NTB Mall, Terkendala SDM Pembeli Mayoritas ASN

NTB MALL : Berbagai jenis produk lokal bisa didapatkan di NTB Mall, Senin siang (21/12). (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK )

NTB Mall sebagai pusat produk lokal telah resmi dilaunching tanggal 17 Desember lalu. Meski bangunannya tak semegah Epicentrum Mall atau Mataram Mall. Namun keberadaan NTB Mall, dihajatkan menjadi batu tapal kesejahteraan masyarakat. 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


MATAHARI begitu keras menyengat meski di musim hujan, Senin siang (21/12). Saat itu jarum jam dinding menunjukkan pukul 14.15 Wita. Para abdi negara sudah kembali bekerja dari Ishoma (istirahat, salat dan makan). 

Di salah satu gedung perkantoran Pemerintah Provinsi NTB, suasana terlihat cukup lengang. Satpam nongkrong di tempatnya sembari bercengkrama dengan sesama. Meski di kantor tersebut sudah berdiri sebuah mall, namun tak ada masyarakat umum yang datang berbelanja kala Radar Lombok bertandang. 

Letak mall juga persis di sudut ujung kantor. Begitu mungil dengan desain sangat indah. Itulah NTB Mall, yang ada di Kantor Dinas Perdagangan Provinsi NTB. Tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) NTB ke-62 pada 17 Desember lalu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melaunching penuh bangga. Tentu saja penuh asa juga. 

NTB Mall memang kecil. Tak perlu membayangkan memiliki lantai dua. Namun tak semua harus dinilai dari fisik. Di dalamnya, tersimpan harapan yang tak ternilai. 

Seorang anak muda yang bekerja sebagai inventory NTB Mall, Ngurah Putra terlihat seorang diri. Belum ada pemberi yang datang saat itu. Padahal, berbagai jenis produk lokal sudah tersedia rapi. 

Bagi masyarakat atau wisatawan yang ingin membeli baju, sudah tersedia beraneka jenis dan motif. Kain tenun Lombok yang melegenda, mutiara, tas, gerabah, cemilan dan masih banyak lagi produk lokal berkualitas ada di NTB Mall. 

Tidak berselang lama, penanggung jawab NTB Mall Ricky Hartono Saputra terlihat melintas. Dia langsung memasuki sebuah ruangan, yang menjadi pusat aktivitas tim NTB Mall. Di ruangan tersebut, Ricky bekerja dengan anak-anak muda. Mereka memiliki kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Sekumpulan anak muda yang tengah berproses mencetak sejarah kesejahteraan masyarakat NTB. 

Sementara di lantai NTB Mall, dua orang ASN Pemprov NTB baru tiba. Radar Lombok mengenalnya bekerja di Biro Humas. Kedatangannya untuk membeli produk lokal. 

Ricky selaku Penanggung jawab NTB Mall, mengakui jika saat ini, mayoritas pembeli yang datang merupakan ASN. “Transaksi di NTB Mall sudah lebih dari Rp 20 juta sejak dilaunching. Sedangkan melalui online-nya, sudah Rp 3 juta lebih,” ucap Ricky. 

NTB Mall memang dibuat dalam bentuk offline dan online. Sejak di-launching, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sudah terdaftar sekitar 1.300 dengan varian produk 2.000 lebih. “Kita akan maksimalkan, baik offline maupun online,” katanya. 

Tujuan utama NTB Mall adalah sebagai wadah bela dan beli produk lokal. Ini adalah ikhtiar baru yang tak pernah ada sebelumnya. “Kita ingin menjadi marketplace produk lokal nomor satu,” ujar Ricky. 

Di NTB Mall, harga produk sama dengan di UMKM. Tidak ada profit yang diambil. Biaya operasional dan lain sebagainya, ditanggung oleh Dinas Perdagangan. Banyak manfaat yang didapatkan dari NTB Mall, UMKM bisa menjual produknya secara online maupun offline. Sehingga pangsa pasar tidak hanya di NTB dan Indonesia, namun juga hingga luar negeri. 

Anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan, juga bisa menjadi Resseler NTB Mall. Semuanya hanya untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. “Untuk menggaet pembeli masyarakat umum, memang harus ada inovasi. Apalagi kita bersaing dengan shopee, toko pedia, dan lain-lain. Kalau sejauh ini kan ASN Pemprov yang banyak beli,” tutur Ricky. 

Banyak hal yang akan dilakukan agar NTB Mall offline dan online bisa jaya. Diantaranya gratis ongkos kirim (Ongkir), sosialisasi lebih massif dan lain sebagainya. “Kita akan buat Hari Belanja Wajib ASN, setiap ASN Pemprov harus belanja di NTB Mall. Kita belum komunikasi dengan kab/kota, kedepan tentu akan segera kita lakukan,” katanya. 

Konsep Samsat keliling juga akan diadopsi. Kemudian menyiapkan Parcel untuk seluruh OPD Pemprov. “Target kita sebenarnya sudah terpenuhi kalau dari sisi transaksi. Yang offline paling laris mutiara dan kain, dari target Rp 10 juta sudah ada Rp 20 juta. Tapi kita ingin benar-benar bisa maksimalkan NTB Mall, hanya saja masih banyak kendala,” sebutnya. 

Untuk NTB Mall online, kendala utama yang dihadapi adalah Sumber Daya Manusia (SDM) para pelaku UMKM. Banyak yang tidak bisa menggunakan aplikasi NTB Mall. Padahal, kemampuan tersebut harus ada di era saat ini. 

Ke depan, pihaknya akan terus memberikan pelatihan kepada UMKM. Namun lagi-lagi, terkendala belum adanya gedung pelatihan. “Sebaik apapun aplikasi, tapi jika tidak bisa digunakan ya percuma,” ujarnya. 

Begitu pula dengan NTB Mall offline. Tempatnya sangat terbatas, tidak bisa menampung banyak produk. Padahal, NTB Mall dihajatkan sebagai pusat produk lokal. Oleh karena itu, dibutuhkan gedung warehouse. Apalagi direncanakan nantinya ada minimarket lokal, yang akan mengakomodir produk lokal gagal masuk NTB Mall. “Tahun depan kita akan beli langsung produk ke UMKM dulu, tidak seperti sekarang sistemnya dititip. Tentu butuh gudang,” ujar Ricky. 

Inovasi lainnya yang akan dilakukan, adalah benar-benar membuat NTB Mall seperti Mall. Semua yang dibutuhkan masyarakat harus ada, seperti Handphone, komputer dan lain sebagainya. “Kita akan gandeng pengusaha lokal. Produk seperti itu kan dari luar negeri, jadi tidak merusak brand produk lokal,” kata Ricky. 

Ngurah Putra, Inventori NTB Mall asal Bali menuturkan, untuk bisa mendatangkan keramaian, direncanakan setiap malam Minggu ada live musik. “Sehingga anak-anak muda mau datang kesini. Cemilan juga banyak disini yang bisa dibeli,” harapnya. (**)