Perjuangan Romlah, Banting Tulang Biayai Suami Lumpuh dan Anak Sakit Keras

Kisah Perjuangan Romlah
TIDAK LAYAK : Kondisi rumah yang ditempati Romlah bersama suaminya yang lumpuh serta anak - anaknya. (ATINA/RADAR TAMBORA)

Beban yang ditanggung Romlah sangat besar. Mau tidak mau, dia harus memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.


ATINA – KOTA BIMA


Kondisi rumah itu tidak layak huni. Lantai bangunan dari semen. Sementara halaman depannya becek dan kotor. Keberadaan rumah ini  sangat kontras  diantara himpitan rumah mewah disekitarnya. Inilah rumah milik  Romlah  yang berada diujung belakang lingkungan Penaraga, Kota  Bima.

Tidak ada akses jalan  lebar menuju rumah ini. Satu -satunya jalan masuk adalah berjalan di pinggir saluran irigasi  sawah. Pemandangan kontras terlihat, dimana disamping kiri dan kanan rumah Romlah diapit tembok tinggi yang membatasinya dengan rumah mewah di sekitarnya.

BACA JUGA :  Temukan Instalasi Asap Cair, Hingga Mesin Pembakar Sate

Romlah warga RT 09 RW 04 Kelurahan Penaraga, sehari-hari berjualan nasi bungkus di RSUD Bima. Ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan ibu lima orang anak ini. Hal itu ia lakukan untuk menghidupi dua anak dan suami yang tinggal bersamanya.

Saat ditemui wartawan, Romlah sedang mengurus anak bungsunya bernama Afriani, 22 tahun yang sakit parah. Afriani menderita maag akut dan sesak nafas. Bahkan, lulusan SMA Kesehatan ini sempat dirawat di RSUD Bima. Tapi, karena biaya dan kebutuhan yang terus membengkak, akhirnya ia dirawat di rumah.

Suami Romlah pun tidak lebih baik kondisinya. Pria yang pernah menjadi peladang di Kecamatan Tambora ini, kini hanya bisa beraktivitas dengan cara duduk tanpa bisa berkata-kata. Stroke yang dialaminya empat tahun silam, membuat Zaidun tidak bisa mencari nafkah lagi untuk keluarga.

“Anak saya jumlahnya lima orang. Tiga orang tinggal di Tambora dan dua orang bersama saya. Hanya berjualan nasi yang bisa saya lakukan untuk tetap makan,” ujar Romlah dengan nada tegar.

BACA JUGA :  Perjuangan Amaq Fahri, Penjual Gula Gending Keliling dari Kampung ke Kampung

Romlah mengaku pernah mendapatkan bantuan yakni uang tunai Rp 500 ribu dari Pemerintah Kota Bima. Dan program bedah rumah yang kini ditempati. Romlah juga merasa bersyukur, karena masuk dalam jaminan kesehatan nasional dan mendapatkan jatah beras miskin (raskin) setiap bulannya sebanyak sepuluh kilogram.  Tapi hal tersebut tidak bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Bahkan tak jarang, Romlah kerap dibantu tetangga dan kerabat yang menyumbangkan beras atau ikan.

“Saya tidak bisa mengatakan tidak, Alhamdulillah ada saja tetangga atau kerabat yang membantu,” akunya.

Tidak banyak yang diharapkan Romlah. Ia bahkan cenderung pasrah dengan kondisi keluarganya. “Tidak ada harapan yang berlebihan, saya berusaha semampu yang saya bisa untuk keluarga,” ujarnya. (*)