Bukan Dari Keluarga Kaya, Bermimpi Jadi Pembalap Dunia

BERPRESTASI: Inilah Aldiaz Aqsal Ismaya, saat menjuarai Kejurnas Motoprix Region III di sirkuit Selagalas, Mataram beberapa waktu lalu.

Setiap pembalap sangat memimpikan bisa menjadi pembalap dunia dan merasakan magnet MotoGP. Tidak terkecuali bagi Aldiaz Aqsal Ismaya, anak usia 15 tahun asal Dasan Sari, Kota Mataram yang mewakili NTB pada ajang seleksi Asia Talent Cup ( ATC) 2017 di sirkuit Sepang, 26 Oktober.

 

 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


 

 Asia Talent Cup ( ATC) yang sudah digelar sejak 2014 merupakan sebuah ajang balap yang menjadi salah satu corong menuju balapan dunia khususnya untuk para pembalap Asia. Inilah ajang pembibitan pebalap yang diselenggarakan oleh Dorna, promotor MotoGP.

Menjadi mimpi bagi Aldiaz Aqsal Ismaya, bisa lolos menuju corong MotoGP tersebut. Untuk bisa ikut seleksi lanjutan ke sirkuit Sepang, Malaysia saja tidak mudah. Persaingan sangat ketat, namun anak kebanggaan dari pasangan Imam Hanafi dan Mien Ismayani ini mampu melewati semua itu.

Remaja kelahiran Mataram, 6 September 2001 ini mengaku sangat bangga bisa lulus mengikuti seleksi tahap lanjutan ke Sepang, Malaysia. sejak dibukanya pendaftaran sejak 15 Juli – 21 Agustus 2016, ada 600 calon peserta yang turut mendaftar. Namun, yang bisa lulus ke tahap berikutmya hanya 152 pendaftar.

Diaz, panggilan akrab remaja segudang prestasi ini, harus berjuang lagi agar bisa masuk 22 pembalap yang berhak mengikuti rangkaian seri di ATC 2017. “Ini cita-cita saya, jadi pembalap dunia. Saya akan total pokoknya di dunia balap,” ujarnya dari Malaysia via telepon, Senin malam (24/10).

Saat ini Diaz sudah berada di Malaysia, tidak ada ayah atau ibu yang mendampinginya. Namun ia bersama Tim Semoga Abadi Reptil Lombok pimpinan Chafid Putra, pengusaha asal Tulungagung, Jatim yang kini tinggal di Gunung Sari.  Pada tanggal 26 Oktober besok, Diaz akan bertarung di sirkuit Sepang dengan para pembalap lainnya dari 19 negara di Benua Asia dan Australia seperti Australia, Bangladesh, China, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Nepal, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Qatar, Korea Selatan, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand , Turki dan Vietnam. “Orangtua saya sangat mendukung penuh, tapi kan datang kesini pakai biaya,” ucap pembalap yang juga hoby naik gunung ini.

 Orangtua Diaz merupakan wiraswasta yang hidup sederhana. Dukungan materil maupun non materil selalu didapatkan, termasuk untuk seleksi ATC 2017. Bahkan perkenalan Diaz dengan motor karena sang ayah yang memiliki trail.

Pernah beberapa waktu lalu, ayahnya Imam Hanafi meminta agar Diaz berhenti terjun di dunia balap motor. Alasannya sederhana, biaya hidup dan menjadi atlet balap professional membutuhkan dana yang besar. “Saya disuruh berhenti, tapi saya tidak bisa. Mungkin saya memang tidak berprestasi di sekolah, tapi saya merasa bisa berkembang di motor,” tutut Diaz.

Prestasi Diaz di sekolah memang tidak begitu menonjol sejak masuk di TK Angkasa, begitu juga saat duduk di bangku SD Integral Lukmanul Hakim. Kini, Diaz tercatat sebagai siswa kelas IX di SMPN 8 Mataram, prestasi akademiknya pun biasa-biasa saja.

Namun jangan ragukan prestasi Diaz ketika memegang motor. Berbagai kejuaraan nasional telah diikutinya diusia yang kini berjalan 15 tahun. Kehebatannya dalam mengendarai motor, terbukti ketika mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Motoprix Region III beberapa waktu lalu. “Saya baru setahun di Motoprix, syukur bisa dapat juara 1 untuk MP4 dan juara 3 pada MP3-nya,” terang Diaz.

Berasal dari keluarga tidak kaya bagi Diaz bukan berarti tidak berhak memiliki mimpi menjadi pembalap motor dunia. Keyakinannya itu mendapat jawaban baik dari Tuhan. Diaz dilirik oleh Tim Semoga Abadi Reptil Lombok pimpinan Chafid Putra. Tim itulah yang memberikan dukungan dan membantu masalah pendanaan selama ini.

Perkenalan Diaz dengan dunia motor berawal dari ayahnya yang memiliki trail. Meskipun tidak ada satupun keluarganya yang menjadi pembalap, Diaz sangat senang bermain mobil-mobilan. Ayahnya, yang melihat itu kemudian memberikan ruang untuk Diaz mencoba motor cross 50 cc pada usia 5,5 tahun.

Menjadi siswa SMP 8 Mataram semakin menguatkan langkah Diaz menggapai mimpinya. Pihak sekolah sangat pengertian dan memberikan kesempatan kepada siswanya dalam mengembangkan bakat. “Pihak sekolah sangat berperan, selalu memberikan saya izin ketika ada kejuaraan-kejuaraan,” katanya.

Sementara itu, ayah Diaz Imam Hanafi saat ditemui Radar Lombok mengaku mendukung penuh anaknya totalitas di dunia balap. Itu adalah pilihan hidup anaknya yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. “Saya dulu sempat stress mikirin biayanya, makanya saya suruh dia berhenti. Tapi tidak  mau, mungkin memang itu tempatnya bahagia,” ucap Imam Hanafi.

Sebagai orangtua, hal yang wajar ada rasa khawatir ketika sang anak berlaga di sirkuit. Namun kecintaannya pada Diaz mengharuskan Imam Hanafi melawan kekhawatiran itu. “Usianya masih 15 tahun, Diaz memang sangat sering kesana-kemari tanpa saya. Tapi mau gimana lagi, sebagai orangtua saya sangat bangga, apalagi di wakili NTB. Tapi di sisi lain benar-benar khawatir,” ujarnya.(*)