Penerapan New Normal di Sekolah Berisiko Tinggi

Murid SD di Lotim sebelum adanya penyebaran wabah Covid-19. (ABDI ZAELANI/RADAR LOMBOK)
Murid SD di Lotim sebelum adanya penyebaran wabah Covid-19. (ABDI ZAELANI/RADAR LOMBOK)
Advertisement

MATARAM Rencana sejumlah daerah di NTB akan menerapkan New Normal, khususnya di lingkungan pendidikan mendapatkan perhatian serius dari Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram) Dr dr Hamsu Kadrian.

Peneliti sekaligus Dekan FK Unram tersebut mengingatkan pemerintah daerah bahaya besar menginati anak-anak peserta didik, jika New Normal dipaksakan untuk diterapkan di lingkungan pendidikan di NTB. Pasalnya, kasus Covid-19 di NTB setiap harinya bertambah cukup banyak. Bahkan, jumlah anak yang positif terpapar Covid-19 sudah lebih dari 130 anak.

“Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan kabupaten/kota di NTB jangan terburu-buru menerapkan pemberlakuan New Normal di lingkungan pendidikan, karena resikonya sangat besar,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Unram  Dr dr Hamsu Kadriyan, M.Kes, Sp.THT kepada Radar Lombok, Kemarin.

Menurut Dr dr Hamsyu, penanganan pandemi Covid-19 di NTB sebenarnya bagus, karena Pemda sudah memiliki kemampuan untuk melakukan screaning dan deteksi serta meng-konfirmasi kasus positif lebih banyak lagi. Namun jika masuk sekolah dipaksaakan dengan menerapkan New Normal, justru nantinya akan berpotensi menjadi klaster baru Covid-19.

“Jadi kalau bisa jangan di buka dulu lingkungan sekolah. Perlu ada inovasi pembelajaran saat ini untuk mengantisipasi capaian belajar siswa/murid. Terlebih lagi sudah ada 130 anak-anak yang positif terpapar Covid-19. Angka ini termasuk yang tertinggi di Indonesia. Jadi kita minta jangan terburu-buru  menerapkan New Normal di sektor pendidikan,” jelas Dr dr Hamsu.

dikatakannya, jika orang tidak tahu dirinya terinfeksi Covid-19 dan menularkannya ke orang lain yang tidak tahu, hal ini justru akan berdampak buruk bagi upaya memutus mata rantai penularan virus Corona.

“Dengan kita mengetahui yang terkonfirmasi positif ini, maka kita punya peluang untuk melakukan treatmen yang lebih bagus,” ujarnya.

Data-data orang yang berisiko atau rentan terkena Covid-19 ini sudah dimiliki oleh pemerintah daerah, mulai dari jumlah ODP, PDP, OTG dan beberapa istilah lainnya. Pemda atau Tim Gugus Tugas sudah berhasil melacak orang-orang yang rentan ini dan sudah melakukan screaning, termasuk kepada warga yang pernah melakukan perjalanan ke Gowa Sulawesi Selatan ini dan tempat lainnya. Namun setelah bisa di lacak, kemudian pemerintah memberlakukan siswa masuk sekolah secara otomatis klaster baru akan muncul.

Selain itu, jika mengandalkan Herd imunity maka 50% anak-anak akan terinfeksi covid-19 dan kemungkinan ada 3% dari yang terinfeksi akan meninggal dunia.

“Makanya kita minta pemerintah tidak terburu-buru memberlakukan pembukaan sekolah di tengah pandemi Covid-19 ini,” sarannya.

Bukan hanya itu, pihaknya juga sudah melakukan identifikasi dan sudah mendapatkan hasil sementara melalui screaning tadi. Dari screaning itu, jumlah orang yang reaktif kemudian akan dilanjutkan dengan swab yang merupakan metode standar.

Dengan demikian masyarakat diharapkan tidak terlalu panik dengan angka-angka positif yang cenderung meningkat ini. Karena sesungguhnya ini berarti Pemda telah mampu mengungkap kasus ini lebih dalam. Dengan memperhatikan jumlah kasus positif, jumlah pasien yang sudah sembuh, jumlah penderita yang meninggal dunia dan data-data lainnya sesungguhnya yang terjadi di NTB , maka Tim dari Fakultas Kedokteran Unram memperkirakan puncak kasus ini akan terjadi di Agustus 2020.

Dari hasil perhitungan Fakultas Kedokteran Unram dan tim yang terlibat di sana menunjukkan bahwa jika Covid-19 tanpa mendapat intervensi apapun, maka pada bulan Agustus mendatang jumlah kasus Covid-19 diperkirakan sekitar 5.800 an kasus.

” Karena itulah, mari kita sama-sama mencegah penyakit ini, jangan takut diperiksa,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu hal yang bisa mempercepat penurunan kasus Covid-19 yaitu dengan mempercepat penemuan kasus. Jika tim dapat  menemukan kasus lebih awal, maka derajat sakitnya bisa lebih rendah. Jika derajat sakit rendah, maka sakit ringan yang menderita Covid-19, tentunya penyembuhannya juga akan lebih cepat.

“Jika dia lebih cepat sembuh yang tadinya rata-ratanya dua mingguan dapat kita turunkan di bawah satu minggu, maka akan lebih cepat penurunan angkanya,” kata dr Hamsu. (adi)