BI NTB Gandeng Disperin Bentuk Percontohan IKM Produk Olahan Kelapa

Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Winda Putri Listya bersama Kepala Disperin NTB Nuryantii dan pelaku IKM olahan produk kelapa di Pulau Lombok melakukan pertemuan.

MATARAM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB melirik potensi tanaman kelapa di sejumlah daerah di Pulau Lombok yang bisa diolah menjadi produk olahan unggulan daerah. Bahkan BI Provinsi NTB mengundang praktisi olahan produk kelapa, yakni Syaukani yang langung melakukan pengamatan dan evaluasi proses atau alur kerja olahan kelapa.

“Untuk meningkatkan mutu, kualitas dan produktivitas olahan kelapa di NTB, maka kami menghadirkan praktisi olahan kelapa,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Winda Putri Listya di sela-sela menemui IKM olahan produk kelapa bersama Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Nuryanti, kemarin.

Winda mengatakan bahwa potensi tanaman kelapa yang besar di Provinsi NTB telah menjadi atensi Bank Indonesia hingga pemerintah untuk menjadi produk olahan unggulan di NTB. Tanaman kelapa yang ada di NTB masih merupakan kebun rakyat, maka harus diterapkan metode pengolahan yang sesuai dengan sistem kebun rakyat.

Baca Juga :  BI NTB Bantu UMKM Produk Pangan Miliki Sertifikat Halal

Oleh karena itu, kata Winda, dalam rangka meningkatkan mutu, kualitas dan produktivitas olahan kelapa, BI NTB mengundang praktisi olahan kelapa, Syaukani yang melakukan pengamatan dan evaluasi proses/alur kerja olahan kelapa. Di mana selama 6 hari kunjungan, dua IKM yang didatangi adalah IKM Nadimu di Tirtanadi, Korleko, Lombok Timur dan IKM Al Amin di Pemenang, Lombok Utara.

Dari hasil kunjungan ditemukan beberapa hal yang mempengaruhi harga minyak kelapa dan VCO yang dihasilkan oleh IKM antara lain panjangnya rantai proses yang dilewati sehingga menyebabkan tingginya ongkos produksi. Selain itu teknis pemarutan, pemerasan dan pengemulsi yang kurang tepat juga menyebabkan rendahnya masa simpan minyak kelapa dan VCO. Selanjutnya penggunaan bahan pengemulsi untuk menarik massa minyak/VCO juga perlu diperhatikan agar produksi menjadi maksimal.

“Beberapa teknologi sederhana telah ditransfer oleh pak Syaukani dengan prinsip tidak membebani pelaku usaha, dan mudah dipelajari,” ujar Winda.

Baca Juga :  BI NTB Ajak Pelajar dan Guru Cinta Bangga Paham Rupiah

Sementara itu, Kepala Disperin NTB Nuryanti menjelaskan bahwa dari sisi quality control harus diperhatikan terutama saat kemasan. Jangan lagi menggunakan jerigen kemasan minyak lain untuk menampung hasil minyak kelapa, karena dapat memengaruhi mutu minyak yang dihasilkan oleh IKM. Mutu kelapa di NTB bagus dengan rendemen 67% dan hal ini merupakan kekuatan NTB untuk bersaing di pasar global terutama produk olahan kelapa. Sinergi antara Pemprov NTB bersama Bank Indonesia dan pihak terkait lainya diharapkan dapat mengangkat potensi olahan kelapa di NTB.

“Disperin telah menginisiasi pengolahan kelapa menjadi minyak dan dikembangkan menjadi VCO, sejak tahun 2019. Selain itu rintisan untuk pengolahan turunan kelapa seperti menjadi briket, arang aktif, dan asap cair telah dimulai dengan pemberian bantuan alat pirolisis kepada petani,” kata Nuryanti. (luk)

Komentar Anda