Mengenal Ema Ramdhani, Penerjemah Bahasa Isyarat di NTB

TERJEMAHKAN: Ema Ramdani (perempuan berbaju hitam) saat menerjemahkan penyampaian Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto ke dalam bahasa isyarat, Kamis lalu (4/2).(DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

SESOSOK perempuan berbaju hitam terlihat sibuk menggerakkan tangannya. Setiap kata yang keluar dari aparat kepolisian, tangannya bergerak dengan lincah mengikuti kata-kata itu. ia sedang menerjemahkan semua keterangan polisi dengan bahasa isyarat.

Dia adalah Ema Ramdhani, seorang guru honorer asal Gunungsari Lombok Barat. Bakatnya menggunakan bahasa isyarat terkenal jago selama ini. Karena keahliannya itu pula, aparat kepolisian mulai menggunakan jasanya untuk menerjemahkan dengan bahasa isyarat.

Kamis (4/2) adalah hari perdananya bekerja. Ia dilibatkan dalam jumpa pers Mapolda NTB. Selama pemaparan materi konferensi pers, tangannya nyaris tak berhenti bergerak membentuk kata-kata. Pesan kalimat yang disampaikan melalui bahasa isyarat secara cepat dapat dia sampaikan.

Kedua tangannya begitu lentur. Ema pun memperlihatkan mimik yang ekspresif. Kadang wajahnya garang, lembut, ceria, sedih, dan kadang terlihat manis. Gerakan bibirnya juga demikian, sesekali menimpali gerakan tangannya yang lentur gemulai.

Saat itu, Ema tak bisa diganggu. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Sekali tak fokus, makna dari kalimat dalam materi yang disampaikan Kabid Humas Polda NTB bisa terputus. Untuk itu, Ema tetap fokus sekali pun kamera wartawan beberapa kali membidiknya.

Setelah cukup lama dan acaranya jumpa pers selesai, Ema akhirnya mulai merespons setiap yang menyapanya. Dia menceritakan apa yang dijalani. “Saya mulai belajar bahasa isyarat saat kuliah di Universitas Negeri Malang ambil program S1 Pendidikan Luar Biasa,” tuturnya.

Untuk dapat berbicara dan menjadi penerjemah bahasa isyarat, menurutnya, membutuhkan proses yang tidak singkat. Harus kerap memeragakan serta komunikasinya harus langsung dengan penyandang disabilitas yaitu yang tunarungu. “Selain di dalam kelas saya mengikuti beberapa kegiatan dengan teman-teman tunarungu Malang, khususnya yang sedang kuliah di kampus yang sama dengan saya dengan jurusan yang berbeda. Saat itu saya mulai termotivasi untuk mengasah kemampuan saya. Ternyata respons mereka baik terhadap saya sehingga saya dimintai tolong untuk menjadi penerjemah pada organisasi khusus tunarungu di luar perkuliahan,” ujarnya.

Menurutnya, gerakan-gerakan bahasa isyarat cukup mudah dilakukan. Akan tetapi, ketika harus bersamaan dengan ekspresi wajah, maka penyesuaian hal ini yang membutuhkan waktu lama. “Tanpa ekspresi, maknanya akan sulit ditangkap. Ekspresi ini yang menurut saya butuh penjiwaan. Tanpa menjiwai, akan sulit bisa,” ungkapnya.
Dikatakannya, bahasa isyarat menjadi sangat penting, mengingat banyak penyandang disabilitas yang membutuhkan. Dengan luasnya Lombok dan banyaknya penyandang disabilitas, dia pun berharap agar ada perhatian khusus. Itu supaya bahasa isyarat juga banyak dikuasai oleh warga yang normal. Hal itu disebutnya akan mempermudah penyampaian informasi kepada mereka yang membutuhkan bahasa isyarat.

Sebenarnya, menurut Ema, ada dua jenis bahasa isyarat di Indonesia. Yakni bahasa yang mengutamakan komunikasi secara manual menggunakan bahasa tubuh, gerak bibir, tangan, serta ekspresi wajah, guna menyampaikan pesan kepada orang lain. Dua jenis bahasa isyarat itu adalah Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).

Bisindo merupakan bahasa yang berkembang secara alami di kelompok masyarakat tuli Indonesia, sedangkan SIBI adalah tata cara mempresentasikan bahasa lisan Indonesia ke dalam gerakan tertentu.

Ema menuturkan bahwa dirinya awalnya hanya menguasai SIBI. Tetapi begitu menemukan di beberapa daerah banyak menggunakan Bisindo, ia pun berusaha keras agar menguasai Bisindo juga. Begitu selesai kuliah, dia pun menjadi guru honorer di Sekolah Luar Biasa (SLB) 1 Lombok Barat.

Saat itu, penerjemah bahasa isyarat di Lombok belum ada. Sementara banyak tunarungu yang membutuhkan penerjemah bahasa isyarat. Berbekal ilmu yang didapat sewaktu di bangku kuliah, Ema pun mengabdikan dirinya menjadi penerjemah bahasa isyarat di mana pun diperlukan. “Nah, kebetulan hari ini Polda NTB yang minta akhirnya saya ke sini,” tuturnya.

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto menjelaskan, dihadirkannya penerjemah bahasa isyarat dalam konferensi pers tersebut merupakan bentuk pemenuhan hak bagi para penyandang disabilitas untuk memperoleh informasi. Artanro berharap, ke depan semua masyarakat bisa mendapatkan informasi yang sama.
“Untuk itu hal seperti ini tetap kita terapkan di setiap jumpa pers nantinya” ujar perwira melati tiga tersebut. (dery herjan)