Gunakan Limbah Batang Tembakau, Bakal Dikembangkan Jadi Parfum

Bakal Dikembangkan Jadi Parfum
INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN : Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Prof Muhammad Sarjan menunjukan pestisida nabati BT Virginia bentuk cair hasil inovasinya. Pestisida nabati itu memanfaatkan limbah batang tembakau.( AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

Mengulik Pestisida Nabati BT Virginia Hasil Riset Prof Muhammad Sarjan

Salah satu tri darma perguruan tinggi adalah penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan itu diharapkan bisa menciptakan berbagai inovasi dan teknologi berikan manfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Itulah yang dilakoni mantan Dekan Pertanian Unram, Prof Muhammad Sarjan. Ia berhasil menciptakan pestisida nabati dengan memanfaatkan limbah batang tembakau virginia.

INOVASI teknologi bidang pertanian diciptakan mantan Dekan Fakultas Pertanian, Prof Muhammad Sarjan. Hasil inovasi itu sekaligus mengantar sang professor meraih penghargaan inovasi teknologi terbaik karya civitas akademika Universitas Mataram tahun 2019. Penghargaan itu menjadi rangkaian dari kegiatan dies natalis kampus terbesar di provinsi Nusa Tenggara Barat tersebut.

Inovasi teknologi bidang pertanian diciptakan yakni pestisida nabati dengan memanfaatkan limbah batang tembakau virginia. Inovasi tersebut dinamakan pestisida nabati BT Virginia. Teknologi pengendalian hama dengan menggunakan bahan nabati saat ini banyak dilirik sebagai salah satu alternatif. Penggunaan pestisidasi kimiawi pada pertanian banyak memunculkan persoalan baru. Mulai dari pencemaran lingkungan, terutama agroekosistem, munculnya resistensi hama, terganggunya kesembangan alam dan mengganggu kesehatan manusia.

Oleh karena itu, perlu dicari solusi alternatif untuk mengantisipasi dampak negatif penggunaan pestisidasi kimiawi tersebut. “Solusi masalah ini adalah penggunaan pestisidasi dengan bahan dasar nabati,” kata Prof Muhammad Sarjan saat ditemui Radar Lombok, kemarin.

Tembakau mengandung bahan nikotin yang juga bersifat racun terhadap serangga (insektisida). Bagian tembakau berupa limbah batang mengandung bahan insektisida yang bisa dimanfaatkan dan digunakan sebagai pengendali hama. Namun, kondisi saat ini batang tembakau belum banyak dimanfaatkan sehingga menjadi limbah.

Diperkirakan batang tembakau virginia di Pulau Lombok mencapai sekitar 336.000.000 batang atau setara dengan 42 ribu ton setahun. Dengan kondisi tersebut, keberadaan limbah batang tembakau itu sangat mengganggu keseimbangan ekosistem tanah dan lingkungan. Meski sisa batang tembakau itu sering dibenamkan dan tercampur dengan tanah, namun kenyataan masih sulit hancur karena sifat yang sangat keras.

Dengan inovasi teknologi diciptakan Prof Muhammad Sarjan, maka limbah batang tembakau virginia itu bisa digunakan sebagai bahan pestisida nabati. Dan, sangat memungkinkan dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik bagi penyediaan nutrisi tanaman. “Dengan begitu, limbah batang tembakau bisa didaur ulang jadi bahan pestisida nabati,” ucap pria asal Kelayu, Lombok Timur ini.

Prof Sarjan melakukan penelitian dan riset terkait hal itu sejak tahun 2016. Pada awalnya, ia melakukan penelitian yang bersifat action research pada kelompok tani sayuran di Lombok Timur dengan memanfaatkan batang dan tulang daun tembakau rakyat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa limbah batang dan tulang daun tembakau mempunyai potensi dan prospek sebagai bahan baku pestisida nabati dan kompos. Karena kemampuanya menekan hama-hama penting sayuran maupun pengaruhnya sebagai kompos terhadap pertumbuhan dan hasil tidak berbeda nyata dengan cara konvensional.

Kemudian ia juga mencoba pemanfaatan limbah batang tembakau virginia sebagai bahan input produksi pada budidaya sayuran organik yang hasilnya cukup menjanjikan. Baru dilakukan analisis laboratorium untuk menguji bioaktivitas ekstrak batang tembakau virginia terhadap hama lepidoptera dengan hasil bahwa bioaktivitas ekstrak bekerja sebagai racun kontak, racun perut, mengganggu sistem reproduksi serangga.

Walau begitu, hingga saat ini pihaknya belum memproduksi pestisida nabati dengan bahan limbah batang tembakau itu secara luas. Produksi pestisida nabati itu baru dilakukan secara terbatas. Namun pihaknya sudah mengusulkan hak cipta terkait inovasi pestidasi nabati bahan limbah batang tembakau virginia itu kepada Menkumham RI. “Pemasaran baru kita lakukan secara terbatas yakni di kelompok-kelompok pertanian menjadi mitra Unram,” tandas Guru Besar Fakultas Pertanian Unram tersebut.

Dengan inovasi teknologi pertanian berupa pestisida nabati diciptakan itu berpotensi untuk dikomersialkan. Sehingga dipastikan sangat besar nilai tambah yang diperoleh dari limbah yang tadinya tidak berharga menjadi bernilai ekknomi. Produk yang dihasilkan berupa pestisida nabati merupakan pestisida ramah lingkungan. Produk ini akan mampu sebagai pengganti pestisida kimia sintetik yang menjadi senjata pamungkas petani untuk mengendalikan hama dan penyakit tumbuhan.

Menurutnya, Pestisida BT Virginia yang merupakan produk teknologi dan inovasi itu menjawab harapan petani untuk memanfaatkan bahan alami tersebut secara tepat dan tersedia, terutama dalam usaha produksi pertanian organik. Produk-produk organik sudah mulai diminati oleh banyak kalangan terutama di hotel dan restoran. Di mana pulau Lombok yang merupakan destinasi wisata yang sangat terkenal akan membutuhkan produk organik. Sehingga petisida BT Virginia mempunyai peluang pasar sebagai bagian dari proses produksi pertanian organik. “Bahkan, saat ini kita coba kembangkan limbah batang tembakau jadi bahan pembuatan farpum,” tandasnya. (**)