Cerita Abdul Gani Pengusaha Muda Jasa Pertukangan

Belajar Otodidak dengan Modal Rp 2 Juta

Pengusaha Muda Jasa Pertukangan
BENGKEL : Abdul Gani (baju putih) bersama karyawan di bengkelnya. (Ali/Radar Lombok)

Saat pemuda seusianya masih sibuk bermain, tidak demikian dengan Abdul Gani. Ia memilih berwira usaha sejak masih belia. Kini di usinya yang sudah 24 tahun, ia sudah memiliki usaha sendiri di bidang jasa pertukangan.


ALI MA’SHUM—MATARAM


BENGKEL D Bale Tukang, itulah nama bengkel milik Abdul Gani. Bengkel ini berlokasidi Jalan Ade Irma Suryani Monjok Kota Mataram.

Kala Radar Lombok mengunjungi sosok ini, beberapa teknisi sedang sibuk bekerja. Nampak sosok lelaki berbaju putih sedang mengarahkan para teknisi tersebut. Dia adalah Abdul Gani pemilik D Bale Tukang.

Nama bengkelnya terinspirasi saat ia mengerjakan proyek dari salah salah satu pelanggan. ‘’Dulu nama bengkel saya Ganis Karya Indah. Tapi itu saya pikir terlalu personal namanya. Makanya diubah,’’ ujarnya, kemarin.

Usahanya ini tidak berdiri dengan sendirinya. Melainkan dengan upaya dan usaha yang keras. Ia mengawali dengan berjualan makanan. Kemudian beralih ke perbengkelan pada tahun 2012, saat itu usianya menginjak 18 tahun.

‘’Saya waktu itu baru masuk kuliah jurusan tehnik mesin di Unram,’’ katanya.

Di awal merintis usaha, ia meminta modal awal kepada orang tuanya sebesar Rp 2 juta. Dana itu ia gunakan untuk membeli alat las. Ia kemudian belajar secara otodidak. Yaitu dengan menonton Youtube. Semua keahlian yang dikuasainya saat ini dengan menonton Youtube. Tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mesin las. Tapi juga keahlian menangani pertukangan kayu, bangunan dan sebagainya.

Ia membeberkan kenapa harus belajar lewat internet. Katanya, belajar sama orang lain biasanya suka pelit ilmu. Lantaran itu, ia belajar otodidak.

Kini usahanya telah berkembang. Mulai dari bengkel interior, kayu, alumunium dan bangunan. Saat ini, ia mempunyai pegawai tetap sebanyak tujuh orang. Jumlah pegawainya akan bertambah tergantung dari orderan yang datang.

‘’Di sini semua tukang ada. Intinya dari semua hal yang berkaitan dengan bangunan. Mulai dari nol atau dasar hingga bangunan jadi,’’ imbuhnya.

Ia juga tidak tidak lupa dengan lingkungan sekitarnya. Seperti merangkul semua keahlian yang dimiliki oleh warga di sekitar Monjok. Ini cukup beralasan, karena Monjok terkenal dengan tukangnya.

 Kedepan, ia ingin mendirikan bengkel produksi meubel dan interior. Pangsa itu disasarnya karena lagi ngehit saat ini. Ia yakin, dalam waktu dekat keinginan itu bisa terwujud.

‘’Tapi sekarang masih fokus mengerjakan orderan orang. Namanya manusia tentu tidak pernah puas. Pasti ingin terus berkembang. Saya intinya semakin banyak orang yang bisa saya pekerjakan. Itu bisa semakin bagus,’’ harapnya.  

Sejauh ini, ia mengaku terkendala dengan kurangnya tenaga ahli yang dimiliki. Ia mengaku, semua pekerjaan tidak bisa dikerjakan sendiri.  Untuk itu, ia pun membuka pelatihan gratis bagi siapa saja yang ingin belajar. ‘’Iya syaratnya cuma bagi yang mau belajar dan belum menikah. Semuanya ini tidak bisa saya awasi sendiri. Makanya butuh tenaga ahli,’’ ujarnya. 

keberhasilannya saat ini tak lepas dari beberapa pengorbanan. Salah satunya kuliahnya yang terbengkalai dan belum diselesaikan. Untuk itu, ia bertekad akan menyelesaikan kuliah yang belum diselesaikan. (*)