Berawal dari Persiapan Pernikahan Mereka yang Berantakan

Berawal dari Persiapan Pernikahan
BERPOSE: Deni Fathul Aziz dan Komala Dewi, pasutri yang menyediakan jasa usaha weedding organizer berpose di latar hasil karyanya.( DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

CERITA DENI DAN MALA, PASUTRI YANG MENGELUTI USAHA JASA WO DENGAN MEMBERDAYAKAN PEMULUNG

Banyak alasan dan latar belakang seseorang menggeluti dunia kerja mereka. Seperti yang dilakoni Deni dan Mala misalnya. Pasutri ini mampu menjalankan usahanya setelah belajar dari pengalaman pribadi mereka.

DENI Fathul Aziz dan Komala Dewi bisa dibilang sukses menjalankan dunia usahanya. Bagaimana tidak, pasangan suami istri (pasutri) ini telah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitarnya. Meski jumlahnya tak banyak, tapi Deni dan Mala telah mampu merubah profesi empat orang pemulung menjadi pekerja jasa weedding organizer atau perencanaan pernikahan yang digelutinya.

Awal mula usaha WO pasutri ini tak lain karena pengalaman pribadinya. Yaitu sejak tahun 2015 lalu, Deni bekerja di salah satu WO di kota Mataram. WO dilakoni Deni bersama teman-teman kuliahnya. Namun, tidak berjalan dengan baik sehingga pada 2016 dan 2017 lalu, keduanya memutuskan untuk membuat usaha WO sendiri. ‘’Motivasi awal usaha WO itu pertama karena awal pernikahan kita berdua yang berantakan,’’ tutur Komala Dewi kepada Radar Lombok, kemarin.

Dari pengalaman itu, Mala sapaan akrabnya bersama suaminya kemudian berinisiatif membuat usaha WO sendiri. Dengan harapan, bisa membantu pernikahan kliennya lebih baik meski tak sempurna. Di samping itu, Mala dan Deni juga termotivasi warga di lingkungan sekitarnya.

Di mana warga setempat banyak yang berprofesi sebagai pemulung. Penghasilan mereka dengan mencari sampah berharga pun tak seberapa. Mengingat para pemulung ini harus menjual sampah berharganya dengan nominal harga yang tak seberapa. Sementara kebutuhan ekonomi keluarga terus mendesak.

Berangkat dari kondisi sosial lingkungan itu juga, Mala dan Deni kemudian memantapkan hati dan langkah membangun usaha jasa WO. Awalnya, mereka pun mempekerjakan satu orang pemulung. Pasutri itu melatih pemulung ini agar bisa mendekorasi, menghias hingga pemilihan desain tempat pengantin. ‘’Awalnya cuma satu, sekarang sudah empat orang kami pekerjakan,’’ tambah Mala.

Ke depan, Mala dan Deni berharap bisa mempekerjakan lebih banyak lagi pemulung. Meski usaha itu tak mudah karena masih banyak kendala, namun ia tetap berharap agar usahanya bisa lebih berkembang lagi. Dengan demikian, maka tenaga kerja yang dibutuhkan akan lebih banyak lagi.

Mala juga bercerita, usaha ini membutuhkan kerja keras. Karena kendala tak hanya soal komunikasi dengan partner kerja, tapi juga lingkungan sekitar. Karena kerap mereka mendapatkan celaan dari banyak orang-orang. “Saya termotivasi dengan kata salah seorang pengusaha yang bilang jangan berdiam di satu tempat, terus maju karena waktu tidak bisa diputar kembali. Dan jadilah orang yang berguna untuk orang lain,” Mala menguti kata bijak pengusaha itu.

Dari banyaknya motivasi-motivasi tersebut yang membuatnya tidak gentar untuk bisa maju. Karena memang, ia dan sang suami ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain, terutama dengan menyediakan lapangan pekerjaan. “Selain itu, kita juga ingi melihat hidupnya pemulung di sayang-sayang ini bisa lebih sejahterah. Makanya kami coba sediakan lapangan pekerjaan,” tuturnya.

Sementara itu, bisnis WO kian populer di NTB. Hal ini, tidak terlepas dari gaya hidup masyarakat modern yang tak ingin dibuat ribet. Dalam mempersiapkan acara besar, seperti pernikahan, lamaran, bahkan perayaan ulang tahun.

Tingginya peluang bisnis itu pun dirasakan langsung oleh keduanya. Di mana usahanya yang baru berjalan tiga tahun itu kini kebanjiran pelanggan. Baik muda-mudi yang ingin mempersiapkan acara lamaran hingga acara pernikahan berkonsep modern dan tradisional. “Alhamdulillah, usaha WO yang kita berdua dirikan berkembang pesat sejak tiga tahun belakangan,” katanya.

Selain berkembang pesat, WO pasutri tersebut pun menyajikan paket wedding yang beragam. Tentunya akan memanjakan para pelanggan walaupun dengan dana minim. “Untuk pemesanan paket wedding dapat melalui aplikasi dan website. Nantinya para calon klien bisa langsung memilih paket wedding yang tepat dengan mudah dan cepat,” terangnya.

Dengan varian aplikasi dan website, WO Nikahyuk Organizer yakin mampu bersaing dengan usaha wedding lainnya yang ada di NTB. Melalui konsep wedding organizer online, Nikahyuk Organizer optimis bisa menggaet para customer. Mengingat, kini tekonologi kian berkembang, sehingga sangat memungkinkan untuk menjajakan bisnis melalui online.

Untuk segi harga, Nikahyuk Organizer menawarkan varian harga yang cukup murah meriah, kepada calon kliennya. Di antaranya ada paket silver dan platinum. Paket silver dengan 300 undangan ini dimulai dari harga Rp 15 juta untuk paket nikah rumahan, dan paket nikah gedung dengan Rp 19 juta. “Itu sudah satu paket dengan MUA, wardrobe, terop, dekorasi, hingga dokumentasi acara. Sementara itu, untuk paket platinum dengan 500 undangan dimulai dari Rp 21 juta hingga Rp 25 juta dengan paket mewah lainnya,” tutupnya. (**)