Kagum Keindahan Sembalun, Ingin Datang Lagi

Sudah beberapa kali pelajar asal Singapura datang dan memperlajari tentang budaya dan sosial kemasyarakat warga  Sembalun, Lombok Timur. Kali ini, sebanyak 17 siswa School of the Arts (SOTA) Singapura juga melakukan kegiatan yang sama.

 

 

 


Jalaludin–Lombok Timur


 

Sejumlah remaja mencoba memainkan alat kesenian tradisional. Yang lain belajar menenun dengan alat tenun. Mereka terlihat begitu semangat dan antusias. Tidak segan-segan mereka bertanya fungsi alat kesenian yang dimainkan maupun alat tenun. 

Remaja ini  rombongan pelajar School of the Arts (SOTA) Singapura yang berjumlah 17 orang. Mereka datang dan tinggal sementara di Sembalun  Lawang guna mempelajari budaya masyarakat setempat. Rencananya mereka berada di Sembalun selama sembilan hari. Mereka menginap selama enam hari di Rumah Adat Desa Sembalun Lawang dan tiga hari di rumah warga.

Selain budaya mereka juga belajar tentang berbagai hal seperti belajar  pertanian, pendidikan dan sebagainya. Khususnya dalam hal budaya,  siswa ini tertarik untuk mempelajari bagaimana masyarakat Sembalun dalam memelihara keramahtamahan dan silaturrahmi serta kegotongroyongan. Bahkan para siswa ini juga mempelajari musik tradisional Sembalun. Tidak itu saja, mereka juga belajar menanam kopi, memanen hingga memprosesnya sehingga menjadi bubuk kopi siap diseduh.  “Kami sangat senang tinggal di Sembalun dan kami akan datang lagi kesini tahun depan,” kata Ann Ton, salah satu guru SOTA Singapura yang memimpin rombongan serta membimbing para siswa.

Melalui kunjungan ini, siswanya mengerti tentang bagaimana menanam kopi yang  memiliki fungsi ganda, sebagai sumber pendapatan masyarakat dan mencegah terjadinya longsor. “Kami ingin berbagi ilmu dan sekaligus ingin membantu masyarakat Sembalun,” kata salah satu siswa SOTA Izdyharna.

Ia megaku tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada masyarakat Sembalun dan juga alamnya yang indah dan eksotis. Ditambah dengan cuaca yang sejuk membuatnya ingin kembali ke Sembalun dan lebih lama lagi tinggal sekaligus belajar banyak pada masyarakat Sembalun.

Siswa lainnya Aqelah mengaku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman selama tinggal dan membaur dengan masyarakat setempat. “Banyak pengalaman selama beberapa hari kami disini dan itu semua merupakan kesan yang tidak akan bisa kami lupakan sehingga berat rasanya kami untuk meninggalkan Sembalun,” ujarnya.

Ann Ton dan siswanya menyampaikan  terimakasihnya pada masyarakat Sembalun yang telah menerima dan menyambut mereka dengan baik. Demikian juga terhadap keberadaan Putra Pariwisata Sembalun (PAS) yang memiliki peran cukup besar dalam membangun dan melaksanakan sektor pariwisata di daerah ini. Meski dengan sarana dan perasana yang tidak cukup memadai namun lembaga ini mampu eksis bagi kemajuan daerahnya.  Dan ini tentu saja akan menjadi hal yang menarik untuk dipelajari oleh para siswanya nanti.

Ketua PAS Amir Riis mengatakan keberadaan pelajar asal Singapura ini menjadi promisi yang bagus bagi  Sembalun dan tentu saja dukungan terhadap Gunung Rinjani menuju geopark.

Menurut Amir, selama di Sembalun pelajar asal Singapura ini diminta  mengajar Bahasa Inggris melalui Radio Komunitas Sembalun Lawang. “Mereka antusias belajar siaran di Rakomsel  dan belajar musik tradisional gamelan Rantemas Sembalun Lawang,” ujarnya. (*)

BACA JUGA :  60 Hektar Lahan Pertanian Rusak Diterjang Banjir