Mereka yang Berhasil Kaya Lewat Selancar Internet

Cepat Dapat Uang, Risiko Banyak

Ade hilwan dan tim kerja.
Ade hilwan dan tim kerja.

Ade Hilwan adalah salah satu pemuda yang awalnya miskin kini kaya berkat internet. 


AZWAR ZAMHURI-MATARAM


INTERNET sudah menjadi bagian dari hidup manusia modern. Masalahnya, belum banyak orang yang menjadikan internet sebagai tempat menggali uang. Berbeda dengan Ade Hilwan. Ia kini bisa menghasilkan omset Rp 2,1 miliar per bulan. 

Sebuah mobil mewah berwarna putih terparkir di salah satu tempat ngopi di kawasan Gomong Kota Mataram, Senin (5/8). Pemuda ini dan beberapa temannya ngobrol bersama Radar Lombok tentang banyak hal.

Ade Hilwan adalah pemuda asal Desa Geres Kabupaten Lombok Timur kelahiran 3 April 1992. Zhoya, sang istri, dinikahinya Februari 2019 lalu. Meski berusia muda, alumni Universitas Mataram jurusan peternakan ini telah mengalami banyak dinamika hidup. Pernah merasakan kegagalan berkali-kali, tertipu hingga hilang kepercayaan diri. 

Perlahan ia belajar dari semuanya dan menuai sukses. “Benar kata orang tua kita, menikah itu membuka pintu rezeki. Saya memutuskan menikah saat gagal, dan perlahan bangkit. Dalam waktu tidak lama, kehidupan saya jauh lebih baik,” ungkap Ade. 

Semua berawal dari kegagalan Ade dan timnya di Youtube. Modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp 150 juta. Modal tersebut didapat dari menggadai tanah. “Kami upload film di Youtube. Target penonton orang luar negeri. Tapi gagal, modal sudah keluar banyak banget. Saya putus asa karena gak ada hasil. Kemudian saya putuskan menikah. Setelah menikah bingung mau kerjakan apa. Sementara kebutuhan hidup semakin bertambah,” ucap anak tunggal dari Ibu Hilmiah ini.

Bukan kali pertama Ade mengalami kegagalan mendapatkan uang di internet. Sejak kuliah semester dua, berbagai jenis usaha di internet sudah dilakoni. Ade dan kegagalan sudah akrab, yang dibesarkan oleh uang internet. 

Di tengah kebingungan dan keinginan menjual barang apapun yang dimiliki, ajakan dari temannya seperti pintu kebahagiaan. “Ada teman yang ngajak, namanya Putra dan Adi. Saya diajak promosikan produk luar negeri,” ucap jebolan SD 3 Ijobalit, SMP 1 Labuan Haji dan SMA 1 Selong ini. 

Harapan baru dimulai pada Mei 2019. Ade mengajak timnya yang sudah terbentuk sejak lama untuk mempromosikan produk kecantikan dan multi vitamin asal Jepang. Media sosial seperti Facebook, Instagram dan lain-lain dimanfaatkan sebaik mungkin. 

Pekerjaan Ade dan timnya hanya promosi saja dan melayani calon pembeli. Setelah ada kesepakatan, alamat pembeli dikirim ke admin atau perusahaan distributor di Jakarta. “Ternyata uangnya besar. Sehari saja omset kita Rp 70 juta,” ungkap sarjana peternakan ini. 

Apabila dalam sehari omset rata-rata sebesar Rp 70 juta, maka sebulan mencapai Rp 2,1 miliar. “Itu nilai omset kami. Kalau pendapatan atau keuntungan pribadi, bulan pertama Mei itu hanya Rp 30 juta per bulan, bulan Juni mulai naik jadi ratusan juta. Dan bulan Juli kemarin pendapatan pribadi lebih dari Rp 900 juta per bulan,” paparnya. 

Ade menjadi dealer di daerah untuk perusahaan distributor di Jakarta. Perusahaan tersebut yang mengirim paket ke pembeli. Saat ini, Ade sudah mempekerjakan sekitar 250 orang yang pekerjaannya hanya promosi produk. 

Adehilwan

Masa kejayaan sudah digenggaman. Hanya dalam waktu singkat, uang besar datang karena jasa internet. “Saya kerjaannya sekarang memenej orang-orang yang kerja. Saya salah satu pimpinan tertinggi dari sebuah tim di NTB dan beberapa daerah lain. Sekarang kami juga punya kantor sendiri. Bisa bayar orang untuk promosi. Modal Rp 5 juta sehari untuk bayar iklan,” ujarnya.

Sebuah Perseroan Terbatas (PT) juga tengah disiapkan untuk semakin melebarkan sayap. Lapangan kerja semakin terbuka. “Tapi apa yang saya dapatkan saat ini, saya rintis sejak saya kuliah. Di internet itu, uang banyak kalau kita tahu caranya,” kata Ade. 

