Menelisik Kesakralan Sumur Majapahit di Desa Sambik Elen

BERDOA: Salah satu pengunjung tampak khusus memanjat doa di sumur Majapahit Desa Sambik Elen Bayan KLU.(M GAZALI/RADAR LOMBOK)

Di tengah kemajuan zaman dan teknologi, sebagian masyarakat masih percaya dengan hal yang berbau mistis. Tak terkecuali masyarakat Pulau Lombok. Meski dijuluki dengan Pulau Seribu Masjid, tapi dunia mistis belum bisa dilepaskan masyarakat sepenuhnya.

DUNIA mistis masih melekat dalam kepercayaan sebagian masyarakat Sasak Lombok. Salah satu memercayai peninggalan sejarah yang dianggap sakral. Seperti sumur Majapahit di Desa Sambik Elen, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Sumur ini dipercaya sebagai bisa mendatangkan maslahat bagi orang yang memercayainya.
Lokasi sumur sendiri berada di perbatasan Desa Obel-Obel Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur dengan Desa Sambik Elen Kecamatan Bayat Kabupaten Lombok Utara. Untuk sampai ke tempat ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pertigaan jalur utama pasar Bayan. Jalanya menanjak tapi sudah diaspal. Letaknya sekitar 50 meter di pinggir jalan.

Sumur Majapahit tidak sama seperti sumur pada umunya. Sumur ini berada di tengah batu cadas dengan lubang berukuran sekitar 20 diameter dan kedalamam sekitar dua jengkal.
Sumur ini memiliki sembilan lubang. Sebagian ada yang berdekatan, tapi ada juga berjauh. Air sumur ini tidak pernah kering. Meski ukurannya kecil, ketika diambil airnya kembali muncul.

Sumur ini biasanya hanya didatangi di hari-hari besar. Mereka yang datang tidak hanya dari sekitar Bayan dan KLU. Tapi juga dari luar KLU seperti Lombok Timur.
Sebagian besar mereka yang datang karena punya hajat tertentu. Ada ingin mencari jodoh sampai ingin sembuh dari penyakit. “Saya sudah sering ke sini. Kadang yang saya bawa itu ingin berobat dan juga berniat ingin dapatkan jodoh yang baik,’’ tutur Husnul Arifin, salah seorang pengunjung.

Kata dia, mensakralkan tempat atau sesuatu itu bukan berarti menyekutukan Sang Pencipta. Tapi sebagai manusia biasa, beragam cara bisa dilakukan sebagai perantara untuk mendapatkan keinginannya. Entah itu jodoh, kesehatan maupun kemaslahan lainnya. Yang terpenting adalah niat dan semuanya diserahkan ke Sang Pencipta. “Juga jauh beda ketika sakit kita datang berobat ke dokter. Ini kan ikhtiar untuk bisa sehat. Tapi kan tetap Allah yang menentukan semua itu. Begitu juga dengan sumur ini, kita hanya sekadar berikhtiar melalui perantara air sumur ini. apa yang kita hajatkan dikabulkan oleh sang penentu hidup ini,” kata dia.

Selain secara pribadi, Husnul juga terkadang datang ke sini mengantar ketika ada orang sakit, bahkan juga ingin mendapatkan jodoh. Belajar dari pengalaman pribadinya ketika ada yang diniatkan terkadang dikabulkan setelah mendatangi sumur Majapahit tersebut. “Kalau sakit saya ke sini untuk ambil air. Yang penting yakin dan berdoa apa yang kita niatkan. Semuanya serahkan ke Allah,” tutupnya. (*/Gazali)