Niat Bantu Petani, Tak Disangka Berprestasi Nasional

PRESTASI: Dua siswi SMAN 1 Selong, Nurkholisa Putri Wulandari dan Nanda Regina Nuki, didampingi salah satu guru, ketika alat penemuannya berhasil mendapatkan penghargaan tingkat nasional di Jakarta (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Benar kata orang, niat baik it pasti akan selalu diikuti dengan segala kebaikan. Setidaknya itulah yang dirasakan dua siswi SMAN 1 Selong, Nurkholisa Putri Wulandari dan Nanda Regina Nuki, pencipta alat pengusir burung di sawah, A-Bire.

 

 


JANWARI IRWAN – LOMBOK TIMUR


 

BANYAK jalan untuk bisa berpretasi, sebanyak jalan menuju Kota Roma, Italia. Bahkan jalan sederhana sekalipun bisa mengantarkan seseorang untuk meraih prestasi. Seperti yang dialami oleh Nurkholisa Putri Wulandari dan rekannya, Nanda Regina Nuki, dua pelajar SMAN 1 Selong ini.

Kedua remaja yang selalu terlihat bersemangat dan penuh keceriaan ini ketika disambangi Radar Lombok dikediaman Nurkholisa. Terlihat dari raut wajahnya, sudah bisa dilihat kalau kedua siswi ini dipenuhi banyak rasa ingin tahu, dan ingin banyak berbuat sesuatu.

Buktinya, lewat keinginan mereka hendak membantu para petani Lotim dalam menghadapi permasalahannya, mengusir hama burung di sawah, siapa sangka mereka justeru berhasil meraih juara II Nasional dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2016 di Jakarta, Oktober 2016 lalu.

Kedua siswi Lotim dengan didampingi guru pembinanya, Nurhayadi berhasil mengharumkan nama Lotim di kancah nasional. Dengan alat pengusir burung yang mereka beri nama A-Bire, singkatan dari Automatic Bird Repellent.

“Kebetulan di dekat rumahku ada sawah. Aku sering perhatiin petani kadang kesulitan mengusir burung yang memakan biji tanaman padi mereka. Dari sana muncul niat untuk membuat alat pengusir burung,” akunya.

BACA JUGA :  Lobar Posisi Terbaik Nasional

Bersama Regina, rekannya di ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Selong, ia sepakat membuat A-Bire ini. Banyak ide mereka pikirkan, namun ide itu sudah banyak dibuat orang lain. Mulai dai pembersih kaca helm otomatis, pengusir tikus, hingga lainnya.

“Makanya ketika ketemu ide pengusir burung ini, kami sangat senang, karena belum ada yang menemukan. Apalagi ini nanti kami harapkan bisa bermanfaat bagi para petani,” timpal Regina.

Konsep alat yang dibuatnya bersama Nanda, diadopsi dari sejumlah alat pengusir burung yang dibuat secara tradisional oleh warga. Memanfaatkan sejumlah komponen motor listrik tambahan, dengan bantuan tenaga aki, maka alat ini pun berkembang menjadi pengusir burung canggih.

“Kalau konsepnya sih kurang lebih sama dengan pengusir burung yang banyak dibuat warga. Bahkan aku lihat langsung dari para petani yang ada di Kota Raja (daerah di Lotim),” akunya.

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, kedua siswi ini juga tak segan bolak-balik melakukan observasi ke sejumlah sawah untuk menemui para petani. Mulai dari pagi hingga sore, mereka bahkan rela bergumul dengan lumpur sawah, demi menciptakan A-Bire. (*)