Mengenal Lebih Dekat Dancer Internasional Asal Lobar

Nuraqilla Waidha Bintang Grendis, merupakan salah satu dancer terkenal tingkat internasional sejak tahun 2012 hingga saat ini. Sayangnya, meskipun gadis cantik asal Lingkungan Paok Dane, Kelurahan Gerung Utara, Kecamatan Gerung, Lombok Barat (Lobar) ini, kerap mengharumkan nama daerah, namun tak satupun pejabat Lobar yang pernah menenggok, ataupun memberikan dukungan moril.

_______________________________

HERY MAHARDIKA – GIRI MENANG

_______________________________

MINGGU lalu (8/5), sekitar pukul 13.00 Wita, bertempat di SMAN 1 Gerung, nampak seorang gadis cantik sedang unjuk kebolehannya menari (dancer). Dengan iringan musik jenis disko, gemulai tubuh penari yang terlihat sangat profesional itu sungguh sangat menakjubkan para penonton yang hadir pada acara pelepasan siswa SMAN 1 Gerung tersebut.

Bagi orang yang pertama melihat, pasti tidak akan percaya kalau kalau gadis yang piawai menari, dan baru duduk di kelas XI SMAN 1 Gerung itu berasal dari Lobar. Walaupun masih sekolah, Bintang, sapaan akrabnya, sejak umur 12 tahun atau duduk di kelas I SMP ini telah mampu mengukir prestasi di bidang dancer hingga tingkat internasional.

Untuk mengukir prestasi tersebut, Bintang pun tidak luput dari perjuangan panjang dan berliku di bidang dancer. Menurutnya, sesuatu yang ingin diraih itu harus membutuhkan perjuangan, dan siap menghadapi apapun bentuk tantangannya. Begitu juga di dunia entertainment bidang dancer. "Ya namanya juga ingin menggapai keinginan, tentu perlu ada perjuangan," ujar siswi jurusan IPA ini kepada Radar Lombok kemarin (10/5).

Iapun menceritakan awal mula kesuksesan ikut dancer. Sejak umur 10 tahun atau masih duduk di kelas 5 SDN 3 Gerung Utara, ia ikut kompetensi tarian tradisional di sebuah acara yang digelar di Senggigi-Batulayar. Ketika itu, hadir Marcel, salah seorang pelatih dancer.

Selepas penampilannya, Marcel pun mendekatinya, menawarkan diri untuk mengajarkan tarian dance. Iapun dengan spontan langsung mengiyakan tawaran tersebut. “Basic saya sebenarnya tarian tradisional sejak kelas 4 SD. Tapi adanya tawaran belajar dancer dari Pak Marcel, saya pun menerima dan tidak mau kehilangan kesempatan," ujar siswi yang selalu juara umum di kelasnya ini.

Sejak itu dia berlatih di Crystal Mataram. Selama setahun dia dibina dan diberikan pelajaran dance secara gratis. Setelah naik ke kelas 6 SD, diapun mulai menekuni dengan serius tahapan dancer tersebut. Kesukaan menjadi seorang dancer terkenal, berawal dari rasa suka melihat kompetensi dancer yang ada di tayangan stasiun tv.

Dalam dunia dancer sebenarnya sulit, namun karena dia memiliki dasar tari tradisional, membuat dirinya mudah berinteraksi dengan ilmu baru yang dipelajari. Ada beberapa bagian yang perlu dilatih, bagaimana bentuk ekspresi di kaki, tubuh, tangan, dan posisi badan. "Proses belajar tentu ada saja kesulitan dalam meniru gerakan. Tapi karena suka, akhirnya tidak merasakan kesulitan. Mengalir saja waktu latihan," tandasnya.

Gadis yang terlahir dari pasangan Idris Wijaya dengan Baiq Wadiah ini mengaku setiap latihan dia selalu diantarkan orang tuanya. “Saya tetap mendorong Bintang selama itu hal positif. Selain itu, Bintang juga mendapatkan motivasi dari guru-gurunya, baik di SD hingga SMA saat ini," kata Baiq Wadiah.

Gadis yang memiliki tinggi badan 159 sentimeter ini, untuk memperkuat fisik iapun melakukan sit up, push up, kadang juga berlari. Sebenarnya lari di dancer itu tidak diwajibkan, karena akan merusak kaki. Dan yang paling harus dijaga adalah makanan berlemak. Sebab, menjadi seorang dancer itu harus berbody langsing.

Selepas SD, ketika duduk di kelas I SMPN 1 Gerung, Bintang mengikuti kompetisi dancer pemula pada tahun 2012 di Lombok Raya tingkat internasional, dan ternyata berhasil meraih juara 2. Pada saat tampil pertama kali, diakui memang gugup, apalagi melihat dancer lain perwakilan sedunia.

Keberhasilannya itu memacu Bintang mengikuti kembali kompetisi dancer tingkat internasional pada tahun 2013 di Hotel Sentosa-Batu Layar, dengan tahapan dancer lebih tinggi. Dan perlombaan kedua inipun berhasil masuk babak lima besar.

Meski berada diurutan kelima, Bintang tak putus asa malah ia semakin rajin latihan, untuk mengisi kekurangan dancernya. Setelah itu, pada tahun 2014 iapun ikut kembali dancer tahap premateur di Senggigi, dan kali ini berhasil memperoleh juara 1. Begitu juga pada tahun 2015, berhasil meraih juara 1 mewakili Indonesia, khususnya NTB. “Pada tahun ini saya akan kembali berlaga tingkat internasional, dan akan berangkat pada tanggal 9 September mendatang ke Bandung. Makanya sekarang harus latihan agar dapat juara lagi," harapnya.

Kesuksesannya di bidang dancer ini, gadis dua bersaudara ini bahkan telah mendapatkan kesempatan di sejumlah negara untuk tampil, seperti di Thailand, Singapura, China dan Malaysia. Bahkan Bintang juga telah bermain film di sejumlah televisi nasional, seperti sinetron Lima Satria Kembar, Air Mata Dara, dan Maafkan Aku. "Makanya Bintang bolak-balik ke Jakarta," terang ibunya lagi.

Bahkan tahun ini (2016) sudah dikontrak oleh beberapa stasiun televisi nasional swasta untuk main sinetron seperti di SCTV, RCTI, MNC TV, dan TransTV. Namun Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi meminta untuk menunda dulu, dalam rangka mempersiapkan diri ikut kompetisi yang tinggal beberapa bulan lagi. “Pak Gubernur minta Bintang tunda dulu, agar siapkan diri ikut Pekan Olahraga Nasional (PON)," tandasnya.

Bintang ternyata tak hanya ahli di bidang dancer saja, melainkan juga pernah ikut kompetisi debat bahasa Inggris, olimpiade kebumian, ekonom dan biologi, serta penyanyi solo. "Alhamdulillah, dapat juara semua. Tapi lombanya tingkat kabupaten," ujarnya.

Meski sudah menjadi artis yang banyak mendapat tawaran, Bintang sama sekali tidak pernah menyombongkan diri. Dia memiliki cita-cita sendiri untuk masa depannya. "Kalau cita-cita ingin menjadi pilot," pungkasnya. (*)