Kesuksesan saat ini, semua berawal ketika ibunya yang hanya mengandalkan hidup dari berjualan di warung di kampung. Saat itu, Ade semester dua di Unram. Sang ibu tidak mampu membiayai kuliah.

Ade berpikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan uang sendiri. Namun mendapatkan pekerjaan sangat sulit, apalagi bagi seorang mahasiswa. “Kerja fisik saya gak kuat. Saya browsing di internet, akhirnya ketemu cara. Saya semester dua, kerjaan saya klik iklan-iklan di internet, sebulan saya dapat Rp 150 ribu,” ceritanya. 

Dari hal kecil itu, Ade memiliki beberapa teman di internet. Diajaklah bermain investasi, memasukkan uang Rp 100 ribu, bulan depan bisa menjadi Rp 150 ribu. Sangat mudah mendapatkan keuntungan. 

Terbuai atas keuntungan tersebut, Ade mengajak teman-temannya untuk investasi bersama. Terkumpullah Rp 10 juta dari 5 orang, bulan depan bertambah menjadi Rp 15 juta. “Saya semakin berani ajak teman-teman kos dan yang lain, saat itu terkumpul Rp 60 juta dari sekitar 20 orang. Dan ternyata gagal ternyata, website itu hilang bersama uang kami. Saya down, gak nyangka, gak percaya,” ujarnya. 

Bermain uang di internet disadari sangat berbahaya. Pikiran mendapatkan pekerjaan lain berkecamuk. “Saya ketemulah dengan kerjaan yang namanya Ecomobi, promosiin aplikasi. Jadi kita dapat uang dari aplikasi yang kita promosikan ketika diinstal orang,” terangnya. 

Dari pekerjaan tersebut, Ade mendapatkan uang sekitar Rp 1 juta per bulan. Teman-temannya kembali diajak, pada tahun 2016 sudah banyak ikut bergabung. Tim dibawah komandonya semakin besar, penghasilan juga mencapai Rp 100 juta hingga Rp 150 juta per bulan. 

Saat itu, uang sangat mudah didapatkan. Apalagi ketika mempromosikan salah satu aplikasi dari AliBaba Group. “Pokoknya uang gampang banget. Makanya saya berani ambil tanah tahun 2017 seharga Rp 700 juta. Saya bilang, dua bulan saya kembalikan. Tapi ternyata saat itu ada masalah, sekitar Rp 500 juta kami tidak dibayar,” ungkapnya. 

Gagal dengan Ecomobi, Ade mencoba bermain melalui Google Adsense. Hasilnya cukup lumayan mencapai Rp 30 juta per bulan. Tim yang dipimpinnya kembali hidup, banyak orang baru ingin ikut. Bahkan sebuah rumah di Jempong Kota Mataram berhasil dibeli. 

Adehilwan

Cara kerjanya, membuat website sendiri dan menulis sesuatu yang sedang viral. Semua itu tentu saja membutuhkan ketekunan. “Banyak sarjana juga yang ikut jadi tim saya karena ini pekerjaan yang jelas. Memang sih di masyarakat jarang tahu uang di internet. Malah gak percaya mereka. Sayangnya saya di-banned, banyak orang langsung nganggur. Saya bingung apa lagi yang harus kami kerjakan. Pokoknya gak terhitung kegagalan yang saya alami sebelum jadi seperti sekarang ini,” ucapnya.

Antara kegagalan dan uang banyak, dilalui penuh kenangan. Ade juga masih ingat, bagaimana cibiran dan cacian terhadapnya. Bahkan dari keluarga dan masyarakat di kampungnya sendiri. 

Namun kini pekerjaannya stabil di internet dengan promosikan produk. Anak-anak muda di kampungnya juga banyak direkrut untuk bekerja. “Dulu itu saya di kampung dianggap main judi, jual narkoba. Masyarakat kan kaget saya bisa beli mobil juga, sementara saya dianggap kerjaannya tidak jelas. Malah saya dianggap akan ditangkap polisi. Karena kan kerja di internet itu memang pandangan masyarakat kita dianggap pengangguran. Tapi orang-orang yang omongin saya itu anaknya saya rekrut, jadi tahu kerjaan saya seperti apa. Makanya kalau ada pembangunan masjid juga saya tetap bantu. Karena pekerjaan saya jelas kok, masyarakat aja yang jarang tahu uang dari internet,” ujarnya. 

Orang yang paling berjasa dalam hidup Ade adalah ibunya sendiri. Sosok yang selalu sabar dan memberikan kepercayaan penuh. Kemudian istri tercintanya, Zhoya yang setia menemani dalam suka maupun duka.(*)