Pemberian Penghargaan Pariwisata Diklaim sudah Objektif

Lalu Hasbulwadi (RATNA/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Dinas Pariwisata (Dispar) NTB menepis tudingan yang menyebut pemberian penghargaan pada bidang pariwisata dalam rangka HUT 64 NTB pada 17 Desember 2022 lalu, tidak dilakukan secara objektif, dan justru mempermalukan industri pariwisata NTB.

“Tidak ada istilah mempermalukan. Tidak ada pemikiran bahwa penghargaan itu sebagai upaya untuk mempermalukan. Jadi semata-mata untuk memotivasi bagi para pelaku pariwisata,” tegas Sekretaris Dispar NTB, Lalu Hasbulwadi kepada Radar Lombok, Selasa (27/12).

Menurutnya, justru penghargaan itu diberikan untuk memicu semangat para pelaku industri pariwisata, supaya lebih termotivasi dalam melakukan sinergitas dan kerja sama secara pentahelik. Terutama bagaimana agar membuat pariwisata Lombok Sumbawa NTB Gemilang semakin maju, lebih-lebih di masa-masa yang akan datang.

“Sebuah motivasi bagi pelaku usaha industri pariwisata untuk terus meningkatkan kualitas tatakelola pariwisata NTB. Masih ada kesempatan lagi bagi pelaku industri dan asosiasi lainnya yang belum sempat mendapatakan penghargaan,” ujarnya.

Terhadap kritikan yang dilayangkan pelaku industri pariwisata kepada Dispar NTB, Hasbul mengaku itu menjadi masukan yang sangat berharga bagi Dispar NTB, agar kedepannya membuat parameter penilaian yang lebih komprehensif.

“Kritikan yang ada itu bagian dari masukan untuk kami benahi nantinya dalam rangka pemberian penghargaan-penghargaan di masa yang akan datang,” ujarnya.

Baca Juga :  Fitra NTB Beri Rapor Merah ke Pemprov

Selama ini, diakuinya Pemerintah NTB bersama Dispar dan Asosiasi serta pelaku industri pariwisata lainnya sudah melakukan sinergitas. Adapun salah satu parameter penilaian yang digunakan pada ajang tersebut, adalah memberikan apresiasi terhadap insan pariwisata yang sudah bersinergi bersama membangun pariwisata NTB.

Dalam membangun pariwisata NTB, tentu tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan dibutuhkan keterlibatan dan dukungan dari semua stakeholder. Karena itu, jangan sampai persoalan ini malah memecah belah pelaku industri pariwisata NTB. Tapi dapat dijadikan sebagai bagian dari sinergitas bersama demi kemajuan pariwisata NTB.

“Sebab, pariwisata tidak mungkin berjalan sendiri. Selalu berhubungan dengan seluruh stakeholder. Termasuk Asita, PHRI, Astindo dan lainnya. Mereka merupakan bagian dari stakeholder yang juga sebagai penguat pariwisata kita,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB, Dewantoro Umbu Joka menyebut pemberian penghargaan oleh Dispar NTB, telah mempermalukan asosiasi yang selama ini memberikan dukungan dan berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata NTB.

“Ternyata saya baru tau, kalau yang terkolaborasi itu hanya ASSPI. Jadi selama ini PHRI, ASITA, ASTINDO, MHA, IHGM, AHM tidak kolaborasi dengan Dispar. Kalau ini sengaja mempermalukan kita,” katanya kepada Radar Lombok.

Baca Juga :  Zamroni Aziz Ditunjuk Menjadi Plt Kepala Kanwil Kemenag NTB

Umbu mengatakan parameter penilaian tidak profesional alias abal-abal dan juga terkesan dipaksakan. Menurutnya banyak sekali pihak yang telah berkolaborasi dan berjasa membangun pariwisata NTB.

“Jangan asal copot, dan kurang hati-hati memberikan penghargaan di acara HUT NTB. Masih banyak sekali (orang) yang berjasa. Ada Pak Awanadi Aswinabawa, Bu Ni Ketut Wolini, mantan Kadispar Bapak HL Moh Faozal, dan lainnya. Kalau kita (ASITA) hanya anak bawang yang baru 20 tahun ngurus pariwisata,” tandas Umbu.

Senada, Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB, Sahlan M Saleh mengatakan bahwa pemberian penghargaan oleh Dispar NTB cenderung menciptakan polemik antar asosiasi pariwisata.

Karena menurutnya pemberian penghargaan itu terkesan seperti memecah belah asosiasi yang selama ini telah berjuang untuk pariwisata NTB. Sebab, dilakukan tanpa parameter yang jelas.

“Silakan kerjakan pariwisata NTB hanya dengan mereka. Ya kami-kami ini tidak diperlukan lagi,” kesalnya.

Pihaknya tidak mempermasalahkan jika Dispar NTB menggelar penghargaan, namun lebih bijak kalau dilakukan secara objektif dan jelas soal rekam jejak prestasinya untuk perkembangan pariwisata di Provinsi NTB.

“Ini baru muncul dan tidak mengerjakan apa-apa sudah diberikan penghargaan. Seperti menghina senior kami yang lama berjuang,” pungkasnya. (cr-rat)

Komentar Anda