Lakukan Pendekatan Humanistis, Ajak Warga Gotong Royong

INISIATOR: Ellena Khusnul Rahmawati (tengah) bersama Kades Beriri Jarak Lalu Pauzi dan Kades Kembang Kerang Daya Burhanudin di lokasi sumber mata air bersih.

 

Ribuan warga Desa Beriri Jarak dan Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), merasakan kehidupan yang lebih baik. Tidak perlu lagi adu mulut ataupun jalan kaki berkilo-kilometer untuk mendapatkan air bersih.

 


Agus Dwi Prasetyo, Lombok Timur


 

WAJAH Fathullah merah padam. Amarahnya tak terbendung. Dia marah karena slang yang dipasangnya di bak penampungan air dicopot salah seorang tetangganya. Kalau sudah begitu, kebutuhan keluarganya untuk air bersih bisa tidak tercukupi.

Empat bulan lalu, itu adalah pemandangan biasa di Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten  Lombok Timur. Warga berebut menancapkan slang sebesar slang akuarium di bak penampungan air yang ada di kantor desa. Slang tersebut mengalirkan air ke penampungan air yang ada di rumah masing-masing warga.

Dari kantor desa ke rumah Fathullah, slang yang dipasang mencapai 300 meter. Agar penampungan air yang ada di rumahnya penuh, slang milik Fathullah harus terpasang mulai sore hingga pagi hari.

Karena ada yang mencabut slangnya, hari itu bak penampungan air di rumah Fathullah tidak penuh. Bayang-bayang anak-istrinya kekurangan air bersih untuk memasak maupun minum pun menyeruak. Itulah yang membuat dia naik darah. ”Paling banyak yang adu mulut ibu-ibu. Namun, ada juga pria yang berantem karena masalah air,” kata Fathullah.

Slang air yang bikin berantem itu pada awalnya adalah ”dewa penolong”. Warga tidak perlu berjalan naik turun bukit sejauh beberapa kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sebelumnya, dengan menggunakan semacam timba, warga pergi ke sumber air dengan berjalan kaki.

Namun, sejalan dengan berjalannya waktu, slang itu ternyata belum menjawab sepenuhnya kebutuhan warga. Banyak yang bersitegang karena merasa haknya untuk mendapatkan air diserobot.

Masalah yang sama terjadi di Desa Kembang Kerang Daya yang bertetangga dengan Beriri Jarak. Warga yang mayoritas berprofesi petani kerap ribut saat pembagian air tidak rata. ”Bahkan, sampai ada yang harus berkelahi sungguhan,” kata Kepala Desa Kembang Kerang Daya Burhanudin menceritakan konflik sosial di desanya.

Masalah air bersih sebenarnya telah mendapatkan perhatian besar di Lombok Timur sejak 1984. Pemerintah maupun swasta pun terus melakukan upaya untuk menyelesaikannya. Namun, program dan pendanaan yang kurang baik membuat solusi kekurangan air menjadi parsial.

Padahal, di Desa Beriri Jarak ada sumber mata air besar Aik Numpas. Karena tidak ada pengelolaan yang baik, air bersih dari Aik Numpas terbuang percuma ke sungai.

Di tengah buntunya upaya membangun akses air bersih itu, pendiri Yayasan Masyarakat Peduli (YMP) NTB Ellena Khusnul Rahmawati datang untuk menawarkan gagasan. Dia mengajak pemerintah desa dan masyarakat bersama-sama membangun jaringan pipa air berkelanjutan. ”Diawali dengan sosialisasi, masyarakat pelan-pelan mulai mengerti pentingnya manajemen air,” ucapnya.

Awalnya banyak warga yang kurang yakin dengan gagasan Ellena. Warga khawatir pembangunan tersebut justru merusak sumber mata air setempat. Selama ini mata air, khususnya Aik Numpas, menjadi sesuatu yang sakral bagi warga di dua desa itu. ”Warga percaya air (dari Aik Numpas, Red) bisa mengobati orang sakit, jadi dianggap sakral,” ungkap Ellena yang kini menetap di Lombok kepada Jawa Pos.

 Menghadapi kendala tersebut, perempuan kelahiran Semarang 47 tahun silam itu pun meminta bantuan pemangku kepentingan di NTB untuk turut bergerak dalam pembangunan sanitasi dan air minum tersebut. Dia juga menjembatani perusahaan swasta yang ingin membantu pendanaan jaringan pipa. ”Kebetulan ada perusahaan yang ingin masuk ke NTB untuk program peningkatan akses air bersih dan sanitasi,”katanya.

Berkat pendekatan yang humanistis, kepercayaan masyarakat akhirnya terbentuk. Bahkan, gerakan itu tidak hanya memikirkan peningkatan jaringan pipa yang sudah ada. Tapi juga mengupayakan agar ada pengelolaan air bersih yang berkelanjutan ke setiap rumah. Dengan begitu, Fathullah dan warga lainnya tidak lagi antre menancapkan slang di bak penampungan.

Awal 2016, jaringan pipa mulai dibangun. Jaringan pipa yang terbengkalai juga diperbaiki agar bisa digunakan lagi. Secara bertahap, pipa-pipa diintegrasikan dari Aik Numpas ke bak pengumpul yang berada di dekat lokasi mata air. Sumber air tersebut berlokasi di jurang curam berjarak 1 kilometer dari permukiman terdekat.

Selanjutnya, pembangunan pipa diintegrasikan dari bak pengumpul ke dua bak reservoir (penyimpan air) yang ada di Beriri Jarak dan Kembang Kerang Daya. Masing-masing berkapasitas 25 dan 75 meter kubik.

Bak-bak itu dibangun secara gotong royong bersamaan dengan pemasangan pipa. Dari bak tersebut, air bersih kemudian disalurkan ke beberapa bak pelepas tekan yang dibangun dekat rumah-rumah warga.

Setelah pipa terintegrasikan, warga bersama-sama memasang water meter dan keran air di rumah masing-masing. Pemasangan itu dilakukan tiga bulan lalu hingga sekarang. Meteran air tersebut difungsikan sebagai pengontrol air, sama seperti yang dilakukan perusahaan daerah air minum (PDAM). ”Belum banyak yang memasang water meter karena masih banyak pipa yang belum terintegrasi ke rumah-rumah,” katanya.

Gerakan masyarakat saat ini sampai pada perumusan manajemen jaringan air berkelanjutan. Setelah semua rumah terpasang water meter, masyarakat menginginkan jaringan air dikelola badan usaha mandiri yang mengedepankan pelayanan profesional. ”Warga akan membayar setiap bulannya. Uang hasil pembayaran untuk operasi pengelola jaringan air,” bebernya.

Penghitungan besaran tagihan air per bulan akan dirumuskan secara musyawarah dengan mengacu kebudayaan lokal dan kapasitas masyarakat setempat. ”Mereka (masyarakat) yang minta jaringan air dikelola. Harapannya, ada yang mengatur dan mengontrol air bersih itu,” tutur alumnus YKPN Jogjakarta tersebut.

Dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Dengan semangat seperti itu, Fathullah dan anak-cucunya tidak perlu bersitegang lagi untuk mendapatkan air bersih.