatawan yang tak bisa ditawar tawar.

Pada masa yang akan datang, tidak ada tempat wisata yang boleh beroperasi tanpa mengantongi sertifikat CHSE. Di masa turunnya kunjungan wisata seperti sekarang, sebut Wagub adalah momentum menata kembali destinasi wisata untuk menjadi lebih siap dan lebih baik menyambut kehadiran wisatawan.

“Di masa pandemic inilah, masa yang sedang kosong untuk membenahi tempat wisata kita. Jangan momot (berdiam, red) tapi perbaiki dan lengkapi kekurangannya untuk meyakinkian orang datang kembali”, tegas Wagub.

Sementara itu, Koordinator Assosiasi Pekerja yang bergerak dibidang Pariwasata Kabupaten Lombok Utara (KLU) Lalu Ahmad Yani mengatakan bahwa sejak wabah Covid-19, dampaknya cukup dirasakan oleh dunia pariwisata. Angka pengunjung yang mendaki ke Rinjani turun signifikan.

“Hal ini berdampak terhadap pendapatan kami yang bergerak disektor jasa guide, porter atau pendamping pengunjung pendakian Gunung Rinjani,”katanya.

Namun sejak mulai dibukanya jalur pendakian ke Rinjani, membuat optimisme dan semangat pelaku pariwisata Rinjani bergairah kembali. Selain itu, ia meminta Pemprov NTB dan Pemkab KLU memberikan bimbingan teknis kepada Pordarwis maupun pelaku pekerja pariwisata agar memiliki pemahaman tentang pariwisata di era Nurut Tatanan Baru.

Empat jalur pendakian Rinjani yaitu Senaru, Sembalun, Timbanuh dan Aikberik setelah memasuki era new normal, Nurut Tatanan Baru (NTB) terus berbenah dan menerapkan protokol Covid-19 sembari berharap agar Pemerintah terus mempromosikan telah dibukanya destinasi pariwisata di kawasan Gunung Rinjani.

Senada dengan Kepala Desa Senaru Raden Akria Buana, mendukung penuh pembukaan semua pintu jalur pendakian ke Rinjani.

Konsen pariwisata dengan Clean, Heal and Safety yang diluncurkan pemerintah harus mampu diterapkan dilokasi wisata, ungkapnya.

Salah seorang anggota Assosiasi Tracking Organizer Senaru, Hajar (32), mengatakan disamping menjadi jasa pendamping pendaki, tugasnya adalah membina dan memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar untuk menjaga kawasan hutan Senaru.

“Kami bersinergi dengan Pokdarwis dan masyarakat menjaga hutan,” tuturnya. Destinasi wisata Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki sebanyak 2000 pelaku usaha dan 180 tour operator di empat pintu masuknya.

Dalam kegiatan ini Wakil Gubernur NTB Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah didampingi Kadis DPMPD Dukcapil, Kadis Kesehatan, Kominfotik Provinsi NTB, Kepala Balai TNGR dan dihadiri pula oleh Sekda KLU. (jm/[email protected]_ntb)