Dari Peringatan Hari Disabilitas Sedunia di Lombok Utara

TAMPIL: Khusnul Khotimah salah satu kaum disabilitas yang dituntun Kepala SLB Nurul Bayan, H Amrullah untuk tampil membawa sepenggal lagu untuk tamu undangan pada hari disabilitas di Lombok Utara (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

Hari Disabilitas dunia sebagai hari istimewa bagi masyarakat penyandang cacat untuk berkumpul mendapatkan dukungan untuk meningkatkan martabat, hak, dan kesejahteraan. Di Lombok Utara, terdapat ratusan masyarakat penyandang cacat yang masih mengharapkan perhatian pemerintah, baik layanan kesehatan, pendidikan, perbankan, dan pekerjaan.

 

 


HERY MAHARDIKA-TANJUNG


 

TAK ada manusia yang terlahir sempurna. Kata bijak ini mungkin perlu diingat semua orang, bahwa setiap kekurangan ada kelebihan. Sebaliknya setiap kelebihan ada kekuarang yang menunjukkan bahwa mereka adalah manusia biasa. Sehingga hakikatnya, manusia memiliki hak yang sama, tidak ada yang lebih dan dilebihkan, tidak ada yang kurang dan tidak pula dikurangkan. Semua memiliki kadar masing-masing sesuai dengan anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai insan yang merdeka dan berbudaya, semua bebas bergerak dan berkreasi, menunujukkan kemampuan dan talenta yang dimiliki sebagai konsumsi publik atau sebagai hiburan semata. Namun tak demikian yang dialami oleh kaum disabilitas di Lombok Utara, mereka mampu memiliki keahlian untuk menghidupi dirinya dan keluarga kecilnya. “Saya meminta kepada pemerintah supaya lebih memperhatikan disabilitas. Pelayanan yang sama dan kepeduliaan yang sama,” ujar Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Lombok Utara, M Helmi, akhir pekan lalu.

Menurutnya, pelayanan yang diberikan pemerintah selama ini masih jauh dari harapan. Di perbankan saja, disabilitas tidak bisa akses permodalan, menabung lantaran tidak memiliki dokumen kependudukan seperti KTP, dan kaum disabilitas masih dianggap sepele. “Masih banyak teman-teman disabilitas tidak memiliki KTP,” ucapnya.

Di Lombok Utara, lanjut Helmi, ada ratusan kaum penyandang cacat. Yang baru ikut tergabung di forum sendiri sekitar 30 orang. Kebanyakan mereka menempuh pendidikan di Mataram, setelah itu mereka pergi ke luar daerah untuk mencari pekerjaan sesuai keahliaannya. “Keahliaan kaum disabilitas rata-rata musik dan pijit,” terangnya.

Helmi mengapreasi kehadiran Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Lombok Utara. Ia berharap, SLBN ini mampu memberikan pelayanan pendidikan, keterampilan bagi penyandangan cacat. “Kami ingin diperlakukan sama seperti orang normal lainnya,” tandas yang memiliki profesi tukang pijit refleksi ini.

Berbeda dengan Khusnul Khotimah, siswi SLB Nurul Bayan. Gadis 12 tahun ini sudah memiliki prestasi gemilang di bidang bernyanyi. Tahun ini, ia meraih juara tiga tingkat provinsi dalam dunia tarik suara. “Anak ini diasuh sama orang tua angkatnya. Anak ini sejak kecil sudah tinggal sama orang tua aslinya. Makanya di sekolah membina Khusnul,” terang Kepala SLB Nurul Bayan H Amrullah. 

Pihak sekolah sendiri, telah membina Khusnul selama empat tahun. Di sekolah Khusnul dikenal aktif dan selalu berusaha. Khusnul sejak masuk telah didengarkan musik melalui audio. Sebab, ia tidak bisa menulis dan membaca. “Belajar melalui pendengaran. Kami bombing, awasi dan mana tidak tepat itu diperbaiki. Paling lama seminggu sudah bisa mengingatnya,” jelasnya.

Khusnul sendiri ingin melanjutkan karirnya dalam bidang tarik suara. Ia yakin pasti bisa meraih apa yang menjadi cita-citanya. “Saya mau berprestasi dan pintar untuk melanjutkan karir di nyanyi seperti orang normal. Cita-cita mau menjadi penyanyi. Saya menyarankan kepada anak-anak normal, kalau belajar mau rajin dan giat berusaha serta jangan cepat putus asa. Jangan anggap diri manusia tidak bisa. Karena setiap manusia memiliki kelebihan masing-masing,” pesannya.  

Ia berharap, pada hari disabilitas sedunia ini, anak-anak lain bisa mendapatkan pendidikan di SLBN. Perhatian pemerintah selama ini sudah cukup baik. Kedepan, bagaimana sekolah-sekolah yang menjalankan sekolah inklusi bisa mendapatkan perlengkapan proses belajar-mengajar lebih baik. “Saya bisa menuntut ilmu supaya tidak menjadi anak terlantar dan diabaikan,” tuturnya.

Sementara Bupati Lombok Utara, H Najmul Akhyar menegaskan kepada seluruh jajarannya agar mampu menyediakan fasilitas yang memadai untuk melayani masyarakat disabilitas. “Semua instansi harus mampu memberikan pelayanan yang sama, bila perlu memberikan tempat khusus untuk mengurus apa kebutuhan sosialnya,” tegasnya. (**)