Meratapi Derita AGUSTINA SINTA NINGSIH Melawan Penyakit Kaki Gajah

MEMPERIHATINKAN : Agustina Sinta Ningsih hanya bisa duduk terdiam di rumah sejak mengidap penyakit kaki gajah sejak setahun silam. ( SUDIRMAN/RADAR LOMBOK )


Penyakit yang diderita Agustina Sinta Ningsih betul-betul membutuhkan perhatian dan sentuhan perawatan. Sejak menderita penyakit kaki gajah, warga Lingkungan Timbrah, Kelurahan Pagesangan Barat, Kecamatan Mataram, ini tak pernah mendapatkan perawatan medis sama sekali.


PADA usianya yang baru menginjak 25 tahun, Agustina Sinta Ningsih harus berjuang melawan penyakit kaki gajah yang dieritanya. Sejak menderita penyakit itu, Agustina hanya bisa duduk diam di rumahnya. Ia sama sekali tak pernah mendapatkan perawatan medis.
Mirisnya lagi, Agustina selama ini hanya mengonsumsi obat pereda nyeri untuk melawan penyakitnya. Obat itu pun alakadarnya karena dibeli dari warung terdekat rumahnya.
Agustina sendiri divonis menderita penyakit downsyndrom dan setahun terakhir menderita sakit kaki gajah dan diabetes. Dia tidak pernah dirawat secara maksimal selama ini meski memilki kartu BPJS melalui faskes karena takut. Saat ini kondisinya sangat memprihatinkn karena tidak pernah lagi tersentuh medis. Dia hanya diobati dengan obat-obatan warung dan tawas Makkah yang diperoleh ibunya selama ini. ‘’Saya hanya obati tradisional selama ini dan pakai obat pereda nyeri yang dibeli di warung,’’ tutur Hamalah, ibu Agustina Sinta Ningsinh.

Baca Juga :  Anjar Siswara, ASN Yang Nyambi Jadi Pemilah Sampah


Menurut Halamah, anaknya hanya bisa melanjutkan sekolah hingga jenjang SMP. Setelah itu, Agustina harus berjibaku membantu orang tuanya mencari nafkah dengan cara kerja serabutan. Dalam perjalannya, kaki anaknya tiba-tiba bengkak. Setiap hari Agustina harus menjerit menahan rasa sakitnya.
Di tengah kesakitan anaknya, Hamalah dan suaminya hanya bisa pasrah. Anaknya takut sekali jika harus dirawat di rumah sakit. Ketakutan itu dirasakan Agustina ketika ia sempat dibawa ke puskesmas pada awal ia menderita penyakit itu.
Sejak itu, ia kemudian tak pernah lagi dibawa ke fasilitas kesehatan. Ia hanya dibantu menahan rasa sakit dengan mengonsumsi obat pereda nyeri yang dibeli di warung terdekat. ‘’Sebanarnya kami berharap ia bisa sembuh dan normal kembali. Tapi dia takut sekali ketika dibawa ke rumah sakit,’’ tutur Hamalah.


Kaki Agustina sendiri kini semakin membesar seperti bantal. Kaki itu terus membengkak setiap hari. Sementara orang tuanya tak bisa meyakinkan anaknya agar segera mendapatkan perawatan medis.
Karena itu, Hamalah meminta bantuan pihak terkait untuk bisa meyakinkan anaknya agar mau diobati. Terlebih, penyakit anaknya setiap hari semakin parah.
Penyakit Agustina sendiri kini menjadi perhatinan Dinas Sosial Provinsi NTB. Mengingat belum ada respons dari Pemkot Mataram meski sebelumnya telah dilaporkan.

Baca Juga :  MENGENAL MUHAMMAD FAISHAL, PERAIH BEASISWA DARI KEDUTAAN MESIR


Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H Ahsanul Khalik mengaku prihatin atas kondisi yang dialami Agustina. Saat ini sedang dilakukan edukasi peksos untuk dibawa ke puskesmas untuk dirawat lebih lanjut. ‘’Sempat ada penolakan dari pasien, namun tetap kita berikan pendampingan. Tim dari kelurahan setempat bersama NTB Care sedang berkoordinasi dengan RSUD Kota Mataram untuk melakukan pemeriksana lebih lanjut. Kami dari Dinsos NTB juga tetap melakukan pendampingan sampai pulih kedepanya,’’ katanya.
Kasus seperti ini bukan kali pertama terjadi di Kota Mataram. Dalam satu bulan terakhir, banyak laporan yang masuk ke Dinsos NTB. Mulai dari segi pelayanan kesehatan yang paling banyak keluhan dan kerap tidak mendapatkan perawatan. ‘’Kita bantu fasilitasi dan kita bawa ke RSUP NTB maupun RSUD Kota Mataram,’’ tambahnya. (**)