Kementan Optimistis Indonesia Jadi Eksportir Besar Tanaman Hias

TANAMAN HIAS

JAKARTA–Perubahan preferensi pasar ke tanaman tropis dapat menjadi peluang bagi pengusaha dalam negeri, karena Indonesia adalah negara dengan kekayaan genetik florikultura terbesar di dunia.

Inovasi teknologi dibutuhkan untuk mengembangkan produk, memberikan nilai tambah, meningkatkan diversifikasi produk, serta melakukan transformasi produk sesuai keinginan konsumen.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo bahwa ketersediaan inovasi unggul menjadi faktor kunci dalam pengembangan pertanian, terutama pada subsektor florikultura.

“Kita memiliki negara dengan iklim tropis yang sangat bagus, sehingga kita bisa menghasilkan bunga tropis yang sangat indah dan bahkan diminati oleh dunia,” ujar Mentan Syahrul.

Mantan gubernur dua periode Sulawesi Selatan mengatakan, kemandirian dalam industri florikultura, termasuk penyediaan benih, akan mengurangi ketergantungan impor.

Sejalan dengan hal itu, agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) On The Spot volume 46 bertemakan Saat Bunga Berkembang, Uangpun Datang diadakan Selasa (8/11) di Kabupaten bogor, Jawa Barat.

Pada Ngobras On The Spot (OTS), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengapresiasi keanekaragaman tanaman hias di Indonesia yang telah diekspor ke berbagai negara.

Baca Juga :  Kurangi Ketergantungan Impor, Kementan Kembangkan Budi Daya Gandum Lokal

“Tanaman hias merupakan komoditas dengan nilai ekonomi tinggi apalagi bila diekspor ke luar, tentu saja kita (Kementan, Red) mendukung dalam bentuk pendampingan melalui para penyuluh kepada petani dan pelaku usaha, dari hulu hingga hilir,” ujar Dedi.

Lebih lanjut, Dedi mengatakan bahwa tanaman hias di Indonesia sangat bagus dan cantik. Dalam satu bulan bisa puluhan ribu bibit dan potensi ekspornya sangat luar biasa.

Hadir sebagai narasumber Ngobras, Pengusaha Pertanian Milenial Tanaman Hias, dengan brand usaha Minaqu, Ade Wardhana Adinata mengatakan, keunggulan Indonesia dengan negara Thailand yaitu pada ragam varietas tanaman hias.

Ade, sapaan Ade Wardhana, saat ini minaqu sudah memiliki kurang lebih 150 tanaman hias. “Minaqu diawali dengan modal awal lima ratus ribu rupiah, dalam waktu 10 bulan menjadi Rp 5 miliar,” papar Ade.

Baca Juga :  Food Estate, Kesempatan Realisasikan Kemandirian Pangan Indonesia

Menurut Ade, perang Rusia dan Ukraina memberikan peluang Indonesia untuk memasarkan produk ke berbagai negara. “Saat ini tanaman hias telah diekspor ke 50 negara di antaranya ke negara alaska dengan menggunakan cargo pesawat. Dua puluh lima di antaranya sudah repeat order,” jelas Ade.

Penyuluh Pertanian Kabupaten Bogor yang mendampingi Ade, Andri kriswantoro mengatakan telah bekerja sama dengan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) untuk mengatasi hama penyakit pada tanaman hias, sehingga tanaman sehat dan bebas dari penyakit.

“Kelompok Tani Tanaman Hias Kabupaten Bogor, pernah mengikuti lomba pada tahun 2020 dan mendapatkan juara pertama,” ujar Andri Kriswantoro.

Selanjutnya Andri kriswantoro mengatakan bahwa di minagu terdapat ratusan jenis tanaman hias dan telah mempunyai green house dengan standar global.

“Disini juga ada paguyuban tanaman hias dengan jumlah petani kurang lebih 250 dan 90 persen petani tersebut telah terdaftar pada aplikasi SIMLUHTAN,” imbuh Andri Kriswantoro. (gt)

Komentar Anda